PART. 6
DAPUR DAN RUANG MAKAN
Kian
sedang membaca Koran di meja makan,. Sesekali ia menyeruput secangkir kopi
didepannya.
“Nikmatnya
bangun pagi…” gumam Kian.
Tak
lama, Jay masuk ke ruang makan. Kian menatap Jay dengan tatapan yang tajam. Jay
mengacuhkan Kian dan berjalan menuju kulkas. Ia lalu mengambil ke kotak susu
coklat ukuran 1 liter. Jay langsung meminum susu dari kotaknya sampai habis. Ia
lalu mengembalikan kotak susu yang telah kosong itu ke dalam kulkas. Dari
kejauhan terdengar suara Cory sedang menelpon seseorang. Suara Cory semakin
jelas ketika dia masuk.
“I…
ya… Lea sayang. Aku lupa kemarin ngabarin kamu… ta… ta…”
Jay
melihat kearah Cory. Cory melintangkan jari telunjuknya dileher sambil
menampakan ekspresi takut. Kian mengintip Cory dan Jay dari balik Koran. Nicky
masuk ke ruang makan lalu mengambil sebotol air mineral di kulkas. Ia lalu
duduk disebelah Kian. Dan mereka pun memulai pembicaraan dengan mengunakan
bahasa tubuh.
“Kenapa
itu si Orcha??” Tanya Nicky.
“Ga
tau, tapi yang jelas lagi berantem sama orang ditelpon tapi daritadi dia ga
dikasih kesempatan ngomong” jawab Kian.
“Itu
bukan berantem, tapi diomelin!!”
Tiba
– tiba…
“Eh,
lu berdua lagi ngomongin gue ya?!” Tanya Cory pada Kian dan Nicky.
“Engga,
geer banget lu jadi orang!!” jawab Kian dan Nicky kompak.
Belum
sempat Cory membalas kata – kata Nicky dan Kian, dari handphone Cory terdengar
teriakan Lea…
“CORY!!!
KAMU LAGI NGOMONG SAMA SIAPA SIH?!?!?! AKU BELUM SELESAI NGOMONG TAU!!!”
“Eh,
iya! Aku lagi dengerin kamu ngomong kok tenang aja…” kata Cory sambil berlari
keluar.
Saat
Cory berlari, ternyata Shane sedang berjalan masuk menuju dapur. Dan tabrakan
hebat pun tak dapat terhindarkan.
“Hah,
Lu lagi!!!!” teriak Shane begitu melihat Cory.
Tetapi,
Cory mengacuhkan kata – kata Shane. Ia langsung melankjutkan perjalanannya.
Shane berdiri dengan wajah marah. Shane langsung berjalan ke arah kulkas.
“Hai
Shane..” sapa Kian.
“Shane,
tulang lu ga ada yang remukkan ketabrak Orcha??” Tanya Kian.
Shane
menghentikan langkahnya sejenak. Ia lalu menjawab pertanyaan Kian dan Nicky
dengan tatapan yang menandakan suasana hatinya sedang emosi.
“Gleek…”
Kian dan Nicky menelan air liur mereka.
Shane
lalu melanjutkan perjalanannya menuju kulkas. Sementara itu, didepan pintu
masuk, Heejun dan Mark berebut masuk ke ruang makan. Alhasil, tubuh mereka
tersangkut dipintu.
“Gue
duluan!!” teriak Mark.
“Enak
aja, kan gue duluan yang mau masuk!!! Dasar Freewilly!!!” balas Heejun.
“Nama
gue Feehily bukan Freewilly!! Emang gue Orcha apa?!?! Dasar gendut!!!”
“Eh
ngaca dong!! Situ kurus emangnya?!!”
“Eh
kita nyangkut itu gara – gara badan lu terlalu lebar!!”
Brian
datang lalu berdiri dibelakang Mark dan Heejun
yang sedang tersangkut. Tak lama, Colton datang dengan rambut yang masih
basah. Ia lalu berdiri disamping Brian dan ikut mengamati Mark dan Heejun yang
sedang tersangkut. Cory yang baru selesai menelpon bingung melihat keadaan Mark
dan Heejun yang masih tersangkut. Brian menatap Cory dan Colton bergantian.
