Monday, August 27, 2012

Catch the Shadow PART.1


“Hei, pencuri!! Jangan bergerak!!” teriakku pada pencuri ulung sambil mengarahkan pistolku padanya.
Pencuri itu berhenti. Kemudian ia mengangkat kedua tangannya. Aku lalu berberjalan perlahan sambil menodongkan pistolku padanya. Aku berdiri tepat dibelakangnya, aku mengambil borgol dari sabukku. Saat aku mencoba memborgol tangan pencuri itu, ia berbalik badan dan menarik tubuhku. Dia mencium bibirku. Beraninya pencuri ini?! Sepertinya dia lupa aku punya pistol!! Dia membisikan sesuatu ditelingaku.
“Panggil aku Shadow…” bisiknya.
Pencuri itu, atau Shadow, mundur dari tempatnya berdiri.
“Kamu terlalu cantik untuk jadi polisi Irene.”
Aku terdiam. Kata – kata itu mengingatkanku pada seseorang.
“Bye, Irene! We’ll meet again… I promise!” Shadow menyadarkan ku dari lamunanku.
Saat aku tesadar dari lamunan ku, Shadow sudah hilang dari pandanganku. Aku langsung ingin mengejarnya. Tetapi tangan kiriku terikat di tiang dekat tempatku berdiri. Saat aku mencoba menembaknya dengan pistol ditangan kananku, ternyata Shadow telah mengeluarkan magazen (tempat peluru) pistolku. !@#$@, ternyata tangannya cepat sekali!
“Irene, kamu ga kenapa – kenapa??” terdengar suara yang aku kenal.

Itu suara Shane Filan, kakakku. Ia datang bersama Kian Egan dan Nicky Byrne. Mereka bertiga adalah temanku sesama detektif kepolisian yang memburu Shadow selama hamper dua bulan terakhir. Shadow adalah seorang pencuri lukisan yang tidak pernah meninggalkan jejak disetiap aksinya. Sampai detik ini hanya aku yang berhasil melihat wujudnya (bahkan dia sempat menciumku!!).
Ternyata penampilannya mirip dengan Kaito Kid, tokoh pencuri disebuah komik favoritku. Hanya saja Shadow menggunakan pakaian serba hitam dan memakai topeng hitam seperti Zoro. Yang membuatnya aneh adalah setiap dia mencuri lukisan, dia selalu meninggalkan lukisan yang sebelumnya ia curi. Dan setelah diteliti, lukisan yang dikembalikannya adalah lukisan asli.

***

Klik… aku menyalakan lampu apartemenku. Hari ini aku sangat lelah karena mengejar Shadow. Aku langsung menjatuhkan tubuhku di sofa. Tiba – tiba ingatanku kembali ke masa kecilku. Saat itu aku berumur 8 tahun.
“Mark, tunggu aku…” aku berteriak pada Mark Feehily, sahabatku yang sedang berlari.
Kami sedang bermain polisi dan pencuri ditaman dekat rumahku. Aku menjadi polisi. Dan Mark menjadi pencuri.
“Ayo cepat Irene Adler… tangkap aku!!” kata Mark.
“Namaku Irene Filan. Jangan pernah panggil aku Irene Adler!!” kataku.
“Kenapa?? Bukankah kamu pengagum Sherlock Holmes?? Lagipula, Irene Adler itu sangat cantik.” Mark yang bingung menghentikan langkahnya.
“Karena aku ingin menjadi polisi seperti ayahku, bukan penjahat seperti kamu.”
“Tapi kamu terlalu cantik untuk menjadi polisi Irene.”
“Dan kamu terlalu bodoh untuk menjadi pencuri. Kena!! Hahaha…” kataku sambil menangkap Mark.
Usia Mark lebih muda satu tahun dari Shane dan dua tahun lebih tua dariku. Tetapi, Mark lebih akrab denganku dibandingkan dengan Shane. Itu karena kami berdua sangat menyukai cerita detektif. Terutama Sherlock Holmes. Sayangnya, hari itu adalah hari terakhir kami bertemu karena keesokan harinya, Mark dan orangtua pindah ke New York. Sudah 15 tahun kami tidak bertemu lagi. Kenapa aku jadi teringat Mark?! Dulu memang dia selalu jadi pencuri dalam permainan kami. Tetapi, itu semua karena aku selalu memaksa jadi polisi. Lagipula untuk apa dia jadi pencuri kalau orang tuanya adalah konglomerat?! Dan pasti dia sudah jadi pelukis terkenal sekarang. Atau mungkin seorang musisi karena dia sudah pandai bermain piano sejak kecil.

