Aku sampai di ruangan divisi kriminal dengan terengah – engah. Aku berlari dari lobby karena lift sedang dalam perbaikan. Dan kantor divisi criminal berada di lantai 3. Sesampainya dikantor, aku sangat terkejut. Karena disana ada Brian Mcfadden, polisi yang baru saja kembali dari cuti panjangnya akibat tertembak di kaki kanan. Ia masih memakai tongkatnya hari ini. Tapi bukan itu yang membuat ku terkejut. Seisi kantor bertuliskan “Welcome Back Brian!!”. Jadi, aku berlari kesini hanya untuk… “Irene, kamu terlambat untuk pesta penyambutan Brian!!” Kian menyambutku.
“Bukankah Shane tadi sudah menelponmu??” Nicky terlihat kaget mellihat wajahku yang kaget bercampur dengan kesal.
Dasar Shane!!!
“Hehehe… habis kalau aku bilang padamu, kamu pasti akan menolak dengan alasan kamu sedang sibuk!”
Begitulah jawaban Shane ketika aku menuntut penjelasannya.
“Aku tidak akan memanggilmu Detective Filan seumur hidupku!! Bahkan kalau kamu jadi komisaris sekalipun aku akan tetap memanggilmu Shane!!”
“Santai saja Irene. Nikmati pesta ini”
Shane kemudian meninggalkan ku. Dia kemudian bernyanyi lagu More Than Words dengan iringan gitar dari Kian dan Brian. Huft… Shane memang dari awal ingin menjadi penyanyi bukan polisi. Namun, Dad memaksa Shane masuk akademi kepolisian. Jadi, aku sedikit memaklumi kalau sebagai seorang polisi kelakuannya kadang aneh.
“Kali ini aku setuju dengan pendapat Shane.” Nicky membuyarkan lamunanku.
Nicky memberiku segelas jus jeruk. Peraturan kami: tidak ada alcohol di jam kerja. Dengan alasan apapun. Aku menerima jus jeruk pemberrian Nicky dan meminumnya.
“Kamu harus sedikit bersantai Irene. Akhir – akhir ini kamu terlihat kurang bersemangat.”
Tidak, kamu salah Nicky! Beberapa jam yang lalu semangat ku telah kembali. Tapi semangat itu hilang seketika akibat ulah Shane. Mark… aku sangat membutuhkanmu sekarang. Untuk mengembalikan semangatku, dan juga menghindari Nicky.
***
Hari ini tepat 2 hari aku tidak pulang dari markas. Ini akibat surat yang datang ke kantor kami setelah pesta penyambutan Brian. Surat itu berisi
“Aku akan menggambil yang berharga di Bank of England. Pada saat Monalissa dari Utara berada disana. Dan kali ini, benda itu akan menjadi miliku selamanya…
Shadow”
Besok, Mauritshuis gallery Den Haag, meminjamkan lukisan karya Johannes Vermeer “Girl with a Pearl Earring” atau orang biasa menyebutnya "the Mona Lisa of the North". Lukisan itu akan dipamerkan di Bank of England.
Yang membuat ku bingung adalah, ini pertama kalinya Shadow memberi peringatan sebelum dia beraksi. Dan itu pula yang membuat kami sangat sibuk 2 hari ini. Semua polisi sibuk mencari petunjuk. Untungnya, hari ini Komisaris Hudson member kami waktu untuk istirahat. Kami sangat membutuhkan itu. Terutama Shane. Kakakku itu terlihat sangat stress. Dia bahkan mengikatkan dasinya di kepala! Shane memang terlihat seperti orang gila kalau sedang kelelahan. Saat aku sedang membereskan berkas yang ada dimejaku,
“Surprise…” suara itu datang bersamaan dengan buket bunga mawar berwarna putih didepan mataku.
Aku menerima buket bunga itu. Aku membalikan badan. Dan ternyata dibelakangku ada Mark.
“Mark?!” kata – kata itu yang pertama meluncur dari bibirku.
“Permisi Opsir Filan, saya mau melaporkan orang hilang. Teman saya, Irene Nicole Filan, sudah 2 hari hilang dari apartemennya.” Kata Mark sambil berjalan kedepan ku dan duduk diatas mejaku.
