PART 3
Pagi ini, aku datang ke markas dengan suasana hati
yang berantakan. Aku masih tak habis pikir, bagaimana Mark yang selama ini aku
kenal ternyata adalah Shadow, seorang pencuri yang sedang aku kejar?! Aku,
Shane, Nicky, Brian, dan Kian menghadiri meeting bersama komisaris Hudson untuk
merencanakan penangkapan Shadow. Walaupun aku ada dalam meeting, tapi aku tidak
bisa berpikir sama sekali. Pikiranku masih melayang memikirkan Mark.
“Bagaimana Opsir Filan?? Kau setuju??” suara
Komisaris Hudson mengembalikan pikiranku.
“Eh?!” hanya itu kata – kata yang bisa aku
keluarkan.
“Iya, kamu setuju menyamar menjadi tamu undangan??”
aku masih bingung dengan pertanyaan Shane.
“Ckckck… pasti dia masih bingung memilih antara
Detective Nicholas Byrne atau seseorang bernama Mark.” What?! Brian meledekku
didepan Komisaris Hudson?!
“EHM… Opsir Mcfadden!!”
Brian langsung terdiam mendengar teguran dari
Komisaris Hudson. Aku melihat Nicky menatap Brian dengan tajam. Aku bisa
mengartikan tatapan Nicky sebagai “What are you doing Brian?!”. Sekilas aku
juga melihat pipi Nicky yang memerah.
“Jadi begini Opsir Filan, nanti malam kamu menyamar
sebagai tamu undangan di Bank of England untuk mengawasi gerak – gerik tamu
yang lain. Siapa tahu saja Shadow menyamar sebagai undangan.” Kian menjelaskan
kepadaku.
“Kenapa harus aku??” aku bingung dengan semua ini.
“Karena kamu adalah orang baru di divisi kriminal.
Karena mungkin saja Shadow itu adalah penjahat yang sudah kami tangkap dan
sudah pasti dia akan langsung mengenali kami.” Shane menjelaskan.
Kalian salah!! Shadow mengenalku!! Bahkan dia lebih
mengenalku daripada Shane!! Karena dia itu MARK!!
“Lalu kenapa bukan Brian?? Eh, maksudku Opsir
Mcfadden.”
“Dengan keadaan kaki Opsir Mcfadden yang belum
pulih, akan sulit baginya mengejar Shadow.” Nicky menjelaskan padaku dengan
kata – kata yang halus.
Kenapa hidupku harus membingungkan?! Kenapa aku
tidak bisa memilih Nicky tapi malah memilih Mark yang ternyata adalah SHADOW?!
“Lagipula, hanya kamu yang pernah bertemu langsung
dengannya. Siapa tahu saja kamu bisa mengenali gerak – geriknya.” Tambah Shane.
Tentu saja aku dapat dengan mudah mengenalinya. Aku
bahkan sangat menenali suara dan matanya.
“Ditambah lagi, kamu adalah anggota paling cantik
di divisi kriminal, siapa tahu saja Shadow tertarik padamu dan langsung
menyerahkan diri!! Hahaha…” aku tidak tahu apa sarapan Brian hari ini, tetapi
sepertinya dia keracunan makanan karena kata – katanya aneh sekali.
Yang mereka tidak tahu adalah aku yang tergila –
gila pada orang yang berada dibalik topeng Shadow sebelum aku mengetahui
identitas rahasianya.
“Tenang saja, mereka juga akan menyamar. Hanya saja
bukan sebagai tamu.” Komisaris Hudson sepertinya melihat kegelisahan diwajahku.
Aku memang gelisah. Tapi
karena aku sudah tahu siapa Shadow sebenarnya.
Pada akhirnya aku pergi ke Bank of England sebagai
tamu undangan. Aku mengenakan gaun berwarna merah. Gaun yang dipilihkan Nicky.
Harus ku akui, selera fashion Nicky lebih baik dari kakakku dan kedua temanku
yang aneh itu. Shane mengantarkan ku ke salon. Sedangkan yang lainnya langsung
pergi ke Bank of England. Sepanjang perjalanan kami hanya diam.
“Irene, apa yang terjadi padamu??” Shane memecahkan
keheningan di mobil.
“Eh… maksudmu??” Aku sudah tahu apa maksud kakakku
itu.
“Tidak biasanya kamu melamun saat meeting. Apa yang
terjadi antara kamu dan Mark kemarin??”
Bagaimana dia bisa tahu semua ini ada hubunganya
dengan Mark?!
“Jangan menyampurkan urusan pribadiku dengan
pekerjaan.” Jawabku datar.
“Bagaimanapun aku ini kakakmu. Apa Mark
menyakitimu?? Aku akan menghajarnya kalau memang dia melakukan sesuatu.”
Aku hanya diam.
“Seharusnya kamu memilih Nicky.”
Aku juga berpikir seperti itu. Tapi hatiku berkata
lain.
Akhirnya kami tiba di Bank of England. Semua tamu,
pelayan, dan pengisi acara memakai topeng. Karena acara penyerahan lukisan
dibuat dengan tema pesta topeng. Tempat yang sempurna untuk Shadow menyamar.
