Wednesday, August 29, 2012

Catch the Shadow PART3


PART 3

Pagi ini, aku datang ke markas dengan suasana hati yang berantakan. Aku masih tak habis pikir, bagaimana Mark yang selama ini aku kenal ternyata adalah Shadow, seorang pencuri yang sedang aku kejar?! Aku, Shane, Nicky, Brian, dan Kian menghadiri meeting bersama komisaris Hudson untuk merencanakan penangkapan Shadow. Walaupun aku ada dalam meeting, tapi aku tidak bisa berpikir sama sekali. Pikiranku masih melayang memikirkan Mark.

“Bagaimana Opsir Filan?? Kau setuju??” suara Komisaris Hudson mengembalikan pikiranku.

“Eh?!” hanya itu kata – kata yang bisa aku keluarkan.

“Iya, kamu setuju menyamar menjadi tamu undangan??” aku masih bingung dengan pertanyaan Shane.

“Ckckck… pasti dia masih bingung memilih antara Detective Nicholas Byrne atau seseorang bernama Mark.” What?! Brian meledekku didepan Komisaris Hudson?!

“EHM… Opsir Mcfadden!!”

Brian langsung terdiam mendengar teguran dari Komisaris Hudson. Aku melihat Nicky menatap Brian dengan tajam. Aku bisa mengartikan tatapan Nicky sebagai “What are you doing Brian?!”. Sekilas aku juga melihat pipi Nicky yang memerah.

“Jadi begini Opsir Filan, nanti malam kamu menyamar sebagai tamu undangan di Bank of England untuk mengawasi gerak – gerik tamu yang lain. Siapa tahu saja Shadow menyamar sebagai undangan.” Kian menjelaskan kepadaku.

“Kenapa harus aku??” aku bingung dengan semua ini.

“Karena kamu adalah orang baru di divisi kriminal. Karena mungkin saja Shadow itu adalah penjahat yang sudah kami tangkap dan sudah pasti dia akan langsung mengenali kami.” Shane menjelaskan.

Kalian salah!! Shadow mengenalku!! Bahkan dia lebih mengenalku daripada Shane!! Karena dia itu MARK!!

“Lalu kenapa bukan Brian?? Eh, maksudku Opsir Mcfadden.”
“Dengan keadaan kaki Opsir Mcfadden yang belum pulih, akan sulit baginya mengejar Shadow.” Nicky menjelaskan padaku dengan kata – kata yang halus.

Kenapa hidupku harus membingungkan?! Kenapa aku tidak bisa memilih Nicky tapi malah memilih Mark yang ternyata adalah SHADOW?!

“Lagipula, hanya kamu yang pernah bertemu langsung dengannya. Siapa tahu saja kamu bisa mengenali gerak – geriknya.” Tambah Shane.

Tentu saja aku dapat dengan mudah mengenalinya. Aku bahkan sangat menenali suara dan matanya.

“Ditambah lagi, kamu adalah anggota paling cantik di divisi kriminal, siapa tahu saja Shadow tertarik padamu dan langsung menyerahkan diri!! Hahaha…” aku tidak tahu apa sarapan Brian hari ini, tetapi sepertinya dia keracunan makanan karena kata – katanya aneh sekali.

Yang mereka tidak tahu adalah aku yang tergila – gila pada orang yang berada dibalik topeng Shadow sebelum aku mengetahui identitas rahasianya.

“Tenang saja, mereka juga akan menyamar. Hanya saja bukan sebagai tamu.” Komisaris Hudson sepertinya melihat kegelisahan diwajahku.

Aku memang gelisah. Tapi karena aku sudah tahu siapa Shadow sebenarnya.


Pada akhirnya aku pergi ke Bank of England sebagai tamu undangan. Aku mengenakan gaun berwarna merah. Gaun yang dipilihkan Nicky. Harus ku akui, selera fashion Nicky lebih baik dari kakakku dan kedua temanku yang aneh itu. Shane mengantarkan ku ke salon. Sedangkan yang lainnya langsung pergi ke Bank of England. Sepanjang perjalanan kami hanya diam.

“Irene, apa yang terjadi padamu??” Shane memecahkan keheningan di mobil.

“Eh… maksudmu??” Aku sudah tahu apa maksud kakakku itu.

“Tidak biasanya kamu melamun saat meeting. Apa yang terjadi antara kamu dan Mark kemarin??”

Bagaimana dia bisa tahu semua ini ada hubunganya dengan Mark?!

“Jangan menyampurkan urusan pribadiku dengan pekerjaan.” Jawabku datar.

“Bagaimanapun aku ini kakakmu. Apa Mark menyakitimu?? Aku akan menghajarnya kalau memang dia melakukan sesuatu.”

Aku hanya diam.

“Seharusnya kamu memilih Nicky.”

Aku juga berpikir seperti itu. Tapi hatiku berkata lain.


Akhirnya kami tiba di Bank of England. Semua tamu, pelayan, dan pengisi acara memakai topeng. Karena acara penyerahan lukisan dibuat dengan tema pesta topeng. Tempat yang sempurna untuk Shadow menyamar. Nicky, Kian, Shane, dan Brian juga sudah menyamar. Shane menyamar sebagai vokalis band (sepertinya dia lebih menyukai penyamarannya). Sedangkan Nicky, Kian, dan Brian menyamar sebagai pelayan. Ada juga beberapa polisi lain yang berjaga disekitar lukisan Girl with a Pearl Earring” yang diletakan diruangan khusus.

“Wow, kamu cantik sekali Irene!!” Kian memujiku.
“Nicky memang hebat memilihkan gaun untuk Irene!! Lihat dia dari tadi terpukau dengan kecantikan Irene!!” kata Brian sambil menunjuk Nicky. Wajah Nicky langsung memerah.
“Sudah!! Ayo kita bertugas!!” teriak Shane.

Kami pun menempati posisi masing – masing. Shane sudah mulai menyanyikan lagu pertama. Karena dia berada dipanggung, lebih mudah mengawasi setiap tamu dari atas. Kian, Nicky dan Brian sudah mulai mengantarkan makanan kecil ke para tamu sambil mengamati. Aku juga mencari keberadaan Mark atau Shadow.

