Sunday, June 2, 2013

Too Hard To Say Goodbye…



Sedikit PREKUEL dari Catch The Shadow....



“Daddy, bagaimana menurut – mu?? Apa aku cocok mememakai seragam polisi ini??” Aku memakai seragam polisi milik ayahku saat  dia masih menjadi opsir.
“Shane, kamu terlihat seperti vampire di film horror Cina. Baju itu terlalu besar untukmu.” Jawab Irene datar. Usia adikku itu baru 10 tahun. Tapi, sejak Mark pindah ke New York dan Mom meninggal dunia beberapa bulan setelah itu, dia menjadi kehilangan keceriaan.
“Hahaha… aku yakin suatu hari nanti kamu akan memiliki seragam itu sendiri.” Kata Dad sambil mengucak kepalaku.
“Hm… tapi sepertinya kalau sudah besar nanti, aku ingin menjadi penyanyi atau musisi!” Aku memang suka musik. Lebih dari apapun.
“Aku ingin jadi detektif seperti Sherlock Holmes!!” Hanya pembicaraan tentang Sherlock Holmes yang bisa membuat semangat Irene menjadi membara. Karena itu membuatnya merasa dekat dengan Mark. Huh, kenapa adikku sudah jatuh cinta di usia sekecil itu?? meskipun dia tidak pernah bercerita, tapi aku tahu kalau Irene menyimpan perasaan untuk Mark dan begitu sebaliknya.
Dad memeluk kami berdua “Apapun cita – cita kalian berdua, aku akan selalu bangga pada kalian. Karena kalian adalah anakku.”

***
Aku tergelitik mengingat kenangan masa kecilku itu. Dalam hitungan jam, aku akan resmi menjadi anggota kepolisian kota London. Dulu aku selalu memakai seragam Dad. Kini, aku punya seragam sendiri. Aku pasti akan tampak gagah dengan seragam itu.

“Shane, sampai kapan kau akan berdiri didepan cermin?? Dad sudah menunggu di mobil.” Kata – kata Irene dan ketukan pintu menyadarkanku dari lamunan.
“Baiklah, aku akan segera turun.”

Aku bergegas merapikan dasiku. Kemudian aku mengambil jas yang tergantung di pojok kamar. Lalu, aku langsung turun menuju mobil. Aku tidak mau terlambat menghadiri upacara kelulusanku di akademi kepolisian London.

***

“Cheers!!”

Suara itu disusul dengan suara denting gelas bir. Aku merayakan kelulusanku di sebuah café bersama dengan Kian, Nicky, dan Phillip. Mereka bertiga adalah sahabatku. Irene juga ikut bersama kami. Namun, dia seperti memiliki dunia sendiri dengan jus jeruknya.

“Irene, kenapa kamu tidak bergabung dengan kami??” Phillip mencoba mengajak adikku.
“Kamu mau bir??” aku mencoba menawarkan gelas bir-ku pada Irene.
“Kau gila?! Aku ini masih dibawah umur. Bisa – bisanya kau menawarkan minuman beralkohol padaku?!” Eh, aku lupa! Usia Irene lebih muda tiga tahun dariku. “Sudahlah, aku mau ke toilet.” Irene pun akhirnya meninggalkan kami.
“Shane, aku baru menyadari kalau adikmu itu cantik.” Kian tiba – tiba membuka suara. “Dengan mata hazel, rambut coklat sebahu yang sedikit bergelombang. Sedikit sentuhan pada penampilannya, dia bisa sangat sexy!”
“Jangan berpikir macam – macam tentang adikku! Lagipula kamu sudah punya Lucy! Aku lebih merestui adikku bersama seorang pencuri lukisan daripada bersama playboy seperti dirimu!” aku kemudian menenggak kembali bir – ku.
“Benar katamu Shane! Ki, lebih baik Irene bersama Nicky. Sepertinya dia menyukai Irene. Benarkan Nix??” kata Phillip sambil menepuk pundak Nicky.
“Uhuk…” Nicky yang sedang minum bir tersedak. “Apa maksudmu??”
“Ayolah, aku tahu dari caramu menatapnya. Kamu menyukai Irene kan??”

