Dublin, November 5, 2004
Jane,
mo ghrá... jangan pergi! Aku mohon...
Kian terbangun dari mimpinya dengan
peluh yang membasahi wajah dan tubuhnya. Mimpi itu datang lagi. Mimpi tentang
Jane, kekasihnya yang tinggal di Sligo. Kian memandang kearah meja yang
terletak disebelah mejanya. Jam digital masih menunjukan angka 4 yang diikuti
oleh angka 35. Entah kenapa, beberapa hari ini Kian selalu bermimpi dia
berpisah dengan Jane selamanya.
“Apa yang terjadi pada Jane??” gumam
Kian.
Kian dan Jane memang sudah tidak
dapat berkomunikasi sejak orang tua Jane melarang hubungan mereka. Alasannya
klise: Kian adalah seorang musisi. Stereotype buruk yang melekat pada ‘musisi’
membuat orang tua Jane melarang anaknya bersama Kian. Sudah hampir setahun
mereka berdua tidak bertemu.
Mungkin ini karena aku
merindukanmu, mo ghrá...
Sligo, November 7, 2003
“Aku akan ke Dublin bersama dengan
Mark dan Shane. Aku akan membuktikan pada orang tuamu bahwa aku akan berhasil.”
“Aku ikut, Ki!” Jane memohon. Mata
hijau Jane sudah berkaca – kaca. Hanya tinggal menuggu waktu untuk menumpahkan
seluruh air matanya.
Kian dan
Jane berdiri di daerah perbukitan. Itu adalah tempat favorit mereka. Padang
rumput menghapar luas. Sejauh mata memandang, hanya ada warna hijau. Langit
menunjukan mendung. Pertanda sebentar lagi akan turun hujan.
“Tidak, kamu tidak boleh ikut. Orang
tuamu akan makin membenciku...” Kian memang berpikir lebih jauh tentang
semuanya.
“Kapan
kamu akan berangkat??” Air mata Jane mulai membasahi pipinya.
Batin
Kian tersiksa melihat Jane menitikan air mata. Namun, tekatnya sudah bulat. Dia
akan ke Dublin.
“Besok.
Pagi – pagi sekali aku akan berangkat.”
Jane
dan Kian berpelukan dengan erat. Dia langsung menangis di pelukan Kian. Membuat
pria itu makin tersiksa.
“Aku
akan kembali. Temui aku satu tahun lagi di tempat ini.”
Sepertinya
langit pun ikut menangis melihat kesedihan mereka berdua. Tetesan air perlahan
turun menjatuhi bumi. Hujan pertama di bulan November.
“Dan
ingatlah, hujan ini yang akan selalu menghapus kesedihanmu, mo ghrá.”
Dublin, November 5, 2004
“Cheers!!”
Seru Mark, Shane, Nicky dan Brian sambil menyatukan gelas berisi bir milik
mereka.
Mereka
merayakan keberhasilan penampilan mereka menjadi pembuka di festival musik
besar di Dublin tadi siang. Ini adalah pencapaian terbesar Kian, Mark dan Shane
sejak mereka tiba di Rainy city of Ireland. Bersama Nicky dan Brian, dua orang
yang tinggal di sebelah kamar flat mereka, tiga pria Sligo itu membuat band. Namun,
Kian masih belum dapat melupakan mimpinya itu.
“Ada
apa, Ki?? Daritadi kau hanya diam.” Tanya Mark.
“Benar
kata Mark. Tidak biasanya kau sediam ini.” Brian menambahkan.
“Aku
bermimpi tentang Jane lagi semalam.”
“Jane
pacarmu di Sligo??”
Kian
menjawab pertanyaan Nicky dengan anggukan.
“Ya,
Nick! Hanya ada satu Jane di hidup Kian. Dan karena dia, Kian termotivasi
membawa kita pada keberhasilan.” Jelas Shane.
“Sudah
hampir setahun kalian tidak bertemu.” Mark mencoba mengingat jalan hidup
sahabatnya itu.
