Monday, August 20, 2012

Boyband vs. Bandboy PART. 6


PART. 6
DAPUR DAN RUANG MAKAN
Kian sedang membaca Koran di meja makan,. Sesekali ia menyeruput secangkir kopi didepannya.
“Nikmatnya bangun pagi…” gumam Kian.
Tak lama, Jay masuk ke ruang makan. Kian menatap Jay dengan tatapan yang tajam. Jay mengacuhkan Kian dan berjalan menuju kulkas. Ia lalu mengambil ke kotak susu coklat ukuran 1 liter. Jay langsung meminum susu dari kotaknya sampai habis. Ia lalu mengembalikan kotak susu yang telah kosong itu ke dalam kulkas. Dari kejauhan terdengar suara Cory sedang menelpon seseorang. Suara Cory semakin jelas ketika dia masuk.
“I… ya… Lea sayang. Aku lupa kemarin ngabarin kamu… ta… ta…”
Jay melihat kearah Cory. Cory melintangkan jari telunjuknya dileher sambil menampakan ekspresi takut. Kian mengintip Cory dan Jay dari balik Koran. Nicky masuk ke ruang makan lalu mengambil sebotol air mineral di kulkas. Ia lalu duduk disebelah Kian. Dan mereka pun memulai pembicaraan dengan mengunakan bahasa tubuh.
“Kenapa itu si Orcha??” Tanya Nicky.
“Ga tau, tapi yang jelas lagi berantem sama orang ditelpon tapi daritadi dia ga dikasih kesempatan ngomong” jawab Kian.
“Itu bukan berantem, tapi diomelin!!”
Tiba – tiba…
“Eh, lu berdua lagi ngomongin gue ya?!” Tanya Cory pada Kian dan Nicky.
“Engga, geer banget lu jadi orang!!” jawab Kian dan Nicky kompak.
Belum sempat Cory membalas kata – kata Nicky dan Kian, dari handphone Cory terdengar teriakan Lea…
“CORY!!! KAMU LAGI NGOMONG SAMA SIAPA SIH?!?!?! AKU BELUM SELESAI NGOMONG TAU!!!”
“Eh, iya! Aku lagi dengerin kamu ngomong kok tenang aja…” kata Cory sambil berlari keluar.
Saat Cory berlari, ternyata Shane sedang berjalan masuk menuju dapur. Dan tabrakan hebat pun tak dapat terhindarkan.
“Hah, Lu lagi!!!!” teriak Shane begitu melihat Cory.
Tetapi, Cory mengacuhkan kata – kata Shane. Ia langsung melankjutkan perjalanannya. Shane berdiri dengan wajah marah. Shane langsung berjalan ke arah kulkas.
“Hai Shane..” sapa Kian.
“Shane, tulang lu ga ada yang remukkan ketabrak Orcha??” Tanya Kian.
Shane menghentikan langkahnya sejenak. Ia lalu menjawab pertanyaan Kian dan Nicky dengan tatapan yang menandakan suasana hatinya sedang emosi.
“Gleek…” Kian dan Nicky menelan air liur mereka.
Shane lalu melanjutkan perjalanannya menuju kulkas. Sementara itu, didepan pintu masuk, Heejun dan Mark berebut masuk ke ruang makan. Alhasil, tubuh mereka tersangkut dipintu.
“Gue duluan!!” teriak Mark.
“Enak aja, kan gue duluan yang mau masuk!!! Dasar Freewilly!!!” balas Heejun.
“Nama gue Feehily bukan Freewilly!! Emang gue Orcha apa?!?! Dasar gendut!!!”
“Eh ngaca dong!! Situ kurus emangnya?!!”
“Eh kita nyangkut itu gara – gara badan lu terlalu lebar!!”
Brian datang lalu berdiri dibelakang Mark dan Heejun  yang sedang tersangkut. Tak lama, Colton datang dengan rambut yang masih basah. Ia lalu berdiri disamping Brian dan ikut mengamati Mark dan Heejun yang sedang tersangkut. Cory yang baru selesai menelpon bingung melihat keadaan Mark dan Heejun yang masih tersangkut. Brian menatap Cory dan Colton bergantian. Cory dan Colton menganguk. Mereka bertiga kemudian  berdiri dibelakang Mark dan Heejun. Dengan kompak mereka mendorong Heejun dan Mark. Mereka berdua berhasil lepas dari pintu. Namun sayangnya, Mark dan Heejun tidak bisa menjaga keseimbangan dan terjatuh. Dan Cory, Colton juga Brian memperburuk keadaan. Mereka bertiga mendarat dengan suksesnya diatas tubuh Mark dan Heejun. Kian, Nicky dan Jay yang melihat kejadian ini dari dalam langsung tertawa terbahak – bahak. Sementara itu, Shane memasukan kepalanya kedalam kulkas seperti mencari sesuatu. Brian langsung berdiri lalu mengalihkan perhatian yang lain dengan menghampiri Shane.
“Shane, lu lagi cari apa sih??” Tanya Brian.