Shane sudah menyanyikan lima lagu, tetapi belum ada tanda – tanda kehadiran Shadow. Gawat kalau sampai 7 lagu Shadow belum juga datang, dan tidak ada orang yang menggantikan Shane bernyanyi. Alasan Dad melarang Shane menjadi penyanyi bukan karena dia tidak mendukung bakat Shane. Tetapi karena Shane hanya bisa menghapalkan paling banyak 8 lagu. Menurut Dad, bisa gawat kalau nanti Shane menjadi penyanyi terkenal tetapi hanya hapal 8 lagu. Pemain band memainkan intro lagu dengan tempo yang lambat. Beberapa tamu dan pasangannya mulai berdansa.

“May I have your dance young lady??” suara itu adalah suara yang paling kubenci tetapi juga paling kurindukan dalam 24 jam terakhir.

“Sudah ku bilang, kamu lebih cantik tanpa seragam polisi. Tapi akan lebih cantik kalau kau memakai gaun warna putih.”

Malam ini, Mark mengunakan kemeja putih lengkap dengan tuxedo dan jas berwarna hitam. Tentu saja dengan topeng Shadow. Tentu saja dia berani mengunakan topeng Shadow, karena sampai saat ini hanya aku yang tahu bagaimana bentuk topeng Shadow. Tanpa banyak berkata, Mark langsung menarikku dalam pelukannya. Dia menaruh kedua tanganku dilehernya. Dan tangannya sekarang sudah ada di pinggulku.

“Ternyata kamu masih berani datang. Padahal kamu sudah tahu disini banyak polisi yang mengepung.”

“Aku memang Shadow. Tapi, bukan aku yang mengirimkan surat ke kantor polisi. Aku akan membuktikannya padamu. I promise.”

Saat aku membuka mulutku, dia meletakan telunjuknya dibibirku. Dan akupun hanya bisa diam. Mark memelukku. Aku merindukan pelukannya. Pelukan yang selalu bisa membuatku tenang.

“You give me strength, you give me hope, you give me someone to love someone to hold,When I'm in your arms, I need you to know, I've never been,
I've never been this close”

Mark mengikuti lagu yang sedang dinyanyikan Shane dan pemain band yang lainnya. Mark menyanyikan lagu itu ditelingga ku dengan lembutnya.

Tiba – tiba…

DUAAAAAAAAARRRRRR…                                                                                          

Suara ledakan terdengar dari  luar. Lampu didalam ruangan semuanya padam. Mark dengan refleknya langsung memperat pelukannya untuk melindungiku. Dia langsung menarikku keluar dari kerumunan orang ditengah ruangan.

“Tunggu disini sampai keadaan aman.” Perintah Mark.
“Tidak, kamu yang tunggu disini karena aku sudah memborgolmu!” kali ini tanganku lebih cepat dari Mark. Aku berhasil memborgol tangan kanan Mark pada kaki meja. Aku lalu mengambil pistolku yang ditaruh dibawah meja itu. Untung aku menaruh senter juga. Aku melepaskan sepatu high heels ku.

“Irene, lepaskan aku! Aku mau mencari bukti kalau aku tidak bersalah.”
“Aku yang akan mencari bukti apa kamu bersalah atau tidak!!”
“Irene, please trust me!!”

Aku langsung berlari ke ruangan tempat lukisan. Belum sampai tempat lukisan, aku mendengar panggilan di earphoneku.

“This is Egan!! Back up please… Back up please… there is a victim here…”
“Copy that!!”

Aku memeriksa radar. Kian berada di brangkas. Dan aku yang berada paling dekat dengan brangkas. Aku langsung berlari menuju brangkas uang. Sesampainya di brangkas, aku mencari keberadaan Kian. Tetapi dia tidak ada dimana pun. Lalu aku menyorotkan senter ke ujung ruangan. Aku terkejut karena ada laki – laki yang tertembak. Aku langsung berlari mengecek kondisinya. Ternyata dia sudah tewas.

Tiba – tiba ada seseorang dari belakang mencoba membekap mulutku. Gawat, ini obat bius!! Aku mencoba melawan, hanya saja dia terlalu kuat. Itulah hal terakhir yang aku ingat sebelum aku pingsan. 

Tuesday, August 28, 2012

Catch the Shadow PART2


Aku sampai di ruangan divisi kriminal dengan terengah – engah. Aku berlari dari lobby karena lift sedang dalam perbaikan. Dan kantor divisi criminal berada di lantai 3. Sesampainya dikantor, aku sangat terkejut. Karena disana ada Brian Mcfadden, polisi yang baru saja kembali dari cuti panjangnya akibat tertembak di kaki kanan. Ia masih memakai tongkatnya hari ini. Tapi bukan itu yang membuat ku terkejut. Seisi kantor bertuliskan “Welcome Back Brian!!”. Jadi, aku berlari kesini hanya untuk… “Irene, kamu terlambat untuk pesta penyambutan Brian!!” Kian menyambutku.
“Bukankah Shane tadi sudah menelponmu??” Nicky terlihat kaget mellihat wajahku yang kaget bercampur dengan kesal.
Dasar Shane!!!
“Hehehe… habis kalau aku bilang padamu, kamu pasti akan menolak dengan alasan kamu sedang sibuk!”
Begitulah jawaban Shane ketika aku menuntut penjelasannya.
“Aku tidak akan memanggilmu Detective Filan seumur hidupku!! Bahkan kalau kamu jadi komisaris sekalipun aku akan tetap memanggilmu Shane!!”
“Santai saja Irene. Nikmati pesta ini”
Shane kemudian meninggalkan ku. Dia kemudian bernyanyi lagu More Than Words dengan iringan gitar dari Kian dan Brian. Huft… Shane memang dari awal ingin menjadi penyanyi bukan polisi. Namun, Dad memaksa Shane masuk akademi kepolisian. Jadi, aku sedikit memaklumi kalau sebagai seorang polisi kelakuannya kadang aneh.
“Kali ini aku setuju dengan pendapat Shane.”  Nicky membuyarkan lamunanku.
Nicky memberiku segelas jus jeruk. Peraturan kami: tidak ada alcohol di jam kerja. Dengan alasan apapun. Aku menerima jus jeruk pemberrian Nicky dan meminumnya.
“Kamu harus sedikit bersantai Irene. Akhir – akhir ini kamu terlihat kurang bersemangat.”

