Wednesday, August 29, 2012

Catch the Shadow PART3


PART 3

Pagi ini, aku datang ke markas dengan suasana hati yang berantakan. Aku masih tak habis pikir, bagaimana Mark yang selama ini aku kenal ternyata adalah Shadow, seorang pencuri yang sedang aku kejar?! Aku, Shane, Nicky, Brian, dan Kian menghadiri meeting bersama komisaris Hudson untuk merencanakan penangkapan Shadow. Walaupun aku ada dalam meeting, tapi aku tidak bisa berpikir sama sekali. Pikiranku masih melayang memikirkan Mark.

“Bagaimana Opsir Filan?? Kau setuju??” suara Komisaris Hudson mengembalikan pikiranku.

“Eh?!” hanya itu kata – kata yang bisa aku keluarkan.

“Iya, kamu setuju menyamar menjadi tamu undangan??” aku masih bingung dengan pertanyaan Shane.

“Ckckck… pasti dia masih bingung memilih antara Detective Nicholas Byrne atau seseorang bernama Mark.” What?! Brian meledekku didepan Komisaris Hudson?!

“EHM… Opsir Mcfadden!!”

Brian langsung terdiam mendengar teguran dari Komisaris Hudson. Aku melihat Nicky menatap Brian dengan tajam. Aku bisa mengartikan tatapan Nicky sebagai “What are you doing Brian?!”. Sekilas aku juga melihat pipi Nicky yang memerah.

“Jadi begini Opsir Filan, nanti malam kamu menyamar sebagai tamu undangan di Bank of England untuk mengawasi gerak – gerik tamu yang lain. Siapa tahu saja Shadow menyamar sebagai undangan.” Kian menjelaskan kepadaku.

“Kenapa harus aku??” aku bingung dengan semua ini.

“Karena kamu adalah orang baru di divisi kriminal. Karena mungkin saja Shadow itu adalah penjahat yang sudah kami tangkap dan sudah pasti dia akan langsung mengenali kami.” Shane menjelaskan.

Kalian salah!! Shadow mengenalku!! Bahkan dia lebih mengenalku daripada Shane!! Karena dia itu MARK!!

“Lalu kenapa bukan Brian?? Eh, maksudku Opsir Mcfadden.”
“Dengan keadaan kaki Opsir Mcfadden yang belum pulih, akan sulit baginya mengejar Shadow.” Nicky menjelaskan padaku dengan kata – kata yang halus.

Kenapa hidupku harus membingungkan?! Kenapa aku tidak bisa memilih Nicky tapi malah memilih Mark yang ternyata adalah SHADOW?!

“Lagipula, hanya kamu yang pernah bertemu langsung dengannya. Siapa tahu saja kamu bisa mengenali gerak – geriknya.” Tambah Shane.

Tentu saja aku dapat dengan mudah mengenalinya. Aku bahkan sangat menenali suara dan matanya.

“Ditambah lagi, kamu adalah anggota paling cantik di divisi kriminal, siapa tahu saja Shadow tertarik padamu dan langsung menyerahkan diri!! Hahaha…” aku tidak tahu apa sarapan Brian hari ini, tetapi sepertinya dia keracunan makanan karena kata – katanya aneh sekali.

Yang mereka tidak tahu adalah aku yang tergila – gila pada orang yang berada dibalik topeng Shadow sebelum aku mengetahui identitas rahasianya.

“Tenang saja, mereka juga akan menyamar. Hanya saja bukan sebagai tamu.” Komisaris Hudson sepertinya melihat kegelisahan diwajahku.

Aku memang gelisah. Tapi karena aku sudah tahu siapa Shadow sebenarnya.


Pada akhirnya aku pergi ke Bank of England sebagai tamu undangan. Aku mengenakan gaun berwarna merah. Gaun yang dipilihkan Nicky. Harus ku akui, selera fashion Nicky lebih baik dari kakakku dan kedua temanku yang aneh itu. Shane mengantarkan ku ke salon. Sedangkan yang lainnya langsung pergi ke Bank of England. Sepanjang perjalanan kami hanya diam.

“Irene, apa yang terjadi padamu??” Shane memecahkan keheningan di mobil.

“Eh… maksudmu??” Aku sudah tahu apa maksud kakakku itu.

“Tidak biasanya kamu melamun saat meeting. Apa yang terjadi antara kamu dan Mark kemarin??”

Bagaimana dia bisa tahu semua ini ada hubunganya dengan Mark?!

“Jangan menyampurkan urusan pribadiku dengan pekerjaan.” Jawabku datar.

“Bagaimanapun aku ini kakakmu. Apa Mark menyakitimu?? Aku akan menghajarnya kalau memang dia melakukan sesuatu.”

Aku hanya diam.

“Seharusnya kamu memilih Nicky.”

Aku juga berpikir seperti itu. Tapi hatiku berkata lain.


Akhirnya kami tiba di Bank of England. Semua tamu, pelayan, dan pengisi acara memakai topeng. Karena acara penyerahan lukisan dibuat dengan tema pesta topeng. Tempat yang sempurna untuk Shadow menyamar. Nicky, Kian, Shane, dan Brian juga sudah menyamar. Shane menyamar sebagai vokalis band (sepertinya dia lebih menyukai penyamarannya). Sedangkan Nicky, Kian, dan Brian menyamar sebagai pelayan. Ada juga beberapa polisi lain yang berjaga disekitar lukisan Girl with a Pearl Earring” yang diletakan diruangan khusus.