Nicky, Kian, Shane, dan Brian juga sudah menyamar. Shane menyamar sebagai
vokalis band (sepertinya dia lebih menyukai penyamarannya). Sedangkan Nicky,
Kian, dan Brian menyamar sebagai pelayan. Ada juga beberapa polisi lain yang
berjaga disekitar lukisan “Girl with a Pearl Earring” yang diletakan
diruangan khusus.
“Wow, kamu cantik sekali
Irene!!” Kian memujiku.
“Nicky memang hebat memilihkan
gaun untuk Irene!! Lihat dia dari tadi terpukau dengan kecantikan Irene!!” kata
Brian sambil menunjuk Nicky. Wajah Nicky langsung memerah.
“Sudah!! Ayo kita
bertugas!!” teriak Shane.
Kami pun menempati posisi
masing – masing. Shane sudah mulai menyanyikan lagu pertama. Karena dia berada
dipanggung, lebih mudah mengawasi setiap tamu dari atas. Kian, Nicky dan Brian
sudah mulai mengantarkan makanan kecil ke para tamu sambil mengamati. Aku juga
mencari keberadaan Mark atau Shadow.
Shane sudah menyanyikan lima
lagu, tetapi belum ada tanda – tanda kehadiran Shadow. Gawat kalau sampai 7
lagu Shadow belum juga datang, dan tidak ada orang yang menggantikan Shane
bernyanyi. Alasan Dad melarang Shane menjadi penyanyi bukan karena dia tidak
mendukung bakat Shane. Tetapi karena Shane hanya bisa menghapalkan paling
banyak 8 lagu. Menurut Dad, bisa gawat kalau nanti Shane menjadi penyanyi
terkenal tetapi hanya hapal 8 lagu. Pemain band memainkan intro lagu dengan
tempo yang lambat. Beberapa tamu dan pasangannya mulai berdansa.
“May I have your dance young
lady??” suara itu adalah suara yang paling kubenci tetapi juga paling
kurindukan dalam 24 jam terakhir.
“Sudah ku bilang, kamu lebih
cantik tanpa seragam polisi. Tapi akan lebih cantik kalau kau memakai gaun
warna putih.”
Malam ini, Mark mengunakan
kemeja putih lengkap dengan tuxedo dan jas berwarna hitam. Tentu saja dengan
topeng Shadow. Tentu saja dia berani mengunakan topeng Shadow, karena sampai
saat ini hanya aku yang tahu bagaimana bentuk topeng Shadow. Tanpa banyak
berkata, Mark langsung menarikku dalam pelukannya. Dia menaruh kedua tanganku
dilehernya. Dan tangannya sekarang sudah ada di pinggulku.
“Ternyata kamu masih berani
datang. Padahal kamu sudah tahu disini banyak polisi yang mengepung.”
“Aku memang Shadow. Tapi,
bukan aku yang mengirimkan surat ke kantor polisi. Aku akan membuktikannya
padamu. I promise.”
Saat aku membuka mulutku,
dia meletakan telunjuknya dibibirku. Dan akupun hanya bisa diam. Mark
memelukku. Aku merindukan pelukannya. Pelukan yang selalu bisa membuatku
tenang.
“You give me strength, you
give me hope, you give me someone to love someone to hold,When I'm in your arms,
I need you to know, I've never been,
I've never been this close”
I've never been this close”
Mark mengikuti lagu yang
sedang dinyanyikan Shane dan pemain band yang lainnya. Mark menyanyikan lagu
itu ditelingga ku dengan lembutnya.
Tiba – tiba…
DUAAAAAAAAARRRRRR…
Suara ledakan terdengar
dari luar. Lampu didalam ruangan
semuanya padam. Mark dengan refleknya langsung memperat pelukannya untuk
melindungiku. Dia langsung menarikku keluar dari kerumunan orang ditengah
ruangan.
“Tunggu disini sampai
keadaan aman.” Perintah Mark.
“Tidak, kamu yang tunggu
disini karena aku sudah memborgolmu!” kali ini tanganku lebih cepat dari Mark.
Aku berhasil memborgol tangan kanan Mark pada kaki meja. Aku lalu mengambil
pistolku yang ditaruh dibawah meja itu. Untung aku menaruh senter juga. Aku melepaskan
sepatu high heels ku.
“Irene, lepaskan aku! Aku
mau mencari bukti kalau aku tidak bersalah.”
“Aku yang akan mencari bukti
apa kamu bersalah atau tidak!!”
“Irene, please trust me!!”
Aku langsung berlari ke
ruangan tempat lukisan. Belum sampai tempat lukisan, aku mendengar panggilan di
earphoneku.
“This is Egan!! Back up
please… Back up please… there is a victim here…”
“Copy that!!”
Aku memeriksa radar. Kian
berada di brangkas. Dan aku yang berada paling dekat dengan brangkas. Aku
langsung berlari menuju brangkas uang. Sesampainya di brangkas, aku mencari
keberadaan Kian. Tetapi dia tidak ada dimana pun. Lalu aku menyorotkan senter
ke ujung ruangan. Aku terkejut karena ada laki – laki yang tertembak. Aku
langsung berlari mengecek kondisinya. Ternyata dia sudah tewas.
Tiba – tiba ada seseorang
dari belakang mencoba membekap mulutku. Gawat, ini obat bius!! Aku mencoba
melawan, hanya saja dia terlalu kuat. Itulah hal terakhir yang aku ingat
sebelum aku pingsan.