Tidak, kamu salah Nicky! Beberapa jam yang lalu semangat ku telah kembali. Tapi semangat itu hilang seketika akibat ulah Shane. Mark… aku sangat membutuhkanmu sekarang. Untuk mengembalikan semangatku, dan juga menghindari Nicky.

***

Hari ini tepat 2 hari aku tidak pulang dari markas. Ini akibat surat yang datang ke kantor kami setelah pesta penyambutan Brian. Surat itu berisi
“Aku akan menggambil yang berharga di Bank of England. Pada saat Monalissa dari Utara berada disana. Dan kali ini, benda itu akan menjadi miliku selamanya…
Shadow”
Besok,  Mauritshuis gallery Den Haag, meminjamkan lukisan karya Johannes Vermeer “Girl with a Pearl Earring” atau orang biasa menyebutnya "the Mona Lisa of the North". Lukisan itu akan dipamerkan di Bank of England.
Yang membuat ku bingung adalah, ini pertama kalinya Shadow memberi peringatan sebelum dia beraksi. Dan itu pula yang membuat kami sangat sibuk 2 hari ini. Semua polisi sibuk mencari petunjuk. Untungnya, hari ini Komisaris Hudson member kami waktu untuk istirahat. Kami sangat membutuhkan itu. Terutama Shane. Kakakku itu terlihat sangat stress. Dia bahkan mengikatkan dasinya di kepala! Shane memang terlihat seperti orang gila kalau sedang kelelahan. Saat aku sedang membereskan berkas yang ada dimejaku,
“Surprise…” suara itu datang bersamaan dengan buket bunga mawar berwarna putih didepan mataku.
Aku menerima buket bunga itu. Aku membalikan badan. Dan ternyata dibelakangku ada Mark.
“Mark?!” kata – kata itu yang pertama meluncur dari bibirku.
“Permisi Opsir Filan, saya mau melaporkan orang hilang. Teman saya, Irene Nicole Filan, sudah 2 hari hilang dari apartemennya.” Kata Mark sambil berjalan kedepan ku dan duduk diatas mejaku.
“Hahaha… darimana kamu tahu sudah 2 hari aku tidak pulang??”
“Hahaha… aku tadi ke apartemenmu, kata penjaga pintunya, sudah dua hari kamu tidak pulang. Jadi, aku putuskan untuk datang ke kantor polisi!”
“Kamu datang pada saat yang tepat. Sebentar lagi aku mau pulang.”
Mark melihat ke seluruh ruangan.
“Hei, dimana Shane??”
“Aku tidak tahu, dia terlihat sangat lelah tadi.”
“Hahaha… pasti wajahnya sangat kacau!! Aku ingat saat menjelang dia ujian kelulusan sekolah dulu…”
“Mark…” aku mencoba memotong pembicaraan Mark.
“Apa dia masih lebih pendek dariku?? Hahaha… aku bingung kenapa dia biasa masuk kepolisian! Hahaha…” Mark tertawa lebih keras lagi.
“Mark…”
“EHM…”
“Eh… jangan bilang dibelakangku ada Shane…” ekspresi Mark langsung berubah seketika.
“Jadi itu pendapatmu tentang aku selama ini?!” kata Shane dengan nada sedikit emosi. Shane memang sedikit sensitive kalau mengantuk.
“Hehehe… apa kabar Shane??”
aku tahu. Mark hanya mengalihkan pembicaraan.
“Panggil aku detective Filan!! Mau apa kamu kesini?? Menggangu anak buah ku?!”
“Aku hanya memberi kejutan untuk sahabat lama ku. Tidak boleh?!”
Shane dan Mark memang tidak pernah akur.
“Oh iya! Detective Byrne sepertinya ingin mengajak opsir Filan untuk makan siang.” Kata – kata Shane ditunjukan untukku tapi tatapan matanya menatap tajam ke Mark.
“Kalau dia mau mengajakku makan siang, bilang saja sendiri padaku. Untuk apa dia menyuruhmu?!”
“Itu Nicky.” Kata Shane sambil menunjuk kearah belakangku.
“Hi Irene… kita makan siang yuk!” Nicky bejalan kearahku sambil membawa setangkai mawar merah.
Aku melihat ke arah Mark. Ah gawat, Nicky dalam bahaya!!
“Hahaha… masa Irene mau makan siang dengan orang yang tidak tahu bunga favoritnya?! Bunga favorit Irene itu mawar putih!!” Mark tertawa. Tetapi dia memandang Nicky dengan tajam.
“Hm… memangnya kamu siapa?!”
“Aku sahabat Irene sekaligus calon pacarnya!!”
“What?!” aku dan Shane sama – sama terkejut. Aku memang menyukai Mark, tapi kata – katanya membuat ku terkejut.
Keributan yang dibuat oleh Nicky dan Mark membuat Kian dan Brian mendatangi kami.
“Ada keributan apa ini??” Tanya Brian.
“Keributan yang telah kalian buat terdengar sampai ujung ruangan.” Kian menambahkan.
“Not us, but them!!” kata Shane sambil menunjuk kearah Nicky dan Mark.
Sebelum keributan bertambah panjang, aku menarik Nicky dan Mark.
“Ayo, kita pergi makan siang bertiga!”
“Tapi…” Mark dan Nicky kompak.
“No but!!” jawabku singkat.
Dari kejauhan, aku dapat mendengar suara Shane tertawa bersama Kian dan Brian. Mereka memang selalu senang saat aku tersiksa.

 ***

Suasana makan siangku terasa kaku. Itu karena Nicky dan Mark saling melemparkan tatapan tajam sampai mereka tidak menghiraukan kehadiranku. Hello, I’m here!! Mark mengantarkanku pulang setelah Mark menumpahkan segelas jus jeruk ke kemeja Nicky, sehingga dia harus segera pulang untuk mencuci kemeja seragamnya itu. Kali ini Mark memutuskan untuk menemaniku.
“Tenang Irene. Selama ada aku, tidak akan ada yang berani mengganggumu. I’ll keep you safe!” teriak Mark saat aku sedang berganti baju dikamar mandi.
Kata – kata itu kembali mengingatkanku pada pertemuan pertama kami.

