Sunday, June 2, 2013

Mandy’s Treasure…



Sligo, Agustus 1988

Sore di Sligo. Walaupun saat ini sedang musim panas, tetapi udara Sligo selalu dingin di sepanjang tahun. Ini tidak menyurutkan keinginan seorang gadis kecil dan kelima Sinar jingga membuat pipi Mandy ikut memerah. Sepuluh pasang mata anak laki – laki di depannya terpaku melihatnya. Mereka berlima berusia sebaya dengan Mandy.

“Hahaha… kenapa kalian menatapku seperti itu??” Gadis kecil itu membalas tatapan kelima sahabatnya itu satu – persatu. Matanya mulai menyusuri wajah si pirang bertubuh besar. Lalu, beralih ke anak dengan rambut berponi. Berlanjut ke anak dengan rambut coklat dan pipi merah. Tepat disebelah anak itu, seorang anak berambut pirang memegang bola di tangannya. Dan yang terakhir, anak berambut coklat dengan tubuh paling kecil dan satu – satunya yang memiliki mata berwarna hazel.

***

Sligo, Agustus 2008

Sepasang mata hazel memandangi langit pinggiran kota Sligo yang indah. Tubuhnya terbaring diatas hamparan rumput yang luas. Dia menikmati angin yang berhembus dan menghasilkan suara lembut di telinganya. Sudah dua puluh tahun berlalu sejak dia berkenalan dengan Mandy. Waktu b,erjalan sangat cepat hingga dia tidak menyadari Mandy, dan keempat temannya yang lain sudah dewasa sekarang.

“Shane!!” Suara yang sangat dikenal Shane itu membuat semua lamunannya buyar.
“Kian?!” Shane langsung duduk dan melihat kearah Kian.
“Kau masih mengenalku??”
“Tentu saja, poni – mu sama sekali tidak berubah.” Jawab Shane datar.

Wajah Kian memang tidak banyak mengalami perubahan. Masih tetap dengan mata biru dan bekas luka di pipinya yang tidak pernah hilang. Begitu juga dengan potongan poni khas Kian.

“Kau pasti sedang memikirkan Mandy??” Tanya Kian.
“Hm… dimana Mark, Brian, dan Nicky??” Shane menjawab pertanyaan dengan pertanyaan.
“Itu meraka…” Kian menunjuk kearah dua orang berambut pirang yang sedang bermain sepak bola.
“Hahaha… Hi, Brian!! Tubuhmu masih saja besar!” Teriak Shane.
“Dan kamu masih saja kecil! Hahaha…” Balas Brian dari kejauhan.
“Hei, dimana Mark??” Tanya Kian.
“Huh… kau sudah lupa kebiasaan Mark??” Jawab Nicky sambil menunjuk kesebuah pohon.

Shane dan Kian berjalan kearah pohon itu. Nicky dan Brian juga mengikuti langkah kedua sahabatnya. Perlahan mereka melihat kebalik pohon besar itu. Dan ternyata Mark sedang terlelap disana.

 “1… 2… 3…” Nicky berbisik memberikan aba – aba.
“Mark… ada ayam di kepalamu!!” teriak mereka berempat serempak.
“Hah, mana?? Mana??” Mark langsung terkejut. Dia panik. Dia berlari – lari mengelilingi pohon itu untuk menghindari ‘ayam’.
“hahahaha…” Kian, Shane, Nicky, dan Brian tertawa terbahak – bahak melihat Mark yang panik.
“Heh!!” Mark menghentikan putarannya begitu menyadari kalau keempat karibnya sedang tertawa terbahak – bahak. “Kita ini sudah dewasa sekarang. Bertingkahlah seperti orang dewasa.”
“Sudahlah, seharusnya pertemuan kita ini tidak diwarnai dengan keributan kecil seperti ini.”
“Ki, jangan sok bijak! Kau juga iktu serta tadi.” Mark sepertinya masih kesal karena kesenangannya di alam mimpi terganggu oleh teman – temannya.
“Ini seperti dulu. Saat kita bermain petak umpet bersama Mandy.” Kenang Brian.

***
Sligo, Agustus 1988

“1... 2… 3…” Mandy menutup matanya.

Mark, Brian, Shane, Kian dan Nicky berlarian mencari tempat persembunyian masing – masing.

“9… 10… siap atau tidak aku datang!” Mandy mulai mencari kelima anak itu satu – persatu. “Brian, semak – semak itu terlalu kecil untuk menyembunyikanmu!” Mandy berteriak begitu menemukan Brian. “Nicky, aku bisa melihat bola milikmu. Kamu pasti dibalik pohon itu.” Kemudian Nicky. Dan berikutnya Kian dan Shane juga ditemukan. Namun, setelah beberapa lama, mereka belum berhasil menemukan Mark. “Mark… dimana dirimu??”

