Sunday, May 19, 2013

Mandy’s Treasure…




Sore di Sligo. Walaupun saat ini sedang musim panas, tetapi udara Sligo selalu dingin di sepanjang tahun. Ini tidak menyurutkan keinginan seorang gadis kecil dan kelima temannya itu bermain. Sinar jingga membuat pipi Mandy ikut memerah. Lima pasang mata anak laki – laki di depannya terpaku melihatnya. Mereka berlima berusia sebaya dengan Mandy.

“Hahaha… kenapa kalian menatapku seperti itu??” Mandy tertawa. “Oh, iya! Terimakasih kalian sudah mau datang menemaniku. Aku kesepian disini…” Gadis kecil itu membalas tatapan kelima sahabatnya itu satu – persatu. Matanya mulai menyusuri wajah si pirang bertubuh besar. Lalu, beralih ke anak dengan rambut berponi. Berlanjut ke anak dengan rambut coklat dan pipi merah. Tepat disebelah anak itu, seorang anak berambut pirang memegang bola di tangannya. Dan yang terakhir, anak berambut coklat dengan tubuh paling kecil dan satu – satunya yang memiliki mata berwarna hazel.

***


Sepasang mata hazel memandangi langit pinggiran kota Sligo yang indah. Tubuhnya terbaring diatas hamparan rumput yang luas. Dia menikmati angin yang berhembus dan menghasilkan suara lembut di telinganya. Sudah dua puluh tahun berlalu sejak dia berkenalan dengan Mandy. Waktu berjalan sangat cepat hingga dia tidak menyadari Mandy, dan keempat temannya yang lain sudah dewasa sekarang.

“Shane!!” Suara yang sangat dikenal Shane itu membuat semua lamunannya buyar.
“Kian?!” Shane langsung duduk dan melihat kearah Kian.
“Kau masih mengenalku??”
“Tentu saja, poni – mu sama sekali tidak berubah.” Jawab Shane datar.

Wajah Kian memang tidak banyak mengalami perubahan. Masih tetap dengan mata biru dan bekas luka di pipinya yang tidak pernah hilang. Begitu juga dengan potongan poni khas Kian.

“Kau pasti sedang memikirkan Mandy??” Tanya Kian.
“Hm… dimana Mark, Brian, dan Nicky??” Shane menjawab pertanyaan dengan pertanyaan.
“Itu meraka…” Kian menunjuk kearah dua orang berambut pirang yang sedang bermain sepak bola.
“Hahaha… Hi, Brian!! Tubuhmu masih saja besar!” Teriak Shane.
“Dan kamu masih saja kecil! Hahaha…” Balas Brian dari kejauhan.
“Hei, dimana Mark??” Tanya Kian.
“Huh… kau sudah lupa kebiasaan Mark??” Jawab Nicky sambil menunjuk kesebuah pohon.

Shane dan Kian berjalan kearah pohon itu. Nicky dan Brian juga mengikuti langkah kedua sahabatnya. Perlahan mereka melihat kebalik pohon besar itu. Dan ternyata Mark sedang terlelap disana.

 “1… 2… 3…” Nicky berbisik memberikan aba – aba.
“Mark… ada ayam di kepalamu!!” teriak mereka berempat serempak.
“Hah, mana?? Mana??” Mark langsung terkejut. Dia panik. Dia berlari – lari mengelilingi pohon itu untuk menghindari ‘ayam’.
“hahahaha…” Kian, Shane, Nicky, dan Brian tertawa terbahak – bahak melihat Mark yang panik.
“Heh!!” Mark menghentikan putarannya begitu menyadari kalau keempat karibnya sedang tertawa terbahak – bahak. “Kita ini sudah dewasa sekarang. Bertingkahlah seperti orang dewasa.”
“Sudahlah, seharusnya pertemuan kita ini tidak diwarnai dengan keributan kecil seperti ini.”
“Ki, jangan sok bijak! Kau juga ikut serta tadi.” Mark sepertinya masih kesal karena kesenangannya di alam mimpi terganggu oleh teman – temannya.
“Ini seperti dulu. Saat kita bermain petak umpet bersama Mandy.” Kenang Brian.

***

“1... 2… 3…” Mandy menutup matanya.

Mark, Brian, Shane, Kian dan Nicky berlarian mencari tempat persembunyian masing – masing.

“9… 10… siap atau tidak aku datang!” Mandy mulai mencari kelima anak itu satu – persatu. “Brian, semak – semak itu terlalu kecil untuk menyembunyikanmu!” Mandy berteriak begitu menemukan Brian. “Nicky, aku bisa melihat bola milikmu. Kamu pasti dibalik pohon itu.” Kemudian Nicky. Dan berikutnya Kian dan Shane juga ditemukan. Namun, setelah beberapa lama, mereka belum berhasil menemukan Mark. “Mark… dimana dirimu??”