 ***

Saat itu musim panas dan usiaku baru 6 tahun. Aku baru saja mendapatkan hadiah lencana polisi mainan dari Dad. Awalnya aku bermain ditaman bersama Shane. Namun, saat Shane meninggalkanku untuk membeli es krim, 3 anak laki - laki yang berusia sekitar 4 – 5 tahun lebih tua dariku mencoba merebut lencana itu dariku milikku.
“Berikan padaku!!” perintah salah satu dari mereka.
“Inikan punya ku, kenapa kalian mau mengambilnya??” aku berusaha mempertahankan.
“Hei… kalian ini beraninya sama anak perempuan yang lebih kecil dari kalian…” seorang anak laki – laki bermata biru dan berpipi merona tiba – tiba sudah berdiri didepanku.
“Memang kamu berani melawan kami??” Tanya seseorang yang bertubuh paling besar.
“Kamu pegang tanganku, saat aku memberi tanda kita lari dari sini.” Bisik anak itu.
Aku mengangguk. Aku lalu menggapai tangan kanannya dengan tangan kirinya.
“Sekarang!!” aku dan anak itu berlari.
Kami berlari sampai tiba diujung sebuah lorong yang buntu. Hanya terdapat tumpukan kardus. Kami lalu bersembunyi dibalik kardus – kardus itu. Dia memelukku dengan erat. Aku bisa mendengar suara anak – anak nakal itu mencari kami.
“Tenang, I’ll keep you safe. I promise!” bisikan itu membuat hatiku tenang.

 ***

Aku sudah selesai mengganti baju seragamku. Dan tepat seperti dugaanku, Mark sudah tertidur di sofa. Kebiasaanya yang tidak pernah berubah: terlalu mudah tertidur. Ia tertidur masih dengan jaketnya. Aku mencoba melepaskan jaket Mark.
Praaaang…
Tiba – tiba ada suatu benda yang terjatuh dari jaket Mark. Aku mengambil benda itu. Ternyata itu adalah topeng berwarna hitam yang terbuat dari besi persis dengan…
“Shadow!!”
Aku bergegas mengambil pistol cadanganku didalam laci meja disebelah sofa. Aku langsung menodongkan pistolku ke kepala Mark. Saat pistolku menyentuh kening Mark. Dia terbangun.
“Kenapa kamu harus menjadi Shadow?!”
Mark menguap dengan lebarnya. Telunjuk tangan kanannya menutup lubang pistolku. Sedangkan tangan kirinya menutup mulutnya yang menguap.
“Tenang Irene. Aku memang Shadow, tapi aku tidak bermaksud jahat menjadi Shadow.”
“Penjahat tetap saja jahat!!”
“Aku punya alas an sendiri!”
“Kalau begitu, kenapa kamu mengirim surat pada kantor polisi?!”
“Surat apa?! Aku sama sekali tidak…”
Aku memotong kata – kata Mark.
“Cepat kamu pergi dari sini sebelum aku menembak kepalamu!!” aku masih menodongkan pistolku.
“Baiklah aku pergi. Tapi masalah surat, itu bukan aku!! Suatu hari aku akan menjelaskan semuanya padamu. I promise!”
Mark langsung berjalan keluar. Sebelum ia keluar, Mark sempat berbalik badan dan menatapku sebentar. Lalu ia langsung pergi. Argh… kenapa harus Mark?! Orang yang paling aku cintai itu!! Aku tidak menyangka dia akan berubah.

***

Begitu keadaan aman, kami berdua keluar dari persembunyian.
“Terimakasih ya…”
“Hehehe… aku kagum pada keberanian gadis kecil sepertimu melawan mereka tadi. Mungkin kalau aku jadi kamu tadi aku sudah menangis.” Kata anak itu sambil tersenyum. Senyum paling manis yang pernah aku lihat.
“Tapi pada akhirnya kamu tetap menolongku.”
“Kamu yang membuatku jadi berani. Aku Mark, Mark Feehily.” Kata anak itu.
“Aku Irene…”
Setelah kami berkenalan, aku memberikan lencana polisi milikku sebagai ucapan terimakasih.

Monday, August 27, 2012

Catch the Shadow PART.1


“Hei, pencuri!! Jangan bergerak!!” teriakku pada pencuri ulung sambil mengarahkan pistolku padanya.
Pencuri itu berhenti. Kemudian ia mengangkat kedua tangannya. Aku lalu berberjalan perlahan sambil menodongkan pistolku padanya. Aku berdiri tepat dibelakangnya, aku mengambil borgol dari sabukku. Saat aku mencoba memborgol tangan pencuri itu, ia berbalik badan dan menarik tubuhku. Dia mencium bibirku. Beraninya pencuri ini?! Sepertinya dia lupa aku punya pistol!! Dia membisikan sesuatu ditelingaku.
“Panggil aku Shadow…” bisiknya.
Pencuri itu, atau Shadow, mundur dari tempatnya berdiri.
“Kamu terlalu cantik untuk jadi polisi Irene.”
Aku terdiam. Kata – kata itu mengingatkanku pada seseorang.
“Bye, Irene! We’ll meet again… I promise!” Shadow menyadarkan ku dari lamunanku.
Saat aku tesadar dari lamunan ku, Shadow sudah hilang dari pandanganku. Aku langsung ingin mengejarnya. Tetapi tangan kiriku terikat di tiang dekat tempatku berdiri. Saat aku mencoba menembaknya dengan pistol ditangan kananku, ternyata Shadow telah mengeluarkan magazen (tempat peluru) pistolku. !@#$@, ternyata tangannya cepat sekali!
“Irene, kamu ga kenapa – kenapa??” terdengar suara yang aku kenal.

