“Hahaha… kenapa kalian menatapku seperti itu??” Mandy
tertawa. “Oh, iya! Terimakasih kalian sudah mau datang menemaniku. Aku kesepian
disini…” Gadis kecil itu membalas tatapan kelima sahabatnya itu satu – persatu.
Matanya mulai menyusuri wajah si pirang bertubuh besar. Lalu, beralih ke anak
dengan rambut berponi. Berlanjut ke anak dengan rambut coklat dan pipi merah.
Tepat disebelah anak itu, seorang anak berambut pirang memegang bola di
tangannya. Dan yang terakhir, anak berambut coklat dengan tubuh paling kecil
dan satu – satunya yang memiliki mata berwarna hazel.
***
Sepasang mata hazel memandangi langit pinggiran kota Sligo
yang indah. Tubuhnya terbaring diatas hamparan rumput yang luas. Dia menikmati
angin yang berhembus dan menghasilkan suara lembut di telinganya. Sudah dua
puluh tahun berlalu sejak dia berkenalan dengan Mandy. Waktu berjalan sangat
cepat hingga dia tidak menyadari Mandy, dan keempat temannya yang lain sudah
dewasa sekarang.
“Shane!!” Suara yang sangat dikenal Shane itu membuat
semua lamunannya buyar.
“Kian?!” Shane langsung duduk dan melihat kearah Kian.
“Kau masih mengenalku??”
“Tentu saja, poni – mu sama sekali tidak berubah.” Jawab
Shane datar.
Wajah Kian memang tidak banyak mengalami perubahan. Masih
tetap dengan mata biru dan bekas luka di pipinya yang tidak pernah hilang.
Begitu juga dengan potongan poni khas Kian.
“Kau pasti sedang memikirkan Mandy??” Tanya Kian.
“Hm… dimana Mark, Brian, dan Nicky??” Shane menjawab
pertanyaan dengan pertanyaan.
“Itu meraka…” Kian menunjuk kearah dua orang berambut
pirang yang sedang bermain sepak bola.
“Hahaha… Hi, Brian!! Tubuhmu masih saja besar!” Teriak
Shane.
“Dan kamu masih saja kecil! Hahaha…” Balas Brian dari
kejauhan.
“Hei, dimana Mark??” Tanya Kian.
“Huh… kau sudah lupa kebiasaan Mark??” Jawab Nicky sambil
menunjuk kesebuah pohon.
Shane dan Kian berjalan kearah pohon itu. Nicky dan Brian
juga mengikuti langkah kedua sahabatnya. Perlahan mereka melihat kebalik pohon
besar itu. Dan ternyata Mark sedang terlelap disana.
“1… 2… 3…” Nicky
berbisik memberikan aba – aba.
“Mark… ada ayam di kepalamu!!” teriak mereka berempat
serempak.
“Hah, mana?? Mana??” Mark langsung terkejut. Dia panik. Dia
berlari – lari mengelilingi pohon itu untuk menghindari ‘ayam’.
“hahahaha…” Kian, Shane, Nicky, dan Brian tertawa
terbahak – bahak melihat Mark yang panik.
“Heh!!” Mark menghentikan putarannya begitu menyadari
kalau keempat karibnya sedang tertawa terbahak – bahak. “Kita ini sudah dewasa
sekarang. Bertingkahlah seperti orang dewasa.”
“Sudahlah, seharusnya pertemuan kita ini tidak diwarnai
dengan keributan kecil seperti ini.”
“Ki, jangan sok bijak! Kau juga ikut serta tadi.” Mark
sepertinya masih kesal karena kesenangannya di alam mimpi terganggu oleh teman
– temannya.
“Ini seperti dulu. Saat kita bermain petak umpet bersama
Mandy.” Kenang Brian.
***
“1... 2… 3…” Mandy menutup matanya.
Mark, Brian, Shane, Kian dan Nicky berlarian mencari tempat
persembunyian masing – masing.
“9… 10… siap atau tidak aku datang!” Mandy mulai mencari
kelima anak itu satu – persatu. “Brian, semak – semak itu terlalu kecil untuk
menyembunyikanmu!” Mandy berteriak begitu menemukan Brian. “Nicky, aku bisa
melihat bola milikmu. Kamu pasti dibalik pohon itu.” Kemudian Nicky. Dan
berikutnya Kian dan Shane juga ditemukan. Namun, setelah beberapa lama, mereka
belum berhasil menemukan Mark. “Mark… dimana dirimu??”