Kelima anak itu berutar – putar mencari Mark. Mereka sudah mulai kelelahan.

“Sttt… aku mendengar sesuatu!” Mandy lalu mengikuti arah suara aneh yang berasal dari balik pohon itu. Dan ternyata benar dugaannya, Mark sedang tertidur dibalik pohon. “1… 2… 3… Mark!! Ada ayam dikepala-mu!!”

***


“Aku merindukan Mandy…” Kata Nicky.
“Aku juga…” Mark dan Kian kompak mengangguk.
“Bagaimana denganmu, Shane??” Tanya Brian.
“Sangat…”

Kelima pria dewasa itu menghembuskan nafas bersama.  Mereka sangat merindukan Mandy. Seorang gadis kecil yang selalu ceria. Sahabat mereka.

“Hei, bagaimana kalau kita mencari kotak rahasia Mandy yang terkubur itu??” Perkataan Kian mengagetkan mereka semua.
“Maksudmu, kotak harta karun itu??” Mark terlihat bingung dengan apa yang Kian Maksud.

Kian menjawab pertanyaan Mark dengan anggukan pasti.

“Kalian masih ingat tempat Mandy menguburnya??” Pertanyaan Nicky itu dijwaban dengan empat kepala yang mengangguk serempak.
“Baik, ayo kita mulai mencari!” Kian langsung membuat komando.

***

Mandy, Mark, Brian, Nicky, Shane dan Kian berbaring diatas hamparan rumput. Angin berhembus dengan lembut. Membuat rambut coklat Mandy yang tergerai mengikuti gerak angin.

“Hah… aku tidak mau melupakan saat – saat ini…” gumam Mandy. “hei, aku punya ide! Aku akan membuat sebuah kotak harta karun. Lalu, aku akan menguburnya. Dan saat aku dewasa nanti, aku akan membukanya. Dengan begitu, aku tidak akan pernah melupakan kalian.” Mandy terus berbicara sementara kelima anak laki – laki itu hanya diam menyaksikanya berbicara.

***

Kelima pria itu berjalan memasuki lingkungan hutan. Dari kejauhan, mereka melihat seorang wanita berambut coklat sebahu. Dia sedang memangku sebuah kotak kayu. Didepannya, tanah membentuk sebuah lubang bekas penggalian. Mereka merasa sangat mengenal wanita itu.

“Itu Mandy!!” Teriak mereka serempak. “Mandy!!”

Tetapi, perempuan itu hanya terdiam. Sama sekali tidak menjawab panggilan Mark, Shane, Kian, Nicky dan Brian.

***

Mandy telah berhasil menutup lubang bekas galiannya. Sedangkan Mark, Kian, Brian, Shane, dan Kian hanya melihat sahabat mereka itu menggali. Gadis kecil itu lalu menepuk – nepukan kedua tangannya untuk membersihkan sisa debu yang menempel.

“Nah, sudah selesai! Dengan begini, aku tidak akan melupakan kalian walaupun aku tumbuh dewasa kelak. Karena kalian adalah sahabat terbaikku. Teman yang selalu menemaniku saat aku sedang sendiri.”

***

Mandy terpaku melihat kotak yang saat ini ada ditangannya. Kotak yang sudah dua puluh tahun terpendam. Menyimpan kenangan masa kecilnya. Dia membukanya perlahan. Didalamnya, terdapat secarik kertas dengan goresan  krayon diatasnya membentuk gambar lima orang anak laki – laki. Yang satu berambut pirang dengan tubuh besar. Disebelahnya adalah anak dengan rambut berponi. Lalu, ada anak dengan rambut coklat dan pipi merah. Tepat disebelah anak itu, seorang anak berambut pirang memegang bola di tangannya. Dan yang terakhir, anak berambut coklat dengan tubuh paling kecil dan satu – satunya yang memiliki mata berwarna hazel. Seutas senyum bahagia terlukis dibibir Mandy.

“Aku masih mengingat kalian. Brian si besar. Mark, si pipi merah tukang tidur. Kian, dengan poni-mu itu. Nicky, si pemain bola. Dan Shane, pemilik mata hazel yang menawan. Aku menepati janjiku. Aku tidak akan melupakan kalian. Sama seperti kalian yang selalu ada bersamaku saat aku sedang kesepian. Karena kalian adalah sahabatku. Kalian adalah sahabat imajinasiku…”

THE END…

No comments:

Post a Comment