Kelima anak itu berutar – putar mencari Mark. Mereka sudah mulai kelelahan.

“Sttt… aku mendengar sesuatu!” Mandy lalu mengikuti arah suara aneh yang berasal dari balik pohon itu. Dan ternyata benar dugaannya, Mark sedang tertidur dibalik pohon. “1… 2… 3… Mark!! Ada ayam dikepala-mu!!”

***

Sligo, Agustus 2008

“Aku merindukan Mandy…” Kata Nicky.
“Aku juga…” Mark dan Kian kompak mengangguk.
“Bagaimana denganmu, Shane??” Tanya Brian.
“Sangat…”

Kelima pria dewasa itu menghembuskan nafas bersama.  Mereka sangat meindukan Mandy. Seorang gadis kecil yang selalu ceria. Sahabat mereka.

“Hei, bagaimana kalau kita mencari kotak rahasia Mandy yang terkubur itu??” Perkataan Kian mengagetkan mereka semua.
“Maksudmu, kotak harta karun itu??” Mark terlihat bingung dengan apa yang Kian Maksud.

Kian menjawab pertanyaan Mark dengan anggukan pasti.

“Kalian masih ingat tempat Mandy menguburnya??” Pertanyaan Nicky itu dijwaban dengan empat kepala yang mengangguk serempak.
“Baik, ayo kita mulai mencari!” Kian langsung membuat komando.

***

Sligo, Agustus 1988

Mandy, Mark, Brian, Nicky, Shane dan Kian berbaring diatas hamparan rumput. Angin berhembus dengan lembut.

“Hah… aku tidak mau melupakan saat – saat ini…” gumam Mandy. “hei, aku punya ide! Aku akan membuat sebuah kotak harta karun. Lalu, aku akan menguburnya. Dan saat aku dewasa nanti, aku akan membukanya. Dengan begitu, aku tidak akan pernah melupakan kalian.” Mandy terus berbicara sementara kelima anak laki – laki itu hanya diam menyaksikanya berbicara.

***
Sligo, Agustus 2008

Kelima pria itu berjalan memasuki lingkungan hutan. Dari kejauhan, mereka melihat seorang wanita berambut coklat sebahu. Dia sedang memangku sebuah kotak kayu. Didepannya, tanah membentuk sebuah lubang bekas penggalian. Mereka merasa sangat mengenal wanita itu.

“Itu Mandy!!” Teriak mereka serempak.

***

Sligo, Agustus 1988

Mandy telah berhasil menutup lubang bekas galiannya. Sedangkan Mark, Kian, Brian, Shane, dan Kian hanya melihat sahabat mereka itu menggali. Gadis kecil itu lalu menepuk – nepukan kedua tangannya untuk membersihkan sisa debu yang menempel.

“Nah, sudah selesai! Dengan begini, aku tidak akan melupakan kalian walaupun aku tumbuh dewasa kelak. Karena kalian adalah sahabat terbaikku. Teman yang selalu menemaniku saat aku sedang sendiri.”

***
Sligo, Agustus 2008

Mandy terpaku melihat kotak yang saat ini ada ditangannya. Kotak yang sudah dua puluh tahun terpendam. Menyimpan kenangan masa kecilnya. Dia membukanya perlahan. Didalamnya, terdapat secarik kertas dengan goresan  krayon diatasnya membentuk gambar lima orang anak laki – laki. Yang satu berambut pirang dengan tubuh besar. Disebelahnya adalah anak dengan rambut berponi. Lalu, ada anak dengan rambut coklat dan pipi merah. Tepat disebelah anak itu, seorang anak berambut pirang memegang bola di tangannya. Dan yang terakhir, anak berambut coklat dengan tubuh paling kecil dan satu – satunya yang memiliki mata berwarna hazel. Seutas senyum bahagia terlukis dibibir Mandy.

“Aku masih mengingat kalian. Brian si besar. Mark, si pipi merah tukang tidur. Kian, dengan poni-mu itu. Nicky, si pemain bola. Dan Shane, pemilik mata hazel yang menawan. Aku menepati janjiku. Aku tidak akan melupakan kalian. Sama seperti kalian yang selalu ada bersamaku saat aku sedang kesepian. Teman yang selalu menemaniku saat aku sedang sendiri. Karena kalian adalah sahabatku. Kalian adalah sahabat imajinasiku…”


THE END…

One last Cry...



Mark termenung usai membaca sepucuk surat dari Rachel. Dia baru menyadari sesuatu. Dia telah melukai seseorang yang sangat mencintainya. Seseorang yang selalu ada untuknya. Seseorang yang membantunya menyimpan rahasia terbesar dalam hidupnya selama ini.