Itu suara Shane Filan, kakakku. Ia datang bersama Kian Egan dan Nicky Byrne. Mereka bertiga adalah temanku sesama detektif kepolisian yang memburu Shadow selama hamper dua bulan terakhir. Shadow adalah seorang pencuri lukisan yang tidak pernah meninggalkan jejak disetiap aksinya. Sampai detik ini hanya aku yang berhasil melihat wujudnya (bahkan dia sempat menciumku!!).
Ternyata penampilannya mirip dengan Kaito Kid, tokoh pencuri disebuah komik favoritku. Hanya saja Shadow menggunakan pakaian serba hitam dan memakai topeng hitam seperti Zoro. Yang membuatnya aneh adalah setiap dia mencuri lukisan, dia selalu meninggalkan lukisan yang sebelumnya ia curi. Dan setelah diteliti, lukisan yang dikembalikannya adalah lukisan asli.

***

Klik… aku menyalakan lampu apartemenku. Hari ini aku sangat lelah karena mengejar Shadow. Aku langsung menjatuhkan tubuhku di sofa. Tiba – tiba ingatanku kembali ke masa kecilku. Saat itu aku berumur 8 tahun.
“Mark, tunggu aku…” aku berteriak pada Mark Feehily, sahabatku yang sedang berlari.
Kami sedang bermain polisi dan pencuri ditaman dekat rumahku. Aku menjadi polisi. Dan Mark menjadi pencuri.
“Ayo cepat Irene Adler… tangkap aku!!” kata Mark.
“Namaku Irene Filan. Jangan pernah panggil aku Irene Adler!!” kataku.
“Kenapa?? Bukankah kamu pengagum Sherlock Holmes?? Lagipula, Irene Adler itu sangat cantik.” Mark yang bingung menghentikan langkahnya.
“Karena aku ingin menjadi polisi seperti ayahku, bukan penjahat seperti kamu.”
“Tapi kamu terlalu cantik untuk menjadi polisi Irene.”
“Dan kamu terlalu bodoh untuk menjadi pencuri. Kena!! Hahaha…” kataku sambil menangkap Mark.
Usia Mark lebih muda satu tahun dari Shane dan dua tahun lebih tua dariku. Tetapi, Mark lebih akrab denganku dibandingkan dengan Shane. Itu karena kami berdua sangat menyukai cerita detektif. Terutama Sherlock Holmes. Sayangnya, hari itu adalah hari terakhir kami bertemu karena keesokan harinya, Mark dan orangtua pindah ke New York. Sudah 15 tahun kami tidak bertemu lagi. Kenapa aku jadi teringat Mark?! Dulu memang dia selalu jadi pencuri dalam permainan kami. Tetapi, itu semua karena aku selalu memaksa jadi polisi. Lagipula untuk apa dia jadi pencuri kalau orang tuanya adalah konglomerat?! Dan pasti dia sudah jadi pelukis terkenal sekarang. Atau mungkin seorang musisi karena dia sudah pandai bermain piano sejak kecil.