Cory dan Colton menganguk. Mereka bertiga kemudian berdiri dibelakang Mark dan Heejun. Dengan
kompak mereka mendorong Heejun dan Mark. Mereka berdua berhasil lepas dari
pintu. Namun sayangnya, Mark dan Heejun tidak bisa menjaga keseimbangan dan
terjatuh. Dan Cory, Colton juga Brian memperburuk keadaan. Mereka bertiga
mendarat dengan suksesnya diatas tubuh Mark dan Heejun. Kian, Nicky dan Jay
yang melihat kejadian ini dari dalam langsung tertawa terbahak – bahak. Sementara
itu, Shane memasukan kepalanya kedalam kulkas seperti mencari sesuatu. Brian
langsung berdiri lalu mengalihkan perhatian yang lain dengan menghampiri Shane.
“Shane,
lu lagi cari apa sih??” Tanya Brian.
“Gue
lagi nyari susu coklat punya gue. Semalam masih ada, tapi sekarang tinggal
kotaknya doang?!” kata Shane bingung.
“Masa bisa ilang??” Tanya Brian bingung.
“Itu,
si poni bego yang minum satu kotak!!” teriak Kian.
“Heh,
sembarangan lu, gue dibilang poni bego!! Kayak lu ga punya poni aja?!?!” teriak
Jay.
“Oh
jadi lu yang udah minum susu punya gue?!?! Dasar Bantet!!” teriak Shane.
“Enak
aja panggil gue bantet, kayak lu tinggi aja!! Bukannya lu kemarin udah dikasih
jatah 2 liter?!” balas Jay.
“Itukan
kan jatah sehari gue!! Dalam sehari gue harus minum 2 liter susu!! Dasar
hobbit!!” teriak Shane.
“Hobbit
lagi, eh ngaca lu Shorty!!”
“Heh,
sembarangan aja lu manggil gue Shorty, Hobbit!!”
“Shorty!!!”
“Hobbit!!”
“ckckck…
dua member terpendek dari masing – masing grup berantem rebutan susu.” Kata
Cory
“Makanya
gue ga percaya khasiat susu untuk meninggikan badan.” Tambah Brian.
“Hehehehe…
Shane lagi ngamuk… update twitter dulu ah…” gumam Nicky.
“Colton,
itu rambut lu tumben banget basah pagi – pagi??” Tanya Heejun.
“Itu
tuh, poni batok nuker wax gue sama minyak rem!!” jawab Colton.
Kian
dengan wajah tanpa dosa mengalihkan pandangannya sehingga Colton makin emosi
dan melemparnya dengan sepatu yang dipakainya. Sepatu itu pun mendarat persis
di kepala Kian.
Plaaaaaaaakkkk…
“Eh,
lu gila ya?! Ngapain sepatu butut gini lu lempar ke gue?!” Kian kesal.
“Lu
sendiri kenapa nuker wax gue sama minyak rem?!” balas Colton.
Pertengkaran
Kian dan Colton menambah ribut suasana didapur pagi itu. Mark terdiam
memikirkan sesuatu.
“Daripada
gue ngelihat mereka rusuh mending gue nyari Jade.” Pikir Mark.
Mark
pun meninggalkan ruangan itu. Heejun kebingungan mencari Phillip. Ia memutuskan
bertanya pada Cory yang sedang asik bersama Brian menonton keributan Shane vs. Jay.
“Cory,
lu tau ga PP dimana??” Tanya Heejun.
“Kenapa
lu Tanya gue?? Itu ada Brian yang satu kamar sama dia!” jawab Cory.
“Eh,
Ogre! Temen gue kemana?! Lu telen lagi jangan – jangan?!” Tanya Heejun pada
Brian.
“Emang
gue kanibal apa?! Main makan orang?! Kalo pun gue kanibal juga milih – milih,
masa Phillip yang kurus gitu gue makan!!” Brian sewot.
“Terus
PP kemana?!” Tanya Heejun sewot.
“Sakit
dia, kayaknya masuk angin. Tadi kentut bau banget.” Jawab Brian datar.
“Hm…
daripada gue disini, mending gue nengok PP.” pikir Heejun.
Heejun
pun pergi dari ruangan itu.
DEPAN KAMAR JADE
Mark
datang dengan membawa gitar. Dia berdiri tepat didepan pintu kamar Jade. Mark
lalu memainkan beberapa kunci gitar. Tak beberapa lama ia pun mulai bernyanyi. I’ll be your dreams, I’ll be your wish, I’ll
be your fantasy. I’ll be your hope,l’ll be your love, be everything that you need…
. Belum lama Mark bernyanyi, pintu kamar terbuka. Jade keluar dari kamarnya
dan langsung memeluk Mark. Wajah Mark langsung memerah.
WAIT…
ternyata itu semua Cuma ada dipikiran Mark.
“Hehehe…
siapa sih yang bisa nolak pesona gue??”
Mark
lalu mulai bernyanyi. Kali ini dalam kenyataan.
