Sedikit PREKUEL dari Catch The Shadow....
“Daddy, bagaimana menurut – mu?? Apa aku cocok mememakai
seragam polisi ini??” Aku memakai seragam polisi milik ayahku saat dia masih menjadi opsir.
“Shane, kamu terlihat seperti vampire di film horror
Cina. Baju itu terlalu besar untukmu.” Jawab Irene datar. Usia adikku itu baru
10 tahun. Tapi, sejak Mark pindah ke New York dan Mom meninggal dunia beberapa
bulan setelah itu, dia menjadi kehilangan keceriaan.
“Hahaha… aku yakin suatu hari nanti kamu akan memiliki
seragam itu sendiri.” Kata Dad sambil mengucak kepalaku.
“Hm… tapi sepertinya kalau sudah besar nanti, aku ingin
menjadi penyanyi atau musisi!” Aku memang suka musik. Lebih dari apapun.
“Aku ingin jadi detektif seperti Sherlock Holmes!!” Hanya
pembicaraan tentang Sherlock Holmes yang bisa membuat semangat Irene menjadi
membara. Karena itu membuatnya merasa dekat dengan Mark. Huh, kenapa adikku
sudah jatuh cinta di usia sekecil itu?? meskipun dia tidak pernah bercerita,
tapi aku tahu kalau Irene menyimpan perasaan untuk Mark dan begitu sebaliknya.
Dad memeluk kami berdua “Apapun cita – cita kalian
berdua, aku akan selalu bangga pada kalian. Karena kalian adalah anakku.”
***
Aku tergelitik mengingat kenangan masa kecilku itu. Dalam
hitungan jam, aku akan resmi menjadi anggota kepolisian kota London. Dulu aku
selalu memakai seragam Dad. Kini, aku punya seragam sendiri. Aku pasti akan
tampak gagah dengan seragam itu.
“Shane, sampai kapan kau akan berdiri didepan cermin??
Dad sudah menunggu di mobil.” Kata – kata Irene dan ketukan pintu menyadarkanku
dari lamunan.
“Baiklah, aku akan segera turun.”
Aku bergegas merapikan dasiku. Kemudian aku mengambil jas
yang tergantung di pojok kamar. Lalu, aku langsung turun menuju mobil. Aku
tidak mau terlambat menghadiri upacara kelulusanku di akademi kepolisian
London.
***
“Cheers!!”
Suara itu disusul dengan suara denting gelas bir. Aku
merayakan kelulusanku di sebuah café bersama dengan Kian, Nicky, dan Phillip.
Mereka bertiga adalah sahabatku. Irene juga ikut bersama kami. Namun, dia seperti
memiliki dunia sendiri dengan jus jeruknya.
“Irene, kenapa kamu tidak bergabung dengan kami??”
Phillip mencoba mengajak adikku.
“Kamu mau bir??” aku mencoba menawarkan gelas bir-ku pada
Irene.
“Kau gila?! Aku ini masih dibawah umur. Bisa – bisanya
kau menawarkan minuman beralkohol padaku?!” Eh, aku lupa! Usia Irene lebih muda
tiga tahun dariku. “Sudahlah, aku mau ke toilet.” Irene pun akhirnya
meninggalkan kami.
“Shane, aku baru menyadari kalau adikmu itu cantik.” Kian
tiba – tiba membuka suara. “Dengan mata hazel, rambut coklat sebahu yang
sedikit bergelombang. Sedikit sentuhan pada penampilannya, dia bisa sangat
sexy!”
“Jangan berpikir macam – macam tentang adikku! Lagipula
kamu sudah punya Lucy! Aku lebih merestui adikku bersama seorang pencuri lukisan
daripada bersama playboy seperti dirimu!” aku kemudian menenggak kembali bir –
ku.
“Benar katamu Shane! Ki, lebih baik Irene bersama Nicky.
Sepertinya dia menyukai Irene. Benarkan Nix??” kata Phillip sambil menepuk
pundak Nicky.
“Uhuk…” Nicky yang sedang minum bir tersedak. “Apa
maksudmu??”
“Ayolah, aku tahu dari caramu menatapnya. Kamu menyukai
Irene kan??”