***
“Mark, apa dia kekasihmu??”
“Sejak kapan kalian berkencan??”
“Apakah kalian memiliki rencana untuk menikah??”

Para pemburu berita itu terus mengejar Rachel dan Mark. Meski, berkali – kali Mark menolak untuk diwawancara. Namun, kuli tinta itu masih saja mengikuti mereka berdua. Begitulah resiko yang harus ditempuh Mark sebagai personil salah satu personil boyband yang sedang tenar – tenarnya di dunia. Terlebih, dia menghadiri malam penghargaan musik terbesar di Irlandia bersama Rachel.

***

Akhirnya Mark dan Rachel sampai di apartemen Mark. Mereka berdua memang tinggal disana karena Rachel belum menemukan tempat tinggal di Dublin. Rachel adalah sahabat Mark di Sligo. Kota kelahiran Mark.

“Hahaha… aku bingung dengan para wartawan itu. Kenapa mereka mengira kita ini berpacaran??” Mark tertawa sambil melepas jas – nya.
“Memangnya apa yang kau harapkan saat datang kesebuah acara dengan menggandeng seorang gadis??”
“Tapi, aku kan tidak memberikan pernyataan kalau kita ini kekasih.”
“Tapi, kamu juga tidak menyangkalnyakan?! Sampai kapan kamu akan berbohong pada publik??”  Mark terdiam mendengarkan kata – kata Rachel. Dia memang memiliki sebuah rahasia besar. Rahasia yang hanya diketahui Rachel, keluarga, manajer dan personil Westlife yang lain. Rahasia bahwa dia seorang Gay. “Itu akan menyiksa dirimu sendiri, Mark. dan kamu tahu, aku tidak tahan melihatmu tersiksa.” Rachel mengetahui semua tentang Mark. Begitupun sebaliknya. Kecuali, tentang perasaan Rachel. Perasaan cinta yang terpendam dan tidak akan mungkin terbalas.

***

Rachel terbangun dari tidurnya. Dia mendengar suara televisi yang masih menyala. Suara itu sepertinya berasal dari kamar Mark yang terletak disebelah kamarnya. Rachel berjalan menuju kamar Mark. Dengan perlahan dia membuka pintu dengan cat hitam itu. mark sudah tergeletak di ranjangnya dengan posisi tengkurap sedangkan televisi masih dalam keadaan menyala.

“Seperti biasa, dia selalu tertidur sebelum mematikan tv.” Gumam Rachel.

Rachel mematikan televisi. Dia juga dengan susah payah merapikan posisi tidur Mark yang berantakan. Butuh usaha keras untuk pekerjaan yang satu ini mengingat tubuh Mark jauh lebih besar dari Rachel. Saat mencoba membalikan tubuh Mark, Rachel tidak sanggup menahan berat Mark. diapun terjatuh dan mendarat di dada Mark. untungnya, lelaki itu bukan orang yang mudah terbangun. Dia masih tertidur walaupun tertimpa tubuh Rachel. Dia memperhatikan wajah Mark. hanya itu yang bisa dia lakukan. Mengagumi orang yang paling dicintainya secara diam – diam. Mengagumi hidungnya, pipinya, bibirnya dan sekarang detak jantung Mark.

“Mark, kenapa harus dirimu??” Gumam Rachel. Dia pun beranjak dari tubuh Mark. memakaikan selimut. Kemudian mencium kening Mark. “Goodnight, Mo ghra…” Mo ghra itu berarti cintaku dalam bahasa Irlandia. Rachel diam – diam memanggil Mark dengan sebutan itu.

***

Tidak biasanya Mark bangun lebih pagi daripada Rachel. Saat Rachel keluar dari kamarnya, Mark sedang sibuk dengan telponnya.
Apakah dia ada pekerjaan pagi ini??

“Hi, Rachel!” sapa Mark begitu dia menutup telponnya.
“Ada apa kamu sudah bangun sepagi ini??”
“Aku memikirkan kata – katamu semalam.”
“Kata – kataku yang mana??” Rachel sebenarnya tahu apa yang dimaksud Mark. dia hanya ingin berkata pada dirinya sendiri kalau masih ada kemungkinan lain.
“Tadi aku menelpon Loise dan yang lainnya. Aku meminta pendapat mereka tentang keadaanku. Dan mereka setuju denganmu. Aku harus segera jujur pada semua orang. Terutama diriku sendiri. aku akan mengatakan pada dunia kalau aku adalah seorang gay!”

Deg… jantung Rachel seperti berhenti sesaat. Dia mencoba menstabilkan detak jantungnya dahulu sebelum mengeluarkan kata – kata. “Kapan kamu akan menbuka semuanya??”
“Besok. Kata Louis dia akan menghubungi wartawan dan aku akan melakukan wawancara eksklusif dan setelah itu selesai, kita berdua bebas pergi dengan pasangan kita masing – masing. Kamu bebas memilih lelaki pilihanmu. Begitupun aku.” Mark terlihat bahagia sekali karena dia akhirnya tidak perlu berpura – pura.