I’ll be your dreams, I’ll be your wish, I’ll be your
fantasy. I’ll be your hope,l’ll be your love, be everything that you need… dan
seterusnya. Tapi, Jade belum juga keluar dari kamar. Mark mengeraskan suaranya.
Tetapi, Jade tidak juga keluar. Yang terbuka malah pintu kamar sebelah. Ryan
mengeluarkan kepalanya melihat keributan yang dibuat oleh Mark didepan kamar
Jade.
“Mark,
nyanti buat siapa lu??” Tanya Ryan.
“Ya
buat Jade lah, ga mungkin buat lu! masalah buat lu??” jawab Mark.
“Yang
jadi masalah, Jade itu daritadi udah keluar dari kamar!!” jelas Ryan.
“WHAT??
Kenapa ga bilang daritadi?!” kata Mark kaget.
“Lu
ga nanya…” jawab Ryan datar.
Tanpa
banyak basa – basi, Mark langsung pergi meninggalkan Ryan.
“MAKASIH!!!”
teriak Ryan.
Ryan
pun kembali masuk ke kamarnya.
KAMAR BRIAN DAN PHILLIP
Heejun
perlahan membuka pintu kamar Phillip. Ruangan itu begitu sepi, karena Phillip
sedang tertidur. Heejun pun berjalan perlahan. Saat Heejun sampai di dekat
tempat tidur Phillip,
“Ckckck…
kasian PP!! fans the Skippers harus tau nih kalo PP sakit…” pikir Heejun.
Heejun
termenung. Kemudian ia mendapat sebuah ide. Heejun berlari ke kamar mandi.
Entah apa yang dia ambil.
BALKON
Jade
sedang sibuk mengetik tugas skripsinya di laptop. Secangkir cappucinno
disebelah laptopnya, dibiarkan dari panas sampai dingin. Heeseung duduk didepan
Jade memperhatikannya sambil sesekali menyeruput kopi dicangkirnya.
“Arghhh…!!!”
teriak Jade sambil menarik rambutnya.
“Hahaha…
kenapa?? Stress ya??” Tanya Heeseung.
“Iya
nih Aiden oppa. Tiba – tiba stuck!!” jawab Jade.
“Makanya
tenang, itu cappucinno dari panas sampai dingin di diemin. Minum dulu lah…”
kata Heeseung.
“Oh
iya, sampai lupa!!” kata Jade sambil mengambil cangkirnya.
“WHAT?!
Cicak ga sopan!! Cappucinno belum sempat gue minum udah nyemplung duluan!!”
teriak Jade.
“Hahahaha…
tuh kan, keduluan cicak!!” Heeseung tertawa melihat cangkir Jade berisi cicak
yang sedang berenang di Cappucinno.
“Huft…
terpaksa bikin lagi…” hela Jade.
“Udah
aku aja Jade yang bikin lagi. Kopi ku juga udah abis.” Kata Heeseung.
“Hah…
yang bener oppa?!”
“Iya,
ga papa. Biar kamu lanjutin ngetika lagi.”
Saat
Jade memberikan cangkirnya pada Heeseung, Mark yang sedang mencari Jade,
langsung marah melihat kejadian itu. Ia langsung mendatangi Heeseung dan
merebut cangkir Jade dari tangan Heeseung.
“Heh!!
Apa – apaan lu minum dari cangkir Jade?! Sini biar buat gue aja!!” teriak Mark
sambil merebut cangkir Jade.
“Tapi
Mark, itu…” kata Heeseung.
“Udah
oppa biarin aja, ikutin aja apa kata dia!!” kata Jade.
Heeseung
pun melepas cangkir itu. Mark langsung meminum isi cangkir itu tanpa
melihatnya.
“Tapi
Mark, cangkir itu ada cicaknya!!” kata Heeseung.
Mark
dengan wajah tidak percaya melihat isi cangkir itu. Dan ia pun langsung
berteriak.
“CICAAAAAAAAAAKKKKK…”
Mark
langsung membuang isi cangkir ke bawah balkon.
“Aaaaaa…”
teriak seseorang dibawah.
Mendengar
suara teriakan, Mark langsung melihat kebawah. Ternyata itu adalah teriakan
Karen yang terkena cappucinno yang dibuang Mark.
“Aaaaa…
ada cicaknya lagi!!! Mark… ini pasti kerjaan lu!!! awas lu entar!!!!” teriak
Karen emosi.
Wajah
Mark seketika berubah menjadi wajah ketakutan. Sedangkan Jade dan Heeseung
tertawa melihat wajah Mark yang sedang panik.
No comments:
Post a Comment