“Benar,
Mark! Aku berjanji akan kembali pada tanggal 7 November. Jadi, besok aku akan
kembali ke Sligo.”
“Aku
ikut, Ki! Sudah hampir setahun kita tidak pulang.” Mark langsung bersemangat
mendengar kota kelahirannya disebut.
“Sepertinya,
akan menyenangkan kalau kita berlibur bersama ke Sligo.” Nicky memberikan ide.
“Aku
juga sudah rindu dengan keluargaku.” Pikiran Shane langsung menerawang ke
rumahnya.
“Wah,
aku juga mau mencicipi masakan di Carlton Flight milik keluarga Filan.”
Shane
langsung melirik kearah Brian begitu nama restoran dan kelurganya disebut.
“Sepertinya
restoranku akan bangkrut...” Gumaman Shane masih bisa didengar yang lainnya.
“Hahahahahaha...”
Kian tertawa bersama dengan Brian, Nicky dan Mark. Namun, pikiranya tetap tak
bisa lepas dari Jane.
Aku akan pulang mo
ghrá...
Sligo, November 6, 2004
Mo
ghrá, tolong jangan tinggalkan aku!! Aku tak mau sendiri...
Lagi
– lagi Kian terbangun karena mimpi yang sama. Keringat membasahi kening dan
tubuhnya. Namun, kali ini ada berbeda. Yang dilihatnya saat bangun bukan lagi Shane
yang tertidur diranjang yang terletak dipojok lain ruangan. Melainkan, tembok
yang dipenuhi oleh poster Metallica, Bon Jovi, Mr. Big, dan beberapa band lain.
Kian sudah ada dikamarnya. Sepasang mata biru itu langsung mencari jam.
Masih tengah malam, aku tak
sabar menunggu esok tiba! Semoga Jane baik – baik saja.
Kian
lalu melanjutkan tidurnya lagi. Perjalanan dengan bus selama 5 jam dari Dublin
menuju Sligo cukup membuat tubuh Kian kelelahan.
Sligo, November 7, 2004
Kian
memutuskan untuk menikmati pagi dengan berjalan – jalan. Dia berjalan kaki
menuju ke restoran milik Shane yang hanya berjarak beberapa blok dari rumah
keluarga Egan. Saat tiba Carlton Flight, yang didapat Kian adalah kertas
bertuliskan “Tutup untuk sementara waktu.”
Apa yang terjadi?? Hm...
mungkin mereka sedang merayakan kedatangan Shane.
Tiba
– tiba ada sesuatu yang membuyarkan pikiran Kian. Dia melihat sosok wanita
cantik yang sangat dikenalnya. Dia berjalan diseberang jalan. Itu adalah sosok
yang sangat dirindukan Kian.
“Jane!!”
Teriak Kian. Dia lega Jane terlihat sehat.
Jane
sepertinya tidak mendengarkan panggilan Kian. Dia terus berjalan dengan terburu
– buru.
Apa Jane sudah tidak
mengenaliku?? Baiklah, aku akan mengikuti dia.
Kian
mengikuti Jane berjalan. Langkah kaki Jane membawanya kesebuah rumah sakit.
Rumah sakit?? Siapa yang
sakit??
Jane
terus berjalan menyusuri lorong rumah sakit menuju ke ruang Emergency. Kian
semakin bingung dengan apa yang terjadi. Kepalanya berputar – putar memikirkannya.
Kian semakin bingung ketika dia melihat orang – orang yang dikenalnya.
“Mom??
Dad?? Apa yang terjadi??”
Kian
bingung melihat kedua orang tuanya itu bersedih. Ibunya bahkan menangis
histeris. Bukan hanya ada orang tuanya. Keluarga Filan dan Feehily juga ada
disitu.
Jangan – jangan Shane atau
Mark...
