Sunday, May 19, 2013

NOVEMBER’S RAIN...



Dublin, November 5, 2004

Jane, mo ghrá... jangan pergi! Aku mohon...
            Kian terbangun dari mimpinya dengan peluh yang membasahi wajah dan tubuhnya. Mimpi itu datang lagi. Mimpi tentang Jane, kekasihnya yang tinggal di Sligo. Kian memandang kearah meja yang terletak disebelah mejanya. Jam digital masih menunjukan angka 4 yang diikuti oleh angka 35. Entah kenapa, beberapa hari ini Kian selalu bermimpi dia berpisah dengan Jane selamanya.
            “Apa yang terjadi pada Jane??” gumam Kian.
            Kian dan Jane memang sudah tidak dapat berkomunikasi sejak orang tua Jane melarang hubungan mereka. Alasannya klise: Kian adalah seorang musisi. Stereotype buruk yang melekat pada ‘musisi’ membuat orang tua Jane melarang anaknya bersama Kian. Sudah hampir setahun mereka berdua tidak bertemu.
Mungkin ini karena aku merindukanmu, mo ghrá...

            Sligo, November 7, 2003

            “Aku akan ke Dublin bersama dengan Mark dan Shane. Aku akan membuktikan pada orang tuamu bahwa aku akan berhasil.”
            “Aku ikut, Ki!” Jane memohon. Mata hijau Jane sudah berkaca – kaca. Hanya tinggal menuggu waktu untuk menumpahkan seluruh air matanya.
            Kian dan Jane berdiri di daerah perbukitan. Itu adalah tempat favorit mereka. Padang rumput menghapar luas. Sejauh mata memandang, hanya ada warna hijau. Langit menunjukan mendung. Pertanda sebentar lagi akan turun hujan.
            “Tidak, kamu tidak boleh ikut. Orang tuamu akan makin membenciku...” Kian memang berpikir lebih jauh tentang semuanya.
“Kapan kamu akan berangkat??” Air mata Jane mulai membasahi pipinya.
Batin Kian tersiksa melihat Jane menitikan air mata. Namun, tekatnya sudah bulat. Dia akan ke Dublin.
“Besok. Pagi – pagi sekali aku akan berangkat.”
Jane dan Kian berpelukan dengan erat. Dia langsung menangis di pelukan Kian. Membuat pria itu makin tersiksa.
“Aku akan kembali. Temui aku satu tahun lagi di tempat ini.”
Sepertinya langit pun ikut menangis melihat kesedihan mereka berdua. Tetesan air perlahan turun menjatuhi bumi. Hujan pertama di bulan November.
“Dan ingatlah, hujan ini yang akan selalu menghapus kesedihanmu, mo ghrá.”

Dublin, November 5, 2004

“Cheers!!” Seru Mark, Shane, Nicky dan Brian sambil menyatukan gelas berisi bir milik mereka.
Mereka merayakan keberhasilan penampilan mereka menjadi pembuka di festival musik besar di Dublin tadi siang. Ini adalah pencapaian terbesar Kian, Mark dan Shane sejak mereka tiba di Rainy city of Ireland. Bersama Nicky dan Brian, dua orang yang tinggal di sebelah kamar flat mereka, tiga pria Sligo itu membuat band. Namun, Kian masih belum dapat melupakan mimpinya itu.
“Ada apa, Ki?? Daritadi kau hanya diam.” Tanya Mark.
“Benar kata Mark. Tidak biasanya kau sediam ini.” Brian menambahkan.
“Aku bermimpi tentang Jane lagi semalam.”
“Jane pacarmu di Sligo??”
Kian menjawab pertanyaan Nicky dengan anggukan.
“Ya, Nick! Hanya ada satu Jane di hidup Kian. Dan karena dia, Kian termotivasi membawa kita pada keberhasilan.” Jelas Shane.
“Sudah hampir setahun kalian tidak bertemu.” Mark mencoba mengingat jalan hidup sahabatnya itu.
“Benar, Mark! Aku berjanji akan kembali pada tanggal 7 November. Jadi, besok aku akan kembali ke Sligo.”
“Aku ikut, Ki! Sudah hampir setahun kita tidak pulang.” Mark langsung bersemangat mendengar kota kelahirannya disebut.
“Sepertinya, akan menyenangkan kalau kita berlibur bersama ke Sligo.” Nicky memberikan ide.
“Aku juga sudah rindu dengan keluargaku.” Pikiran Shane langsung menerawang ke rumahnya.
“Wah, aku juga mau mencicipi masakan di Carlton Flight milik keluarga Filan.”
Shane langsung melirik kearah Brian begitu nama restoran dan kelurganya disebut.
“Sepertinya restoranku akan bangkrut...” Gumaman Shane masih bisa didengar yang lainnya.
“Hahahahahaha...” Kian tertawa bersama dengan Brian, Nicky dan Mark. Namun, pikiranya tetap tak bisa lepas dari Jane.
Aku akan pulang mo ghrá...

Sligo, November 6, 2004

Mo ghrá, tolong jangan tinggalkan aku!! Aku tak mau sendiri...
Lagi – lagi Kian terbangun karena mimpi yang sama. Keringat membasahi kening dan tubuhnya. Namun, kali ini ada berbeda. Yang dilihatnya saat bangun bukan lagi Shane yang tertidur diranjang yang terletak dipojok lain ruangan. Melainkan, tembok yang dipenuhi oleh poster Metallica, Bon Jovi, Mr. Big, dan beberapa band lain. Kian sudah ada dikamarnya. Sepasang mata biru itu langsung mencari jam.
Masih tengah malam, aku tak sabar menunggu esok tiba! Semoga Jane baik – baik saja.
Kian lalu melanjutkan tidurnya lagi. Perjalanan dengan bus selama 5 jam dari Dublin menuju Sligo cukup membuat tubuh Kian kelelahan.