Wajah Nicky langsung memerah. Aku juga sudah tahu sejak awal. Nicky menyukai Irene. Namun, adikku itu menutup hatinya rapat – rapat. Hatinya itu hanya untuk cinta masa kecilnya. Aku akan menghajar Mark jika dia kembali. Berani – beraninya dia membuat Irene menunggunya bertahun – tahun.

***
Ini adalah hari pertamaku dengan panggilan baru . yaitu, Opsir Filan. Aku berjalan menyusuri lorong kantor polisi menuju ruangan Dad. Em… maksudku, Komisaris Filan. Sebelum aku masuk kedalam ruangannya, aku mengetuk pintu dulu.

“Komisaris Filan, apa anda memanggil saya tadi??” Rasanya aneh memanggil orangtuaku sendiri dengan nama belakangnya.
“Duduklah, Shane. Aku memanggilmu sebagai ayahmu.” Aku mengikuti perintah Dad. “Selamat anakku, akhirnya kau menjadi seorang polisi. Aku pikir kamu tidak akan pernah lulus.” Eh, kenapa dia berbicara seperti itu?! “maafkan aku, Shane.”
“Maaf untuk apa, Dad??” aku bingung kenapa Dad tiba – tiba meminta maaf.
“Maaf karena aku sudah memaksamu masuk akademi kepolisian. Aku tahu sebenarnya kamu sangat ingin menjadi musisi.” Dad memainkan ballpoint yang ada di mejanya.
“Tidak apa – apa, Dad! Aku tahu semua ini demi masa depanku. Lagipula, aku mendapatkan sahabat terbaik dan mungkin seorang istri sebagai akibat dari akademi kepolisian.” Aku sedikit menambahkan lelucuan agar Dad tidak terlalu memikirkan masalah cita – citaku dulu.
“Kau sudah punya kekasih, Shane?? Siapa gadis yang telah merebut hati anak tertampan ku??”
“Namanya Gillian Walsh. Dia sepupu Kian, dan tolong jangan ceritakan ini pada siapa – siapa. Terutama Kian!” aku memang menyembunyikan hubunganku ini dari semuanya.
“Baiklah, aku berjanji sebagai ayahmu.” Dad langsung tertawa. Mungkin dia berpikir akhirnya ada seorang gadis yang mau aku dekati. “Oke, Shane. Kita kembali serius.” Dad langsung serius kembali. “Aku memanggilmu kesini karena ingin membicarakan sesuatu denganmu. Sebagai ayah dan anak.”

Aku mengangguk walaupun aku sama sekali belum mengatahui arah pembicaraan ini.

“Jadilah polisi yang selalu patuh terhadap peraturan.” Aku mengangguk. “dan sekarang  yang terpenting. Adikmu membutuhkan seseorang untuk menjaganya. Karena, aku tidak mungkin bisa selalu menjaganya. Jadi, sebagai ayah dan atasanmu, aku menugaskanmu untuk selalu menjaga Irene. Paling tidak sampai dia menemukan seorang pria yang bisa melindunginya. Dan jangan biarkan dia bersama orang yang salah.”
“Baik, aku terima tugas ini, Komisaris Filan. Dengan segenap jiwa dan ragaku.” Aku menjawab dengan gaya polisi. Kami berdua lalu tertawa. “Apa aku boleh kembali ketempat??”

Dad mengangguk. Aku lalu berjalan keluar ruangannya.

“Shane…” Dad memanggilku. Aku menghentikan langkahku. “Apa kau ingat dengan Mark Feehily?? Aku pikir dia mungkin cocok dengan adikmu. Mereka berdua terlihat dekat.” Mereka memang dekat. Tetapi, Dad tidak tahu. Mark itu sewaktu kecil saja sudah sering membuatku kesal. Apalagi sekarang?!
“Aku ingat dia, Dad. Aku tidak tahu apakah mereka berdua cocok atau tidak. Aku bukanlah biro jodoh ataupun Cupid.”
“Hahaha… ya sudah. Kembalilah ketempatmu. Bye Shane…”
“Bye, Daddy…”
“Hei… opsir Filan. Sudah lama kau tidak memanggilku Daddy!”