Jane
berjalan memasuki suatu ruangan. Nicky, Brian, Shane dan Mark berdiri
melingkari sebuah ranjang. Setidaknya Kian lega Shane dan Mark baik – baik
saja. Di ranjang itu, terdapat sesosok tubuh yang diselimuti oleh kain putih.
“Di...
dia... apa dia...” Jane tidak melanjutkan kata – katanya. Wajahnya pucat.
Shane
dan yang lain mengangguk lemah. Kian semakin bingung dengan semua itu.
Siapa yang ada dibalik
selimut itu??
Dengan
perlahan, Jane membuka kain itu. Sepasang mata hijau milik Jane tidak dapat
menahan air mata. Dia terlihat sangat terpukul. Untung Shane dan Mark sempat
menangkap tubuh Jane sebelum dia terjatuh. Kian pun tidak kalah kagetnya
melihat tubuh yang ada di ranjang itu. Tubuh itu adalah miliknya!
Sligo, November 6, 2004
Kian,
Mark, Shane, Nicky dan Brian tiba di Sligo setelah perjalanan berjam – jam. Brian
dan Nicky langsung merenggangkan otot mereka yang kaku karena duduk didalam
bis. Sedangkan Mark membuka mulutnya dengan lebar. Setiap kali dia menguap,
rasanya seluruh tas mereka bisa terhisap ke mulutnya.
“Sekarang,
apa yang akan kau lakukan, Ki??” Tanya Shane.
“Aku
akan memberikan ini pada Jane.”
Kian
mengeluarkan sebuah kotak kecil berwarna merah dari saku jaketnya. Dia kemudian
membukanya. Isinya adalah sebuah cincin dengan ukiran Mo ghrá,
yang berarti cintaku dalam bahasa Irlandia. Saat Kian
sedang memperlihatkan cincin itu pada Shane, seseorang menabrak tubuh Kian
hingga cincin itu terlempar kejalan raya.
“Ah,
sial...” Umpat Kian.
Kian
lalu berjalan menuju tempat cincin itu. Saat dia sedang menunduk, sebuah truk
dengan kecepatan tinggi menghantam tubuhnya hingga dia terseret beberapa meter
dari tempatnya berdiri.
“Kiaaaaaaannnnnnn...”
Sligo, November 7, 2004
Jane
duduk termenung di bukit favoritnya bersama Kian. Kekasihnya itu telah
meninggal tadi pagi setelah bertahan selama 12 jam dalam kondisi kritis. Jane
menggenggam cincin yang tadinya akan diberikan oleh Kian untuknya. Cincin yang
juga secara tidak langsung merengut nyawa Kian. Perlahan air mata menetes
membasahi pipi Jane.
Kenapa kamu meninggalkanku,
Ki?? Setelah setahun aku menantimu, hari ini kamu pergi untuk selamanya. Kita
bahkan belum sempat bertemu lagi... Aku membutuhkanmu, Kian...
Jane
mendekap kedua lututnya. Air matanya semakin deras mengalir, ketika kilatan
kenangannya bersama Kian ditempat itu datang. Dia benar – benar mencintai Kian.
Meskipun Jane hanya memanggil Kian dengan nama Kian. Tak ada panggilan spesial.
Tentu saja karena cinta bukan hanya diungkapkan lewat kata.
Kian
hanya bisa duduk disebelah Jane. Dia tidak bisa lagi menyentuh Jane. Tak ada yang bisa dilakukannya kecuali
melihat wanita yang paling dicintainya itu menangis meratapi kepergiannya.
Mo
ghrá, mungkin aku tidak bisa menyentuhmu lagi. Aku tidak bisa berada
disampingmu lagi. Tapi, satu yang pasti. Cintaku akan selalu bersamamu.
Selamanya...
Rintik
– rintik air turun membasahi bumi. Air itu juga membasahi pipi Jane. Menghapus
air mata di pipi Jane. Hujan pertama di bulan November.
“Dan
ingatlah, hujan ini yang akan selalu menghapus kesedihanmu, mo ghrá.”
THE
END...
No comments:
Post a Comment