***

Akhirnya aku mendapat hari libur. Tetapi tentu saja aku tidak punya waktu untuk beristirahat karena aku masih harus melacak keberadaan Shadow. Hari ini aku mengerjakan tugas – tugas ku sambil menikmati hot chocolate di café kecil dekat apartemenku. Tiba – tiba handphone ku berdering. “I’m the one who want to be with you, deep inside I hope you feel it too…”. Aku langsung menggambil handphone ku didalam tas. Dilayar, tampak tulisan “MY SHORTY BIG BROTHER”. Yap, itu Shane, dia memang polisi paling pendek dalam divisi criminal. Aku memang lebih pendek darinya, tapi aku kan perempuan.
“Halo”
“Irene, kamu sudah dapat petunjuk baru??” Tanya Shane.
“Ya belum lah kak! Harusnya aku yang Tanya sama kakak. Kan kakak yang sedang bertugas di markas.”
“Tapi sebagai pemimpin misi Shadow, jadi aku harus bertanya.” jawab Shane.
“Tapi kan 15 menit yang lalu, kakak baru menelpon ku?!”
“Oh iya ya.” Jawab kakakku dengan nada polos.
“Ada yang mencurigakan ini?! Pasti tujuan utama kakak telpon bukan ini. Ayo jawab!!” aku mulai curiga dengan tingkah Shane.
“Hehehehe… sebenarnya aku menepon untuk bilang… Nicky mau ngajak kamu dinner!! Hahaha…”
“Shane, apa – apaan sih?!”
Aku bisa mendengar teriakan Nicky yang disusul oleh suara Shane dan Kian yang tertawa bersama.
“Kalian menganggu waktu istirahatku yang sedang aku pakai untuk memecahkan kasus. Kalau aku adukan ini pada Mr. Hudson dia pasti akan marah, dan bisa – bisa kalian langsung turun pangkat. Atau malah kalian akan dipindahkan jadi divisi pembersihan kantor polisi alias OFFICE BOY!!” aku sedikit menekan pada kata office boy.
“Gleeeek…” sepintas aku mendengar Shane menelan ludahnya. Dan aku yakin Kian dan Nicky juga begitu. “Oke kalau gitu adikku sayang. Jangan lupa makan ya! Bye…” ucap Shane terburu - buru sebelum menutup telpon.
Dasar Shane! Setiap aku mulai emosi dia pasti langsung kabur. Nicky memang sudah lama mendekatiku. Tapi aku selalu menampakan sifat ketusku. Nicky memang menarik. Dengan rambut blonde dan penampilannya yang terlalu stylish untuk ukuran polisi. Ditunjang dengan postur tubuhnya yang atletis karena sebelum masuk kepolisian, dia juga atlet sepak bola tim SMAnya. Aku menggapai gelas hot chocolate ku. Ternyata isinya sudah kosong. Loh?! Aku kan baru minum sedikit?!
“Sepertinya Ms. Adler mencari isi cangkirnya yang hilang…”
Aku seperti mengenal suara itu. Dan satu – satunya orang yang memanggilku Adler adalah…
“MARK!!” teriak ku saat melihat Mark yang sudah duduk disebelahku.
Rupanya aku terlalu sibuk mengatasi gangguan dari kakakku dan kedua temannya yang gila itu hingga tidak menyadari kehadiran Mark. Tidak ada yang berubah dari fisik Mark. Matanya masih tetap sayu, pipinya masih merah merona. Kecuali sekarang ada tidikan ditelinganya.
“Ternyata Irene Adler ku sekarang sudah menjadi seorang polisi yang cantik. Seperti cita – citanya dulu.”
“Kapan kamu pulang dari New York?? Dan bagaimana kamu tahu aku ini polisi?? Bagaimana kamu tahu ini aku??”
“Hei, aku ini sahabatmu, bukan buronan yang sedang kau introgasi. Bertanyalah pelan – pelan.”
“Oke… oke… jawab satu persatu…”
“Pertanyaan pertama, aku kembali sudah sekitar 3 – 4 bulan.”
“Then??”
“Pertanyaan kedua, saat aku duduk disini, cukup untukku mendengar pembicaraanmu dan Shane tentang markas, pangkat, dan ehm… siapa tadi yang ngajak kamu dinner?? Ah iya, Nicky!!”
Ternyata dia mendengar semua pembicaraanku dan Shane.