***
Aku tidak pernah menyangka kalau itu adalah percakapan terakhirku dengan Dad. Siang itu, Dad mendatangi bank yang sedang dirampok. Para perampok itu juga menyandra beberapa pegawai dan nasabah bank itu. terjadi baku tembak antara polisi dan perampok. Dad terkena tembakan tepat di jantungnya hingga nyawanya tidak dapat tertolong. Dad tidak menggunakan rompi anti peluru karena memang dia seharusnya sudah tidak turun ke lapangan lagi.

***
Hujan turun dengan derasnya di hari pemakaman Dad. Sepulangnya dari pemakaman,  beberapa pelayat sudah mulai pulang. Kini, yang tersisa tinggal aku bersama ketiga sahabatku.

“Shane… aaa…” Kian tidak bisa melanjutkan kata – katanya.
“Shane, kau harus kuat untuk Irene.”
“Itu dia maksudku, Phill!”

Aku hanya bisa menghela nafas.

“Hei, Nix. Apa yang sedang kau cari??” Phillip memanggil Nicky. Daritadi Nicky memang terlihat kebingungan mencari sesuatu.
“Bicara tentang Irene, aku sama sekali belum melihatnya sejak pulang dari pemakaman.” Kata – kata Nicky menyadarkanku. Irene menghilang sejak tadi.

Aku langsung berlari mencari Irene keseluruh ruangan dirumahku. Tapi, dia tidak ada dimanapun. Gawat! Dia pasti ke tempat itu!! aku berlari menuju pintu keluar.

“Shane, mau kemana kau??” Tanya Phill, Kian, dan Nicky.
“Aku mau mencari Irene! Dia tidak ada didalam rumah!”
“Di luar hujan deras. Pakai mobilku saja!” kata Kian sambil melemparkan kunci mobilnya.

***
Aku memacu mobil Kian. Irene pasti ketempat itu. Tempat favoritnya untuk menenangkan diri. Saat Mark pergi dan Mom meninggal dia juga pergi kesitu. Tapi, hari ini hujan deras. Dia bisa sakit. Ternyata benar tebakanku. Irene berada di taman tempat pertama kali dia bertemu dengan Mark. Dia sedang duduk di ayunan saat aku datang. Kepalanya tertunduk lesu. Dia sama sekali tidak peduli dengan hujan yang turun. Tanpa memankai payung aku berjalan mendekati Irene. Aku lalu berdiri dihadapannya. Mengusap air mata yang mengalir di pipinya.

“Aku tahu kamu pasti ada disini.”
“Aku tidak menangis. Itu air hujan. Untuk apa kamu menghapusnya??” Irene berbohong. Aku tahu pasti itu air matanya. “Aku ini kuat. Aku tidak akan menangis.”
“Aku ini kakakmu. Aku tahu kamu sedang menangis. Menangis tidak membuatmu lemah. Menangis berguna untuk mengurangi kesedihanmu.”

Irene lalu berdiri dan langsung memelukku.

“Pertama Mark, Mom, dan sekarang Dad. Kenapa semua orang yang aku sayangi meninggalkanku?!” dia menangis dalam pelukanku.
“Ada dua poin kesalahan dalam ucapanmu tadi. Pertama, memang Mom dan Dad tidak akan kembali lagi. Tapi, aku yakin. Mark pasti akan kembali dari New York untukmu. Atau paling tidak untuk menggangguku.” Tangisan Irene sedikit mereda. “Yang kedua, aku akan selalu ada untukmu. Karena aku adalah kakakmu. Aku juga sudah berjanji pada Dad untuk menjagamu. Baik janji sebagai seorang kakak maupun sebagai seorang polisi.”

Irene memelukku dengan erat. Aku tahu tidak ada seorangpun yang bisa menggantikan posisi Dad untuk Irene. Namun, setidaknya aku bisa menjaganya. Aku tidak peduli hujan membasahi tubuh kami. Yang paling penting, aku akan selalu menepati janjiku pada Dad. Oh, Daddy I miss you… It’s too hard to say goodbye to best father that I ever had.

No comments:

Post a Comment