***

Akhirnya aku mendapat hari libur. Tetapi tentu saja aku tidak punya waktu untuk beristirahat karena aku masih harus melacak keberadaan Shadow. Hari ini aku mengerjakan tugas – tugas ku sambil menikmati hot chocolate di café kecil dekat apartemenku. Tiba – tiba handphone ku berdering. “I’m the one who want to be with you, deep inside I hope you feel it too…”. Aku langsung menggambil handphone ku didalam tas. Dilayar, tampak tulisan “MY SHORTY BIG BROTHER”. Yap, itu Shane, dia memang polisi paling pendek dalam divisi criminal. Aku memang lebih pendek darinya, tapi aku kan perempuan.
“Halo”
“Irene, kamu sudah dapat petunjuk baru??” Tanya Shane.
“Ya belum lah kak! Harusnya aku yang Tanya sama kakak. Kan kakak yang sedang bertugas di markas.”
“Tapi sebagai pemimpin misi Shadow, jadi aku harus bertanya.” jawab Shane.
“Tapi kan 15 menit yang lalu, kakak baru menelpon ku?!”
“Oh iya ya.” Jawab kakakku dengan nada polos.
“Ada yang mencurigakan ini?! Pasti tujuan utama kakak telpon bukan ini. Ayo jawab!!” aku mulai curiga dengan tingkah Shane.
“Hehehehe… sebenarnya aku menepon untuk bilang… Nicky mau ngajak kamu dinner!! Hahaha…”
“Shane, apa – apaan sih?!”
Aku bisa mendengar teriakan Nicky yang disusul oleh suara Shane dan Kian yang tertawa bersama.
“Kalian menganggu waktu istirahatku yang sedang aku pakai untuk memecahkan kasus. Kalau aku adukan ini pada Mr. Hudson dia pasti akan marah, dan bisa – bisa kalian langsung turun pangkat. Atau malah kalian akan dipindahkan jadi divisi pembersihan kantor polisi alias OFFICE BOY!!” aku sedikit menekan pada kata office boy.
“Gleeeek…” sepintas aku mendengar Shane menelan ludahnya. Dan aku yakin Kian dan Nicky juga begitu. “Oke kalau gitu adikku sayang. Jangan lupa makan ya! Bye…” ucap Shane terburu - buru sebelum menutup telpon.
Dasar Shane! Setiap aku mulai emosi dia pasti langsung kabur. Nicky memang sudah lama mendekatiku. Tapi aku selalu menampakan sifat ketusku. Nicky memang menarik. Dengan rambut blonde dan penampilannya yang terlalu stylish untuk ukuran polisi. Ditunjang dengan postur tubuhnya yang atletis karena sebelum masuk kepolisian, dia juga atlet sepak bola tim SMAnya. Aku menggapai gelas hot chocolate ku. Ternyata isinya sudah kosong. Loh?! Aku kan baru minum sedikit?!
“Sepertinya Ms. Adler mencari isi cangkirnya yang hilang…”
Aku seperti mengenal suara itu. Dan satu – satunya orang yang memanggilku Adler adalah…
“MARK!!” teriak ku saat melihat Mark yang sudah duduk disebelahku.
Rupanya aku terlalu sibuk mengatasi gangguan dari kakakku dan kedua temannya yang gila itu hingga tidak menyadari kehadiran Mark. Tidak ada yang berubah dari fisik Mark. Matanya masih tetap sayu, pipinya masih merah merona. Kecuali sekarang ada tidikan ditelinganya.
“Ternyata Irene Adler ku sekarang sudah menjadi seorang polisi yang cantik. Seperti cita – citanya dulu.”
“Kapan kamu pulang dari New York?? Dan bagaimana kamu tahu aku ini polisi?? Bagaimana kamu tahu ini aku??”
“Hei, aku ini sahabatmu, bukan buronan yang sedang kau introgasi. Bertanyalah pelan – pelan.”
“Oke… oke… jawab satu persatu…”
“Pertanyaan pertama, aku kembali sudah sekitar 3 – 4 bulan.”
“Then??”
“Pertanyaan kedua, saat aku duduk disini, cukup untukku mendengar pembicaraanmu dan Shane tentang markas, pangkat, dan ehm… siapa tadi yang ngajak kamu dinner?? Ah iya, Nicky!!”
Ternyata dia mendengar semua pembicaraanku dan Shane.
“Dan yang ketiga, bagaimana aku tidak bisa mengenalimu kalau kamu masih pakai gelang pemberianku dulu!! Walaupun talinya sudah diganti, tapi aku tahu itu bandul gelangku.”
Aku memandang tangan kiriku. Disitu melingkar gelang yang diberikan Mark untukku. Dibandul yang berbentuk seperti palet cat itu terdapat ukiran M, inisial Mark, karena memang itu milik Mark yang aku minta sebelum dia berangkat ke New York. Aku begitu merindukan Mark, alasan utamaku menolak Nicky. Mark adalah cinta pertamaku. Bukan… bukan… dia satu – satunya orang yang membuatku jatuh cinta.
“Kelihatannya kamu sedang sibuk?? Kamu sedang mengerjakan kasus apa??” pertanyaan Mark memecahkan lamunanku.
“Aku sedang mendapat tugas memburu Shadow, pencuri lukisan yang sering muncul akhir – akhir ini.”
“Yang aku baca di Koran, dia selalu mengembalikan lukisan yang telah dia curi?! Bukankah itu tandanya dia tidak berbahaya??”
“Menurut kapten Hudson, kalau kejahatan kecil dibiarkan lama – lama bisa menjadi besar. Siapa tahu saja dia tiba – tiba berubah jadi berbahaya. Semua orang kan bisa berubah!”
“Tapi tidak ada yang bisa menjamin orang itu akan berubah.”
“Kenapa kamu membelanya Mark?!”
“Bukan membela, ta… tapi kenapa kamu tidak bertanya padaku apa saja yang kulakukan di New York?!”
Segala tentang Shadow membuatku melupakan hal terpenting dalam hidupku.
“Baiklah, sekarang aku akan bertanya. Apa yang kau lakukan di New York??”
“Aku sekolah, kuliah di NYU jurusan art, lulus kuliah dalam 3 tahun, mencoba membantu bisnis label orang tua ku, tetapi aku bosan akhirnya aku kembali ke London.”
“Untuk apa kamu kembali ke London??”
“Jadi kamu tidak senang aku kembali?!” Mark menatapku dengan tatapan kecewa. Dan aku tahu pasti dia hanya berpura – pura.
“Untuk apa kamu kembali??”
“Yang pasti bukan untukmu.” Jawab Mark datar.
“Baiklah, aku pergi! Mungkin nanti aku akan makan malam dengan Nicky.”
Aku berdiri dan langsung membereskan barang – barangku di atas meja.
“Eh, iya… iya… Irene! Aku kembali karena aku… aku… ah sudahlah, yang penting aku bisa bertemu denganmu lagi!”
Sepintas aku melihat pipi Mark menjadi lebih merah dari biasanya. Yes, rencanaku berhasil!! Mark memang terlalu bodoh. Aku tahu dia adalah seseorang yang memiliki gengsi yang besar. Tapi, aku lebih pintar darinya. Aku menghabiskan siang itu bersama Mark. Obrolan ku dan Mark memang tidak menghasilkan petunjuk Shadow sama sekali. Tapi aku menjadi semangat kembali mencari jejak Shadow.
Mark mengantarkan aku sampai apartemenku dengan motornya. Untung Mark membawa helm cadangan.
“Kamu mau mampir??”
Aku mengembalikan Helm pada Mark. Mark membuka kaca helmnya.
“Lain waktu saja. Aku ada urusan. Bye…”

Mark lalu memacu motornya. Aku baru masuk kedalam lobby apartemen saat Mark sudah benar – benar menghilang dari pengelihatanku. Ah, aku benar – benar merindukannya.

***

Baru saja aku beristirahat, terdengar suara handphoneku berdering. I’m the one who want to be with you, deep inside I hope you feel it too…”. Ya, siapa lagi kalau bukan Shane?!
“Halo… ada apa kak??” jawabku datar
“Panggil aku detective Filan!! Aku menelpon sebagai pemimpin kasus Shadow. Cepat ke kantor sekarang!” Shane langsung menutup telponnya.
Kalau dia meminta dipanggil detective Filan, ini pasti urusan serius. Aku bergegas memakai seragam polisiku. Aku memakai seragam karena aku masih dalam masa percobaan di divisi criminal. Aku pun langsung berangkat.