“Hahaha… darimana kamu tahu sudah 2 hari aku tidak pulang??”
“Hahaha… aku tadi ke apartemenmu, kata penjaga pintunya, sudah dua hari kamu tidak pulang. Jadi, aku putuskan untuk datang ke kantor polisi!”
“Kamu datang pada saat yang tepat. Sebentar lagi aku mau pulang.”
Mark melihat ke seluruh ruangan.
“Hei, dimana Shane??”
“Aku tidak tahu, dia terlihat sangat lelah tadi.”
“Hahaha… pasti wajahnya sangat kacau!! Aku ingat saat menjelang dia ujian kelulusan sekolah dulu…”
“Mark…” aku mencoba memotong pembicaraan Mark.
“Apa dia masih lebih pendek dariku?? Hahaha… aku bingung kenapa dia biasa masuk kepolisian! Hahaha…” Mark tertawa lebih keras lagi.
“Mark…”
“EHM…”
“Eh… jangan bilang dibelakangku ada Shane…” ekspresi Mark langsung berubah seketika.
“Jadi itu pendapatmu tentang aku selama ini?!” kata Shane dengan nada sedikit emosi. Shane memang sedikit sensitive kalau mengantuk.
“Hehehe… apa kabar Shane??”
aku tahu. Mark hanya mengalihkan pembicaraan.
“Panggil aku detective Filan!! Mau apa kamu kesini?? Menggangu anak buah ku?!”
“Aku hanya memberi kejutan untuk sahabat lama ku. Tidak boleh?!”
Shane dan Mark memang tidak pernah akur.
“Oh iya! Detective Byrne sepertinya ingin mengajak opsir Filan untuk makan siang.” Kata – kata Shane ditunjukan untukku tapi tatapan matanya menatap tajam ke Mark.
“Kalau dia mau mengajakku makan siang, bilang saja sendiri padaku. Untuk apa dia menyuruhmu?!”
“Itu Nicky.” Kata Shane sambil menunjuk kearah belakangku.
“Hi Irene… kita makan siang yuk!” Nicky bejalan kearahku sambil membawa setangkai mawar merah.
Aku melihat ke arah Mark. Ah gawat, Nicky dalam bahaya!!
“Hahaha… masa Irene mau makan siang dengan orang yang tidak tahu bunga favoritnya?! Bunga favorit Irene itu mawar putih!!” Mark tertawa. Tetapi dia memandang Nicky dengan tajam.
“Hm… memangnya kamu siapa?!”
“Aku sahabat Irene sekaligus calon pacarnya!!”
“What?!” aku dan Shane sama – sama terkejut. Aku memang menyukai Mark, tapi kata – katanya membuat ku terkejut.
Keributan yang dibuat oleh Nicky dan Mark membuat Kian dan Brian mendatangi kami.
“Ada keributan apa ini??” Tanya Brian.
“Keributan yang telah kalian buat terdengar sampai ujung ruangan.” Kian menambahkan.
“Not us, but them!!” kata Shane sambil menunjuk kearah Nicky dan Mark.
Sebelum keributan bertambah panjang, aku menarik Nicky dan Mark.
“Ayo, kita pergi makan siang bertiga!”
“Tapi…” Mark dan Nicky kompak.
“No but!!” jawabku singkat.
Dari kejauhan, aku dapat mendengar suara Shane tertawa bersama Kian dan Brian. Mereka memang selalu senang saat aku tersiksa.
***
Suasana makan siangku terasa kaku. Itu karena Nicky dan Mark saling melemparkan tatapan tajam sampai mereka tidak menghiraukan kehadiranku. Hello, I’m here!! Mark mengantarkanku pulang setelah Mark menumpahkan segelas jus jeruk ke kemeja Nicky, sehingga dia harus segera pulang untuk mencuci kemeja seragamnya itu. Kali ini Mark memutuskan untuk menemaniku.
“Tenang Irene. Selama ada aku, tidak akan ada yang berani mengganggumu. I’ll keep you safe!” teriak Mark saat aku sedang berganti baju dikamar mandi.
Kata – kata itu kembali mengingatkanku pada pertemuan pertama kami.