“Gue lagi nyari susu coklat punya gue. Semalam masih ada, tapi sekarang tinggal kotaknya doang?!” kata Shane bingung.
 “Masa bisa ilang??” Tanya Brian bingung.
“Itu, si poni bego yang minum satu kotak!!” teriak Kian.
“Heh, sembarangan lu, gue dibilang poni bego!! Kayak lu ga punya poni aja?!?!” teriak Jay.
“Oh jadi lu yang udah minum susu punya gue?!?! Dasar Bantet!!” teriak Shane.
“Enak aja panggil gue bantet, kayak lu tinggi aja!! Bukannya lu kemarin udah dikasih jatah 2 liter?!” balas Jay.
“Itukan kan jatah sehari gue!! Dalam sehari gue harus minum 2 liter susu!! Dasar hobbit!!” teriak Shane.
“Hobbit lagi, eh ngaca lu Shorty!!”
“Heh, sembarangan aja lu manggil gue Shorty, Hobbit!!”
“Shorty!!!”
“Hobbit!!”
“ckckck… dua member terpendek dari masing – masing grup berantem rebutan susu.” Kata Cory
“Makanya gue ga percaya khasiat susu untuk meninggikan badan.” Tambah Brian.
“Hehehehe… Shane lagi ngamuk… update twitter dulu ah…” gumam Nicky.
“Colton, itu rambut lu tumben banget basah pagi – pagi??” Tanya Heejun.
“Itu tuh, poni batok nuker wax gue sama minyak rem!!” jawab Colton.
Kian dengan wajah tanpa dosa mengalihkan pandangannya sehingga Colton makin emosi dan melemparnya dengan sepatu yang dipakainya. Sepatu itu pun mendarat persis di kepala Kian.
Plaaaaaaaakkkk…
“Eh, lu gila ya?! Ngapain sepatu butut gini lu lempar ke gue?!” Kian kesal.
“Lu sendiri kenapa nuker wax gue sama minyak rem?!” balas Colton.
Pertengkaran Kian dan Colton menambah ribut suasana didapur pagi itu. Mark terdiam memikirkan sesuatu.
“Daripada gue ngelihat mereka rusuh mending gue nyari Jade.” Pikir Mark.
Mark pun meninggalkan ruangan itu. Heejun kebingungan mencari Phillip. Ia memutuskan bertanya pada Cory yang sedang asik bersama Brian  menonton keributan Shane vs. Jay.
“Cory, lu tau ga PP dimana??” Tanya Heejun.
“Kenapa lu Tanya gue?? Itu ada Brian yang satu kamar sama dia!” jawab Cory.
“Eh, Ogre! Temen gue kemana?! Lu telen lagi jangan – jangan?!” Tanya Heejun pada Brian.
“Emang gue kanibal apa?! Main makan orang?! Kalo pun gue kanibal juga milih – milih, masa Phillip yang kurus gitu gue makan!!” Brian sewot.
“Terus PP kemana?!” Tanya Heejun sewot.
“Sakit dia, kayaknya masuk angin. Tadi kentut bau banget.” Jawab Brian datar.
“Hm… daripada gue disini, mending gue nengok PP.” pikir Heejun.
Heejun pun pergi dari ruangan itu.
DEPAN KAMAR JADE
Mark datang dengan membawa gitar. Dia berdiri tepat didepan pintu kamar Jade. Mark lalu memainkan beberapa kunci gitar. Tak beberapa lama ia pun mulai bernyanyi. I’ll be your dreams, I’ll be your wish, I’ll be your fantasy. I’ll be your hope,l’ll be your love, be everything that you need… . Belum lama Mark bernyanyi, pintu kamar terbuka. Jade keluar dari kamarnya dan langsung memeluk Mark. Wajah Mark langsung memerah.
WAIT… ternyata itu semua Cuma ada dipikiran Mark.
“Hehehe… siapa sih yang bisa nolak pesona gue??”
Mark lalu mulai bernyanyi. Kali ini dalam kenyataan.
I’ll be your dreams, I’ll be your wish, I’ll be your fantasy. I’ll be your hope,l’ll be your love, be everything that you need… dan seterusnya. Tapi, Jade belum juga keluar dari kamar. Mark mengeraskan suaranya. Tetapi, Jade tidak juga keluar. Yang terbuka malah pintu kamar sebelah. Ryan mengeluarkan kepalanya melihat keributan yang dibuat oleh Mark didepan kamar Jade.
“Mark, nyanti buat siapa lu??” Tanya Ryan.
“Ya buat Jade lah, ga mungkin buat lu! masalah buat lu??” jawab Mark.
“Yang jadi masalah, Jade itu daritadi udah keluar dari kamar!!” jelas Ryan.
“WHAT?? Kenapa ga bilang daritadi?!” kata Mark kaget.
“Lu ga nanya…” jawab Ryan datar.
Tanpa banyak basa – basi, Mark langsung pergi meninggalkan Ryan.
“MAKASIH!!!” teriak Ryan.
Ryan pun kembali masuk ke kamarnya.