“Wow, kamu cantik sekali Irene!!” Kian memujiku.
“Nicky memang hebat memilihkan gaun untuk Irene!! Lihat dia dari tadi terpukau dengan kecantikan Irene!!” kata Brian sambil menunjuk Nicky. Wajah Nicky langsung memerah.
“Sudah!! Ayo kita bertugas!!” teriak Shane.

Kami pun menempati posisi masing – masing. Shane sudah mulai menyanyikan lagu pertama. Karena dia berada dipanggung, lebih mudah mengawasi setiap tamu dari atas. Kian, Nicky dan Brian sudah mulai mengantarkan makanan kecil ke para tamu sambil mengamati. Aku juga mencari keberadaan Mark atau Shadow.

Shane sudah menyanyikan lima lagu, tetapi belum ada tanda – tanda kehadiran Shadow. Gawat kalau sampai 7 lagu Shadow belum juga datang, dan tidak ada orang yang menggantikan Shane bernyanyi. Alasan Dad melarang Shane menjadi penyanyi bukan karena dia tidak mendukung bakat Shane. Tetapi karena Shane hanya bisa menghapalkan paling banyak 8 lagu. Menurut Dad, bisa gawat kalau nanti Shane menjadi penyanyi terkenal tetapi hanya hapal 8 lagu. Pemain band memainkan intro lagu dengan tempo yang lambat. Beberapa tamu dan pasangannya mulai berdansa.

“May I have your dance young lady??” suara itu adalah suara yang paling kubenci tetapi juga paling kurindukan dalam 24 jam terakhir.

“Sudah ku bilang, kamu lebih cantik tanpa seragam polisi. Tapi akan lebih cantik kalau kau memakai gaun warna putih.”

Malam ini, Mark mengunakan kemeja putih lengkap dengan tuxedo dan jas berwarna hitam. Tentu saja dengan topeng Shadow. Tentu saja dia berani mengunakan topeng Shadow, karena sampai saat ini hanya aku yang tahu bagaimana bentuk topeng Shadow. Tanpa banyak berkata, Mark langsung menarikku dalam pelukannya. Dia menaruh kedua tanganku dilehernya. Dan tangannya sekarang sudah ada di pinggulku.

“Ternyata kamu masih berani datang. Padahal kamu sudah tahu disini banyak polisi yang mengepung.”

“Aku memang Shadow. Tapi, bukan aku yang mengirimkan surat ke kantor polisi. Aku akan membuktikannya padamu. I promise.”

Saat aku membuka mulutku, dia meletakan telunjuknya dibibirku. Dan akupun hanya bisa diam. Mark memelukku. Aku merindukan pelukannya. Pelukan yang selalu bisa membuatku tenang.

“You give me strength, you give me hope, you give me someone to love someone to hold,When I'm in your arms, I need you to know, I've never been,
I've never been this close”

Mark mengikuti lagu yang sedang dinyanyikan Shane dan pemain band yang lainnya. Mark menyanyikan lagu itu ditelingga ku dengan lembutnya.

Tiba – tiba…

DUAAAAAAAAARRRRRR…                                                                                          

Suara ledakan terdengar dari  luar. Lampu didalam ruangan semuanya padam. Mark dengan refleknya langsung memperat pelukannya untuk melindungiku. Dia langsung menarikku keluar dari kerumunan orang ditengah ruangan.

“Tunggu disini sampai keadaan aman.” Perintah Mark.
“Tidak, kamu yang tunggu disini karena aku sudah memborgolmu!” kali ini tanganku lebih cepat dari Mark. Aku berhasil memborgol tangan kanan Mark pada kaki meja. Aku lalu mengambil pistolku yang ditaruh dibawah meja itu. Untung aku menaruh senter juga. Aku melepaskan sepatu high heels ku.

“Irene, lepaskan aku! Aku mau mencari bukti kalau aku tidak bersalah.”
“Aku yang akan mencari bukti apa kamu bersalah atau tidak!!”
“Irene, please trust me!!”

Aku langsung berlari ke ruangan tempat lukisan. Belum sampai tempat lukisan, aku mendengar panggilan di earphoneku.

“This is Egan!! Back up please… Back up please… there is a victim here…”
“Copy that!!”

Aku memeriksa radar. Kian berada di brangkas. Dan aku yang berada paling dekat dengan brangkas. Aku langsung berlari menuju brangkas uang. Sesampainya di brangkas, aku mencari keberadaan Kian. Tetapi dia tidak ada dimana pun. Lalu aku menyorotkan senter ke ujung ruangan. Aku terkejut karena ada laki – laki yang tertembak. Aku langsung berlari mengecek kondisinya. Ternyata dia sudah tewas.

Tiba – tiba ada seseorang dari belakang mencoba membekap mulutku. Gawat, ini obat bius!! Aku mencoba melawan, hanya saja dia terlalu kuat. Itulah hal terakhir yang aku ingat sebelum aku pingsan. 

No comments:

Post a Comment