***
Saat itu musim panas dan usiaku baru 6 tahun. Aku baru saja mendapatkan hadiah lencana polisi mainan dari Dad. Awalnya aku bermain ditaman bersama Shane. Namun, saat Shane meninggalkanku untuk membeli es krim, 3 anak laki - laki yang berusia sekitar 4 – 5 tahun lebih tua dariku mencoba merebut lencana itu dariku milikku.
“Berikan padaku!!” perintah salah satu dari mereka.
“Inikan punya ku, kenapa kalian mau mengambilnya??” aku berusaha mempertahankan.
“Hei… kalian ini beraninya sama anak perempuan yang lebih kecil dari kalian…” seorang anak laki – laki bermata biru dan berpipi merona tiba – tiba sudah berdiri didepanku.
“Memang kamu berani melawan kami??” Tanya seseorang yang bertubuh paling besar.
“Kamu pegang tanganku, saat aku memberi tanda kita lari dari sini.” Bisik anak itu.
Aku mengangguk. Aku lalu menggapai tangan kanannya dengan tangan kirinya.
“Sekarang!!” aku dan anak itu berlari.
Kami berlari sampai tiba diujung sebuah lorong yang buntu. Hanya terdapat tumpukan kardus. Kami lalu bersembunyi dibalik kardus – kardus itu. Dia memelukku dengan erat. Aku bisa mendengar suara anak – anak nakal itu mencari kami.
“Tenang, I’ll keep you safe. I promise!” bisikan itu membuat hatiku tenang.
***
Aku sudah selesai mengganti baju seragamku. Dan tepat seperti dugaanku, Mark sudah tertidur di sofa. Kebiasaanya yang tidak pernah berubah: terlalu mudah tertidur. Ia tertidur masih dengan jaketnya. Aku mencoba melepaskan jaket Mark.
Praaaang…
Tiba – tiba ada suatu benda yang terjatuh dari jaket Mark. Aku mengambil benda itu. Ternyata itu adalah topeng berwarna hitam yang terbuat dari besi persis dengan…
“Shadow!!”
Aku bergegas mengambil pistol cadanganku didalam laci meja disebelah sofa. Aku langsung menodongkan pistolku ke kepala Mark. Saat pistolku menyentuh kening Mark. Dia terbangun.
“Kenapa kamu harus menjadi Shadow?!”
Mark menguap dengan lebarnya. Telunjuk tangan kanannya menutup lubang pistolku. Sedangkan tangan kirinya menutup mulutnya yang menguap.
“Tenang Irene. Aku memang Shadow, tapi aku tidak bermaksud jahat menjadi Shadow.”
“Penjahat tetap saja jahat!!”
“Aku punya alas an sendiri!”
“Kalau begitu, kenapa kamu mengirim surat pada kantor polisi?!”
“Surat apa?! Aku sama sekali tidak…”
Aku memotong kata – kata Mark.
“Cepat kamu pergi dari sini sebelum aku menembak kepalamu!!” aku masih menodongkan pistolku.
“Baiklah aku pergi. Tapi masalah surat, itu bukan aku!! Suatu hari aku akan menjelaskan semuanya padamu. I promise!”
Mark langsung berjalan keluar. Sebelum ia keluar, Mark sempat berbalik badan dan menatapku sebentar. Lalu ia langsung pergi. Argh… kenapa harus Mark?! Orang yang paling aku cintai itu!! Aku tidak menyangka dia akan berubah.
***
Begitu keadaan aman, kami berdua keluar dari persembunyian.
“Terimakasih ya…”
“Hehehe… aku kagum pada keberanian gadis kecil sepertimu melawan mereka tadi. Mungkin kalau aku jadi kamu tadi aku sudah menangis.” Kata anak itu sambil tersenyum. Senyum paling manis yang pernah aku lihat.
“Tapi pada akhirnya kamu tetap menolongku.”
“Kamu yang membuatku jadi berani. Aku Mark, Mark Feehily.” Kata anak itu.
“Aku Irene…”
Setelah kami berkenalan, aku memberikan lencana polisi milikku sebagai ucapan terimakasih.
No comments:
Post a Comment