Sligo, November 7, 2004

Kian memutuskan untuk menikmati pagi dengan berjalan – jalan. Dia berjalan kaki menuju ke restoran milik Shane yang hanya berjarak beberapa blok dari rumah keluarga Egan. Saat tiba Carlton Flight, yang didapat Kian adalah kertas bertuliskan “Tutup untuk sementara waktu.”
Apa yang terjadi?? Hm... mungkin mereka sedang merayakan kedatangan Shane.
Tiba – tiba ada sesuatu yang membuyarkan pikiran Kian. Dia melihat sosok wanita cantik yang sangat dikenalnya. Dia berjalan diseberang jalan. Itu adalah sosok yang sangat dirindukan Kian.
“Jane!!” Teriak Kian. Dia lega Jane terlihat sehat.
Jane sepertinya tidak mendengarkan panggilan Kian. Dia terus berjalan dengan terburu – buru.
Apa Jane sudah tidak mengenaliku?? Baiklah, aku akan mengikuti dia.
Kian mengikuti Jane berjalan. Langkah kaki Jane membawanya kesebuah rumah sakit.
Rumah sakit?? Siapa yang sakit??
Jane terus berjalan menyusuri lorong rumah sakit menuju ke ruang Emergency. Kian semakin bingung dengan apa yang terjadi. Kepalanya berputar – putar memikirkannya. Kian semakin bingung ketika dia melihat orang – orang yang dikenalnya.
“Mom?? Dad?? Apa yang terjadi??”
Kian bingung melihat kedua orang tuanya itu bersedih. Ibunya bahkan menangis histeris. Bukan hanya ada orang tuanya. Keluarga Filan dan Feehily juga ada disitu.
Jangan – jangan Shane atau Mark...
Jane berjalan memasuki suatu ruangan. Nicky, Brian, Shane dan Mark berdiri melingkari sebuah ranjang. Setidaknya Kian lega Shane dan Mark baik – baik saja. Di ranjang itu, terdapat sesosok tubuh yang diselimuti oleh kain putih.
“Di... dia... apa dia...” Jane tidak melanjutkan kata – katanya. Wajahnya pucat.
Shane dan yang lain mengangguk lemah. Kian semakin bingung dengan semua itu.
Siapa yang ada dibalik selimut itu??
Dengan perlahan, Jane membuka kain itu. Sepasang mata hijau milik Jane tidak dapat menahan air mata. Dia terlihat sangat terpukul. Untung Shane dan Mark sempat menangkap tubuh Jane sebelum dia terjatuh. Kian pun tidak kalah kagetnya melihat tubuh yang ada di ranjang itu. Tubuh itu adalah miliknya!

Sligo, November 6, 2004

Kian, Mark, Shane, Nicky dan Brian tiba di Sligo setelah perjalanan berjam – jam. Brian dan Nicky langsung merenggangkan otot mereka yang kaku karena duduk didalam bis. Sedangkan Mark membuka mulutnya dengan lebar. Setiap kali dia menguap, rasanya seluruh tas mereka bisa terhisap ke mulutnya.
“Sekarang, apa yang akan kau lakukan, Ki??” Tanya Shane.
“Aku akan memberikan ini pada Jane.”
Kian mengeluarkan sebuah kotak kecil berwarna merah dari saku jaketnya. Dia kemudian membukanya. Isinya adalah sebuah cincin dengan ukiran Mo ghrá, yang berarti cintaku dalam bahasa Irlandia. Saat Kian sedang memperlihatkan cincin itu pada Shane, seseorang menabrak tubuh Kian hingga cincin itu terlempar kejalan raya.
“Ah, sial...” Umpat Kian.
Kian lalu berjalan menuju tempat cincin itu. Saat dia sedang menunduk, sebuah truk dengan kecepatan tinggi menghantam tubuhnya hingga dia terseret beberapa meter dari tempatnya berdiri.
“Kiaaaaaaannnnnnn...”

Sligo, November 7, 2004

Jane duduk termenung di bukit favoritnya bersama Kian. Kekasihnya itu telah meninggal tadi pagi setelah bertahan selama 12 jam dalam kondisi kritis. Jane menggenggam cincin yang tadinya akan diberikan oleh Kian untuknya. Cincin yang juga secara tidak langsung merengut nyawa Kian. Perlahan air mata menetes membasahi pipi Jane.
Kenapa kamu meninggalkanku, Ki?? Setelah setahun aku menantimu, hari ini kamu pergi untuk selamanya. Kita bahkan belum sempat bertemu lagi... Aku membutuhkanmu, Kian...
Jane mendekap kedua lututnya. Air matanya semakin deras mengalir, ketika kilatan kenangannya bersama Kian ditempat itu datang. Dia benar – benar mencintai Kian. Meskipun Jane hanya memanggil Kian dengan nama Kian. Tak ada panggilan spesial. Tentu saja karena cinta bukan hanya diungkapkan lewat kata.
Kian hanya bisa duduk disebelah Jane. Dia tidak bisa lagi menyentuh Jane.  Tak ada yang bisa dilakukannya kecuali melihat wanita yang paling dicintainya itu menangis meratapi kepergiannya.
Mo ghrá, mungkin aku tidak bisa menyentuhmu lagi. Aku tidak bisa berada disampingmu lagi. Tapi, satu yang pasti. Cintaku akan selalu bersamamu. Selamanya...
Rintik – rintik air turun membasahi bumi. Air itu juga membasahi pipi Jane. Menghapus air mata di pipi Jane. Hujan pertama di bulan November.
“Dan ingatlah, hujan ini yang akan selalu menghapus kesedihanmu, mo ghrá.”

THE END...

No comments:

Post a Comment