KAMAR BRIAN DAN PHILLIP
Heejun perlahan membuka pintu kamar Phillip. Ruangan itu begitu sepi, karena Phillip sedang tertidur. Heejun pun berjalan perlahan. Saat Heejun sampai di dekat tempat tidur Phillip,
“Ckckck… kasian PP!! fans the Skippers harus tau nih kalo PP sakit…” pikir Heejun.
Heejun termenung. Kemudian ia mendapat sebuah ide. Heejun berlari ke kamar mandi. Entah apa yang dia ambil.

BALKON
Jade sedang sibuk mengetik tugas skripsinya di laptop. Secangkir cappucinno disebelah laptopnya, dibiarkan dari panas sampai dingin. Heeseung duduk didepan Jade memperhatikannya sambil sesekali menyeruput kopi dicangkirnya.
“Arghhh…!!!” teriak Jade sambil menarik rambutnya.
“Hahaha… kenapa?? Stress ya??” Tanya Heeseung.
“Iya nih Aiden oppa. Tiba – tiba stuck!!” jawab Jade.
“Makanya tenang, itu cappucinno dari panas sampai dingin di diemin. Minum dulu lah…” kata Heeseung.
“Oh iya, sampai lupa!!” kata Jade sambil mengambil cangkirnya.
“WHAT?! Cicak ga sopan!! Cappucinno belum sempat gue minum udah nyemplung duluan!!” teriak Jade.
“Hahahaha… tuh kan, keduluan cicak!!” Heeseung tertawa melihat cangkir Jade berisi cicak yang sedang berenang di Cappucinno.
“Huft… terpaksa bikin lagi…” hela Jade.
“Udah aku aja Jade yang bikin lagi. Kopi ku juga udah abis.” Kata Heeseung.
“Hah… yang bener oppa?!”
“Iya, ga papa. Biar kamu lanjutin ngetika lagi.”
Saat Jade memberikan cangkirnya pada Heeseung, Mark yang sedang mencari Jade, langsung marah melihat kejadian itu. Ia langsung mendatangi Heeseung dan merebut cangkir Jade dari tangan Heeseung.
“Heh!! Apa – apaan lu minum dari cangkir Jade?! Sini biar buat gue aja!!” teriak Mark sambil merebut cangkir Jade.
“Tapi Mark, itu…” kata Heeseung.
“Udah oppa biarin aja, ikutin aja apa kata dia!!” kata Jade.
Heeseung pun melepas cangkir itu. Mark langsung meminum isi cangkir itu tanpa melihatnya.
“Tapi Mark, cangkir itu ada cicaknya!!” kata Heeseung.
Mark dengan wajah tidak percaya melihat isi cangkir itu. Dan ia pun langsung berteriak.
“CICAAAAAAAAAAKKKKK…”
Mark langsung membuang isi cangkir ke bawah balkon.
“Aaaaaa…” teriak seseorang dibawah.
Mendengar suara teriakan, Mark langsung melihat kebawah. Ternyata itu adalah teriakan Karen yang terkena cappucinno yang dibuang Mark.
“Aaaaa… ada cicaknya lagi!!! Mark… ini pasti kerjaan lu!!! awas lu entar!!!!” teriak Karen emosi.
Wajah Mark seketika berubah menjadi wajah ketakutan. Sedangkan Jade dan Heeseung tertawa melihat wajah Mark yang sedang panik.

No comments:

Post a Comment