Monday, August 20, 2012

Boyband vs. Bandboy PART. 6


PART. 6
DAPUR DAN RUANG MAKAN
Kian sedang membaca Koran di meja makan,. Sesekali ia menyeruput secangkir kopi didepannya.
“Nikmatnya bangun pagi…” gumam Kian.
Tak lama, Jay masuk ke ruang makan. Kian menatap Jay dengan tatapan yang tajam. Jay mengacuhkan Kian dan berjalan menuju kulkas. Ia lalu mengambil ke kotak susu coklat ukuran 1 liter. Jay langsung meminum susu dari kotaknya sampai habis. Ia lalu mengembalikan kotak susu yang telah kosong itu ke dalam kulkas. Dari kejauhan terdengar suara Cory sedang menelpon seseorang. Suara Cory semakin jelas ketika dia masuk.
“I… ya… Lea sayang. Aku lupa kemarin ngabarin kamu… ta… ta…”
Jay melihat kearah Cory. Cory melintangkan jari telunjuknya dileher sambil menampakan ekspresi takut. Kian mengintip Cory dan Jay dari balik Koran. Nicky masuk ke ruang makan lalu mengambil sebotol air mineral di kulkas. Ia lalu duduk disebelah Kian. Dan mereka pun memulai pembicaraan dengan mengunakan bahasa tubuh.
“Kenapa itu si Orcha??” Tanya Nicky.
“Ga tau, tapi yang jelas lagi berantem sama orang ditelpon tapi daritadi dia ga dikasih kesempatan ngomong” jawab Kian.
“Itu bukan berantem, tapi diomelin!!”
Tiba – tiba…
“Eh, lu berdua lagi ngomongin gue ya?!” Tanya Cory pada Kian dan Nicky.
“Engga, geer banget lu jadi orang!!” jawab Kian dan Nicky kompak.
Belum sempat Cory membalas kata – kata Nicky dan Kian, dari handphone Cory terdengar teriakan Lea…
“CORY!!! KAMU LAGI NGOMONG SAMA SIAPA SIH?!?!?! AKU BELUM SELESAI NGOMONG TAU!!!”
“Eh, iya! Aku lagi dengerin kamu ngomong kok tenang aja…” kata Cory sambil berlari keluar.
Saat Cory berlari, ternyata Shane sedang berjalan masuk menuju dapur. Dan tabrakan hebat pun tak dapat terhindarkan.
“Hah, Lu lagi!!!!” teriak Shane begitu melihat Cory.
Tetapi, Cory mengacuhkan kata – kata Shane. Ia langsung melankjutkan perjalanannya. Shane berdiri dengan wajah marah. Shane langsung berjalan ke arah kulkas.
“Hai Shane..” sapa Kian.
“Shane, tulang lu ga ada yang remukkan ketabrak Orcha??” Tanya Kian.
Shane menghentikan langkahnya sejenak. Ia lalu menjawab pertanyaan Kian dan Nicky dengan tatapan yang menandakan suasana hatinya sedang emosi.
“Gleek…” Kian dan Nicky menelan air liur mereka.
Shane lalu melanjutkan perjalanannya menuju kulkas. Sementara itu, didepan pintu masuk, Heejun dan Mark berebut masuk ke ruang makan. Alhasil, tubuh mereka tersangkut dipintu.
“Gue duluan!!” teriak Mark.
“Enak aja, kan gue duluan yang mau masuk!!! Dasar Freewilly!!!” balas Heejun.
“Nama gue Feehily bukan Freewilly!! Emang gue Orcha apa?!?! Dasar gendut!!!”
“Eh ngaca dong!! Situ kurus emangnya?!!”
“Eh kita nyangkut itu gara – gara badan lu terlalu lebar!!”
Brian datang lalu berdiri dibelakang Mark dan Heejun  yang sedang tersangkut. Tak lama, Colton datang dengan rambut yang masih basah. Ia lalu berdiri disamping Brian dan ikut mengamati Mark dan Heejun yang sedang tersangkut. Cory yang baru selesai menelpon bingung melihat keadaan Mark dan Heejun yang masih tersangkut. Brian menatap Cory dan Colton bergantian. Cory dan Colton menganguk. Mereka bertiga kemudian  berdiri dibelakang Mark dan Heejun. Dengan kompak mereka mendorong Heejun dan Mark. Mereka berdua berhasil lepas dari pintu. Namun sayangnya, Mark dan Heejun tidak bisa menjaga keseimbangan dan terjatuh. Dan Cory, Colton juga Brian memperburuk keadaan. Mereka bertiga mendarat dengan suksesnya diatas tubuh Mark dan Heejun. Kian, Nicky dan Jay yang melihat kejadian ini dari dalam langsung tertawa terbahak – bahak. Sementara itu, Shane memasukan kepalanya kedalam kulkas seperti mencari sesuatu. Brian langsung berdiri lalu mengalihkan perhatian yang lain dengan menghampiri Shane.
“Shane, lu lagi cari apa sih??” Tanya Brian.
“Gue lagi nyari susu coklat punya gue. Semalam masih ada, tapi sekarang tinggal kotaknya doang?!” kata Shane bingung.
 “Masa bisa ilang??” Tanya Brian bingung.
“Itu, si poni bego yang minum satu kotak!!” teriak Kian.
“Heh, sembarangan lu, gue dibilang poni bego!! Kayak lu ga punya poni aja?!?!” teriak Jay.
“Oh jadi lu yang udah minum susu punya gue?!?! Dasar Bantet!!” teriak Shane.
“Enak aja panggil gue bantet, kayak lu tinggi aja!! Bukannya lu kemarin udah dikasih jatah 2 liter?!” balas Jay.
“Itukan kan jatah sehari gue!! Dalam sehari gue harus minum 2 liter susu!! Dasar hobbit!!” teriak Shane.
“Hobbit lagi, eh ngaca lu Shorty!!”
“Heh, sembarangan aja lu manggil gue Shorty, Hobbit!!”
“Shorty!!!”
“Hobbit!!”
“ckckck… dua member terpendek dari masing – masing grup berantem rebutan susu.” Kata Cory
“Makanya gue ga percaya khasiat susu untuk meninggikan badan.” Tambah Brian.
“Hehehehe… Shane lagi ngamuk… update twitter dulu ah…” gumam Nicky.
“Colton, itu rambut lu tumben banget basah pagi – pagi??” Tanya Heejun.
“Itu tuh, poni batok nuker wax gue sama minyak rem!!” jawab Colton.
Kian dengan wajah tanpa dosa mengalihkan pandangannya sehingga Colton makin emosi dan melemparnya dengan sepatu yang dipakainya. Sepatu itu pun mendarat persis di kepala Kian.
Plaaaaaaaakkkk…
“Eh, lu gila ya?! Ngapain sepatu butut gini lu lempar ke gue?!” Kian kesal.
“Lu sendiri kenapa nuker wax gue sama minyak rem?!” balas Colton.
Pertengkaran Kian dan Colton menambah ribut suasana didapur pagi itu. Mark terdiam memikirkan sesuatu.
“Daripada gue ngelihat mereka rusuh mending gue nyari Jade.” Pikir Mark.
Mark pun meninggalkan ruangan itu. Heejun kebingungan mencari Phillip. Ia memutuskan bertanya pada Cory yang sedang asik bersama Brian  menonton keributan Shane vs. Jay.
“Cory, lu tau ga PP dimana??” Tanya Heejun.
“Kenapa lu Tanya gue?? Itu ada Brian yang satu kamar sama dia!” jawab Cory.
“Eh, Ogre! Temen gue kemana?! Lu telen lagi jangan – jangan?!” Tanya Heejun pada Brian.
“Emang gue kanibal apa?! Main makan orang?! Kalo pun gue kanibal juga milih – milih, masa Phillip yang kurus gitu gue makan!!” Brian sewot.
“Terus PP kemana?!” Tanya Heejun sewot.
“Sakit dia, kayaknya masuk angin. Tadi kentut bau banget.” Jawab Brian datar.
“Hm… daripada gue disini, mending gue nengok PP.” pikir Heejun.
Heejun pun pergi dari ruangan itu.
DEPAN KAMAR JADE
Mark datang dengan membawa gitar. Dia berdiri tepat didepan pintu kamar Jade. Mark lalu memainkan beberapa kunci gitar. Tak beberapa lama ia pun mulai bernyanyi. I’ll be your dreams, I’ll be your wish, I’ll be your fantasy. I’ll be your hope,l’ll be your love, be everything that you need… . Belum lama Mark bernyanyi, pintu kamar terbuka. Jade keluar dari kamarnya dan langsung memeluk Mark. Wajah Mark langsung memerah.
WAIT… ternyata itu semua Cuma ada dipikiran Mark.
“Hehehe… siapa sih yang bisa nolak pesona gue??”
Mark lalu mulai bernyanyi. Kali ini dalam kenyataan.
I’ll be your dreams, I’ll be your wish, I’ll be your fantasy. I’ll be your hope,l’ll be your love, be everything that you need… dan seterusnya. Tapi, Jade belum juga keluar dari kamar. Mark mengeraskan suaranya. Tetapi, Jade tidak juga keluar. Yang terbuka malah pintu kamar sebelah. Ryan mengeluarkan kepalanya melihat keributan yang dibuat oleh Mark didepan kamar Jade.
“Mark, nyanti buat siapa lu??” Tanya Ryan.
“Ya buat Jade lah, ga mungkin buat lu! masalah buat lu??” jawab Mark.
“Yang jadi masalah, Jade itu daritadi udah keluar dari kamar!!” jelas Ryan.
“WHAT?? Kenapa ga bilang daritadi?!” kata Mark kaget.
“Lu ga nanya…” jawab Ryan datar.
Tanpa banyak basa – basi, Mark langsung pergi meninggalkan Ryan.
“MAKASIH!!!” teriak Ryan.
Ryan pun kembali masuk ke kamarnya.