“Dan yang ketiga, bagaimana aku tidak bisa mengenalimu kalau kamu masih pakai gelang pemberianku dulu!! Walaupun talinya sudah diganti, tapi aku tahu itu bandul gelangku.”
Aku memandang tangan kiriku. Disitu melingkar gelang yang diberikan Mark untukku. Dibandul yang berbentuk seperti palet cat itu terdapat ukiran M, inisial Mark, karena memang itu milik Mark yang aku minta sebelum dia berangkat ke New York. Aku begitu merindukan Mark, alasan utamaku menolak Nicky. Mark adalah cinta pertamaku. Bukan… bukan… dia satu – satunya orang yang membuatku jatuh cinta.
“Kelihatannya kamu sedang sibuk?? Kamu sedang mengerjakan kasus apa??” pertanyaan Mark memecahkan lamunanku.
“Aku sedang mendapat tugas memburu Shadow, pencuri lukisan yang sering muncul akhir – akhir ini.”
“Yang aku baca di Koran, dia selalu mengembalikan lukisan yang telah dia curi?! Bukankah itu tandanya dia tidak berbahaya??”
“Menurut kapten Hudson, kalau kejahatan kecil dibiarkan lama – lama bisa menjadi besar. Siapa tahu saja dia tiba – tiba berubah jadi berbahaya. Semua orang kan bisa berubah!”
“Tapi tidak ada yang bisa menjamin orang itu akan berubah.”
“Kenapa kamu membelanya Mark?!”
“Bukan membela, ta… tapi kenapa kamu tidak bertanya padaku apa saja yang kulakukan di New York?!”
Segala tentang Shadow membuatku melupakan hal terpenting dalam hidupku.
“Baiklah, sekarang aku akan bertanya. Apa yang kau lakukan di New York??”
“Aku sekolah, kuliah di NYU jurusan art, lulus kuliah dalam 3 tahun, mencoba membantu bisnis label orang tua ku, tetapi aku bosan akhirnya aku kembali ke London.”
“Untuk apa kamu kembali ke London??”
“Jadi kamu tidak senang aku kembali?!” Mark menatapku dengan tatapan kecewa. Dan aku tahu pasti dia hanya berpura – pura.
“Untuk apa kamu kembali??”
“Yang pasti bukan untukmu.” Jawab Mark datar.
“Baiklah, aku pergi! Mungkin nanti aku akan makan malam dengan Nicky.”
Aku berdiri dan langsung membereskan barang – barangku di atas meja.
“Eh, iya… iya… Irene! Aku kembali karena aku… aku… ah sudahlah, yang penting aku bisa bertemu denganmu lagi!”
Sepintas aku melihat pipi Mark menjadi lebih merah dari biasanya. Yes, rencanaku berhasil!! Mark memang terlalu bodoh. Aku tahu dia adalah seseorang yang memiliki gengsi yang besar. Tapi, aku lebih pintar darinya. Aku menghabiskan siang itu bersama Mark. Obrolan ku dan Mark memang tidak menghasilkan petunjuk Shadow sama sekali. Tapi aku menjadi semangat kembali mencari jejak Shadow.
Mark mengantarkan aku sampai apartemenku dengan motornya. Untung Mark membawa helm cadangan.
“Kamu mau mampir??”
Aku mengembalikan Helm pada Mark. Mark membuka kaca helmnya.
“Lain waktu saja. Aku ada urusan. Bye…”

Mark lalu memacu motornya. Aku baru masuk kedalam lobby apartemen saat Mark sudah benar – benar menghilang dari pengelihatanku. Ah, aku benar – benar merindukannya.

***

Baru saja aku beristirahat, terdengar suara handphoneku berdering. I’m the one who want to be with you, deep inside I hope you feel it too…”. Ya, siapa lagi kalau bukan Shane?!
“Halo… ada apa kak??” jawabku datar
“Panggil aku detective Filan!! Aku menelpon sebagai pemimpin kasus Shadow. Cepat ke kantor sekarang!” Shane langsung menutup telponnya.
Kalau dia meminta dipanggil detective Filan, ini pasti urusan serius. Aku bergegas memakai seragam polisiku. Aku memakai seragam karena aku masih dalam masa percobaan di divisi criminal. Aku pun langsung berangkat.





No comments:

Post a Comment