Wajah Nicky langsung memerah. Aku juga sudah tahu sejak
awal. Nicky menyukai Irene. Namun, adikku itu menutup hatinya rapat – rapat.
Hatinya itu hanya untuk cinta masa kecilnya. Aku akan menghajar Mark jika dia
kembali. Berani – beraninya dia membuat Irene menunggunya bertahun – tahun.
***
Ini adalah hari pertamaku dengan panggilan baru . yaitu,
Opsir Filan. Aku berjalan menyusuri lorong kantor polisi menuju ruangan Dad.
Em… maksudku, Komisaris Filan. Sebelum aku masuk kedalam ruangannya, aku
mengetuk pintu dulu.
“Komisaris Filan, apa anda memanggil saya tadi??” Rasanya
aneh memanggil orangtuaku sendiri dengan nama belakangnya.
“Duduklah, Shane. Aku memanggilmu sebagai ayahmu.” Aku
mengikuti perintah Dad. “Selamat anakku, akhirnya kau menjadi seorang polisi.
Aku pikir kamu tidak akan pernah lulus.” Eh, kenapa dia berbicara seperti itu?!
“maafkan aku, Shane.”
“Maaf untuk apa, Dad??” aku bingung kenapa Dad tiba –
tiba meminta maaf.
“Maaf karena aku sudah memaksamu masuk akademi
kepolisian. Aku tahu sebenarnya kamu sangat ingin menjadi musisi.” Dad memainkan
ballpoint yang ada di mejanya.
“Tidak apa – apa, Dad! Aku tahu semua ini demi masa
depanku. Lagipula, aku mendapatkan sahabat terbaik dan mungkin seorang istri
sebagai akibat dari akademi kepolisian.” Aku sedikit menambahkan lelucuan agar
Dad tidak terlalu memikirkan masalah cita – citaku dulu.
“Kau sudah punya kekasih, Shane?? Siapa gadis yang telah
merebut hati anak tertampan ku??”
“Namanya Gillian Walsh. Dia sepupu Kian, dan tolong
jangan ceritakan ini pada siapa – siapa. Terutama Kian!” aku memang
menyembunyikan hubunganku ini dari semuanya.
“Baiklah, aku berjanji sebagai ayahmu.” Dad langsung
tertawa. Mungkin dia berpikir akhirnya ada seorang gadis yang mau aku dekati.
“Oke, Shane. Kita kembali serius.” Dad langsung serius kembali. “Aku
memanggilmu kesini karena ingin membicarakan sesuatu denganmu. Sebagai ayah dan
anak.”
Aku mengangguk walaupun aku sama sekali belum mengatahui
arah pembicaraan ini.
“Jadilah polisi yang selalu patuh terhadap peraturan.”
Aku mengangguk. “dan sekarang yang
terpenting. Adikmu membutuhkan seseorang untuk menjaganya. Karena, aku tidak
mungkin bisa selalu menjaganya. Jadi, sebagai ayah dan atasanmu, aku menugaskanmu
untuk selalu menjaga Irene. Paling tidak sampai dia menemukan seorang pria yang
bisa melindunginya. Dan jangan biarkan dia bersama orang yang salah.”
“Baik, aku terima tugas ini, Komisaris Filan. Dengan
segenap jiwa dan ragaku.” Aku menjawab dengan gaya polisi. Kami berdua lalu
tertawa. “Apa aku boleh kembali ketempat??”
Dad mengangguk. Aku lalu berjalan keluar ruangannya.
“Shane…” Dad memanggilku. Aku menghentikan langkahku.
“Apa kau ingat dengan Mark Feehily?? Aku pikir dia mungkin cocok dengan adikmu.
Mereka berdua terlihat dekat.” Mereka memang dekat. Tetapi, Dad tidak tahu.
Mark itu sewaktu kecil saja sudah sering membuatku kesal. Apalagi sekarang?!
“Aku ingat dia, Dad. Aku tidak tahu apakah mereka berdua
cocok atau tidak. Aku bukanlah biro jodoh ataupun Cupid.”
“Hahaha… ya sudah. Kembalilah ketempatmu. Bye Shane…”
“Bye, Daddy…”
“Hei… opsir Filan. Sudah lama kau tidak memanggilku
Daddy!”