KAMAR BRIAN DAN PHILLIP
Heejun perlahan membuka pintu kamar Phillip. Ruangan itu begitu sepi, karena Phillip sedang tertidur. Heejun pun berjalan perlahan. Saat Heejun sampai di dekat tempat tidur Phillip,
“Ckckck… kasian PP!! fans the Skippers harus tau nih kalo PP sakit…” pikir Heejun.
Heejun termenung. Kemudian ia mendapat sebuah ide. Heejun berlari ke kamar mandi. Entah apa yang dia ambil.

BALKON
Jade sedang sibuk mengetik tugas skripsinya di laptop. Secangkir cappucinno disebelah laptopnya, dibiarkan dari panas sampai dingin. Heeseung duduk didepan Jade memperhatikannya sambil sesekali menyeruput kopi dicangkirnya.
“Arghhh…!!!” teriak Jade sambil menarik rambutnya.
“Hahaha… kenapa?? Stress ya??” Tanya Heeseung.
“Iya nih Aiden oppa. Tiba – tiba stuck!!” jawab Jade.
“Makanya tenang, itu cappucinno dari panas sampai dingin di diemin. Minum dulu lah…” kata Heeseung.
“Oh iya, sampai lupa!!” kata Jade sambil mengambil cangkirnya.
“WHAT?! Cicak ga sopan!! Cappucinno belum sempat gue minum udah nyemplung duluan!!” teriak Jade.
“Hahahaha… tuh kan, keduluan cicak!!” Heeseung tertawa melihat cangkir Jade berisi cicak yang sedang berenang di Cappucinno.
“Huft… terpaksa bikin lagi…” hela Jade.
“Udah aku aja Jade yang bikin lagi. Kopi ku juga udah abis.” Kata Heeseung.
“Hah… yang bener oppa?!”
“Iya, ga papa. Biar kamu lanjutin ngetika lagi.”
Saat Jade memberikan cangkirnya pada Heeseung, Mark yang sedang mencari Jade, langsung marah melihat kejadian itu. Ia langsung mendatangi Heeseung dan merebut cangkir Jade dari tangan Heeseung.
“Heh!! Apa – apaan lu minum dari cangkir Jade?! Sini biar buat gue aja!!” teriak Mark sambil merebut cangkir Jade.
“Tapi Mark, itu…” kata Heeseung.
“Udah oppa biarin aja, ikutin aja apa kata dia!!” kata Jade.
Heeseung pun melepas cangkir itu. Mark langsung meminum isi cangkir itu tanpa melihatnya.
“Tapi Mark, cangkir itu ada cicaknya!!” kata Heeseung.
Mark dengan wajah tidak percaya melihat isi cangkir itu. Dan ia pun langsung berteriak.
“CICAAAAAAAAAAKKKKK…”
Mark langsung membuang isi cangkir ke bawah balkon.
“Aaaaaa…” teriak seseorang dibawah.
Mendengar suara teriakan, Mark langsung melihat kebawah. Ternyata itu adalah teriakan Karen yang terkena cappucinno yang dibuang Mark.
“Aaaaa… ada cicaknya lagi!!! Mark… ini pasti kerjaan lu!!! awas lu entar!!!!” teriak Karen emosi.
Wajah Mark seketika berubah menjadi wajah ketakutan. Sedangkan Jade dan Heeseung tertawa melihat wajah Mark yang sedang panik.