Kelima anak itu berutar – putar mencari Mark. Mereka sudah
mulai kelelahan.
“Sttt… aku mendengar sesuatu!” Mandy lalu mengikuti arah
suara aneh yang berasal dari balik pohon itu. Dan ternyata benar dugaannya,
Mark sedang tertidur dibalik pohon. “1… 2… 3… Mark!! Ada ayam dikepala-mu!!”
***
“Aku merindukan Mandy…” Kata Nicky.
“Aku juga…” Mark dan Kian kompak mengangguk.
“Bagaimana denganmu, Shane??” Tanya Brian.
“Sangat…”
Kelima pria dewasa itu
menghembuskan nafas bersama. Mereka
sangat merindukan Mandy. Seorang gadis kecil yang selalu ceria. Sahabat mereka.
“Hei, bagaimana kalau kita mencari kotak rahasia Mandy
yang terkubur itu??” Perkataan Kian mengagetkan mereka semua.
“Maksudmu, kotak harta karun itu??” Mark terlihat bingung
dengan apa yang Kian Maksud.
Kian menjawab pertanyaan Mark dengan anggukan pasti.
“Kalian masih ingat tempat Mandy menguburnya??”
Pertanyaan Nicky itu dijwaban dengan empat kepala yang mengangguk serempak.
“Baik, ayo kita mulai mencari!” Kian langsung membuat
komando.
***
Mandy, Mark, Brian, Nicky, Shane dan Kian berbaring diatas
hamparan rumput. Angin berhembus dengan lembut. Membuat rambut coklat Mandy
yang tergerai mengikuti gerak angin.
“Hah… aku tidak mau melupakan saat – saat ini…” gumam
Mandy. “hei, aku punya ide! Aku akan membuat sebuah kotak harta karun. Lalu,
aku akan menguburnya. Dan saat aku dewasa nanti, aku akan membukanya. Dengan
begitu, aku tidak akan pernah melupakan kalian.” Mandy terus berbicara
sementara kelima anak laki – laki itu hanya diam menyaksikanya berbicara.
***
Kelima pria itu berjalan memasuki lingkungan hutan. Dari
kejauhan, mereka melihat seorang wanita berambut coklat sebahu. Dia sedang
memangku sebuah kotak kayu. Didepannya, tanah membentuk sebuah lubang bekas
penggalian. Mereka merasa sangat mengenal wanita itu.
“Itu Mandy!!” Teriak mereka serempak. “Mandy!!”
Tetapi, perempuan itu hanya terdiam. Sama sekali tidak
menjawab panggilan Mark, Shane, Kian, Nicky dan Brian.
***
Mandy telah berhasil menutup lubang bekas galiannya. Sedangkan
Mark, Kian, Brian, Shane, dan Kian hanya melihat sahabat mereka itu menggali.
Gadis kecil itu lalu menepuk – nepukan kedua tangannya untuk membersihkan sisa
debu yang menempel.
“Nah, sudah selesai! Dengan begini, aku tidak akan
melupakan kalian walaupun aku tumbuh dewasa kelak. Karena kalian adalah sahabat
terbaikku. Teman yang selalu menemaniku saat aku sedang sendiri.”
***
Mandy terpaku melihat kotak yang saat ini ada
ditangannya. Kotak yang sudah dua puluh tahun terpendam. Menyimpan kenangan
masa kecilnya. Dia membukanya perlahan. Didalamnya, terdapat secarik kertas
dengan goresan krayon diatasnya
membentuk gambar lima orang anak laki – laki. Yang satu berambut pirang dengan
tubuh besar. Disebelahnya adalah anak dengan rambut berponi. Lalu, ada anak
dengan rambut coklat dan pipi merah. Tepat disebelah anak itu, seorang anak
berambut pirang memegang bola di tangannya. Dan yang terakhir, anak berambut
coklat dengan tubuh paling kecil dan satu – satunya yang memiliki mata berwarna
hazel. Seutas senyum bahagia terlukis dibibir Mandy.
“Aku masih mengingat kalian. Brian si besar. Mark, si
pipi merah tukang tidur. Kian, dengan poni-mu itu. Nicky, si pemain bola. Dan
Shane, pemilik mata hazel yang menawan. Aku menepati janjiku. Aku tidak akan
melupakan kalian. Sama seperti kalian yang selalu ada bersamaku saat aku sedang
kesepian. Karena kalian adalah sahabatku. Kalian adalah sahabat imajinasiku…”
THE
END…
No comments:
Post a Comment