***
Aku tidak pernah menyangka kalau itu adalah percakapan terakhirku
dengan Dad. Siang itu, Dad mendatangi bank yang sedang dirampok. Para perampok
itu juga menyandra beberapa pegawai dan nasabah bank itu. terjadi baku tembak
antara polisi dan perampok. Dad terkena tembakan tepat di jantungnya hingga
nyawanya tidak dapat tertolong. Dad tidak menggunakan rompi anti peluru karena
memang dia seharusnya sudah tidak turun ke lapangan lagi.
***
Hujan turun dengan derasnya di hari pemakaman Dad.
Sepulangnya dari pemakaman, beberapa
pelayat sudah mulai pulang. Kini, yang tersisa tinggal aku bersama ketiga
sahabatku.
“Shane… aaa…” Kian tidak bisa melanjutkan kata – katanya.
“Shane, kau harus kuat untuk Irene.”
“Itu dia maksudku, Phill!”
Aku hanya bisa menghela nafas.
“Hei, Nix. Apa yang sedang kau cari??” Phillip memanggil
Nicky. Daritadi Nicky memang terlihat kebingungan mencari sesuatu.
“Bicara tentang Irene, aku sama sekali belum melihatnya
sejak pulang dari pemakaman.” Kata – kata Nicky menyadarkanku. Irene menghilang
sejak tadi.
Aku langsung berlari mencari Irene keseluruh ruangan
dirumahku. Tapi, dia tidak ada dimanapun. Gawat! Dia pasti ke tempat itu!! aku
berlari menuju pintu keluar.
“Shane, mau kemana kau??” Tanya Phill, Kian, dan Nicky.
“Aku mau mencari Irene! Dia tidak ada didalam rumah!”
“Di luar hujan deras. Pakai mobilku saja!” kata Kian
sambil melemparkan kunci mobilnya.
***
Aku memacu mobil Kian. Irene pasti ketempat itu. Tempat
favoritnya untuk menenangkan diri. Saat Mark pergi dan Mom meninggal dia juga
pergi kesitu. Tapi, hari ini hujan deras. Dia bisa sakit. Ternyata benar
tebakanku. Irene berada di taman tempat pertama kali dia bertemu dengan Mark.
Dia sedang duduk di ayunan saat aku datang. Kepalanya tertunduk lesu. Dia sama
sekali tidak peduli dengan hujan yang turun. Tanpa memankai payung aku berjalan
mendekati Irene. Aku lalu berdiri dihadapannya. Mengusap air mata yang mengalir
di pipinya.
“Aku tahu kamu pasti ada disini.”
“Aku tidak menangis. Itu air hujan. Untuk apa kamu
menghapusnya??” Irene berbohong. Aku tahu pasti itu air matanya. “Aku ini kuat.
Aku tidak akan menangis.”
“Aku ini kakakmu. Aku tahu kamu sedang menangis. Menangis
tidak membuatmu lemah. Menangis berguna untuk mengurangi kesedihanmu.”
Irene lalu berdiri dan langsung memelukku.
“Pertama Mark, Mom, dan sekarang Dad. Kenapa semua orang
yang aku sayangi meninggalkanku?!” dia menangis dalam pelukanku.
“Ada dua poin kesalahan dalam ucapanmu tadi. Pertama,
memang Mom dan Dad tidak akan kembali lagi. Tapi, aku yakin. Mark pasti akan
kembali dari New York untukmu. Atau paling tidak untuk menggangguku.” Tangisan
Irene sedikit mereda. “Yang kedua, aku akan selalu ada untukmu. Karena aku
adalah kakakmu. Aku juga sudah berjanji pada Dad untuk menjagamu. Baik janji
sebagai seorang kakak maupun sebagai seorang polisi.”
Irene memelukku dengan erat. Aku tahu tidak ada
seorangpun yang bisa menggantikan posisi Dad untuk Irene. Namun, setidaknya aku
bisa menjaganya. Aku tidak peduli hujan membasahi tubuh kami. Yang paling
penting, aku akan selalu menepati janjiku pada Dad. Oh, Daddy I miss you… It’s too hard to say goodbye to best father that
I ever had.
No comments:
Post a Comment