Rachel mencoba untuk tersenyum. Meskipun hatinya sangat terluka. Aku tidak ingin orang lain, Mark! Aku hanya menginginkanmu. Satu – satunya lelaki yang aku cintai.

***

Mark akhirnya berhasil melakukan wawancara eksklusif itu. Kini, seluruh dunia tahu siapa dirinya. Beban dipundaknya telah berkurang. Dia tidak peduli dengan apa yang akan dikatakan dunia padanya. Langkahnya terasa ringan saat memasuki apartemen miliknya.

“Rachel… oh, Rachel… I’m home!!” Mark berteriak – teriak memanggil Rachel. Seperti kebiasaannya kalau sudah pulang. Dia mencari sahabatnya itu keseluruh penjuru apartemen. Tapi, dia tidak juga menemukannya. Saat Mark berjalan kedapur, dia melihat selembar kertas menempel dengan bantuan magnet di lemari es. Mark mengambil kertas itu.

Hi, Mark… Mo ghra…

Saat kamu membaca ini mungkin aku sudah pergi. Aku sudah menemukan tempat tinggal yang cocok untukku. Maaf aku tidak sempat berpamitan. Dan terimakasih telah memberiku tumpangan selama ini. Aku salut padamu yang sudah berani mengungkap segalanya.

I love you, (love = sayang/cinta)

Rachel.

PS: Jangan lupa matikan tv – mu sebelum tidur!”

“Hm… dia tampaknya bahagia sudah menemukan tempat yang tepat hingga tidak sempat mengucapkan selamat tinggal.” Mark tersenyum. “Aku juga menyayangimu, Rachel.”

***

And 4 months later…

Suara televisi membangunkan Mark. biasanya Rachel yang selalu mematikannya. Namun, sejak dia pergi 4 bulan yang lalu, tidak ada lagi yang mematikan televisi itu.  Semalam, Mark tertidur saat menonton televisi akibat kelelahan setelah seharian menghabiskan waktu bersama Kevin, pacarnya. Kini, dia tidak perlu bersembunyi lagi. Selama empat bulan terakhir ini, Mark bebas dari bebannya selama ini. Dan selama 4 bulan ini, belum ada seorangpun yang menghakiminya tentang pilihan hidupnya itu.

Mark mencoba bergerak dari tempat tidurnya. Dia menyeret langkahnya menuju pintu depan. Saat dia membuka pintu, terdapat sebuah amplop berwarna putih diatas koran hari ini. Mark melempar koran itu sembarangan. Dia lalu duduk dan dengan perlahan membuka amplop itu kemudian membacanya.

“Dear Mo ghra….

I hope you still remember me. Even you’re not mine. Yesterday, I went to the park. I wish I can see you there. And I was I right! But you’re not alone. You’re with someone else. You held his hand. And I sat all alone. I was there. You were there. Wishing all my feelings were gone. It hurts me. But I try my best to forget you. Seeing you were happy with him make me happy too.

I promise this is my last cry. One last cry before I leave it behind. I’m trying to be strong because my life must goes on. Even it’s hard to live my life without you. I gotta put you outta my mind this time, very last time, been living a lie.

If anyone ask, I’ll say we both are move on. I let you happy with someone else and you do the same. I’ll tell the world that I’m okay with it all. Even my heart is broken apart.

I wish he can give you all that I never give to you. I wish you could happy with him forever. That enough for me. I’ll get over from you. Try to forget you. Let you write a better story with him. I’m happy you’re be honest with your feeling, Markus Feehily. Don’t care about me. I’ll be fine.

I’ll always love you…

Rachel.”
Mark termenung usai membaca sepucuk surat dari Rachel. Dia baru menyadari sesuatu. Ada seseorang yang sangat mencintainya. Dan dia telah melukai hati orang itu. Seseorang yang selalu ada untuknya. Seseorang yang membantunya menyimpan rahasia terbesar dalam hidupnya selama ini.

“Kenapa harus aku?? Rachel… You know I can’t love you. So, why me??” Mark sangat menyesal. Kenapa dia terlambat menyadari perasaan Rachel. Andai saja aku tahu, aku tidak akan membuatnya terluka seperti ini. Argh… lelaki macam apa aku ini?!

Too Hard To Say Goodbye…



Sedikit PREKUEL dari Catch The Shadow....



“Daddy, bagaimana menurut – mu?? Apa aku cocok mememakai seragam polisi ini??” Aku memakai seragam polisi milik ayahku saat  dia masih menjadi opsir.
“Shane, kamu terlihat seperti vampire di film horror Cina. Baju itu terlalu besar untukmu.” Jawab Irene datar. Usia adikku itu baru 10 tahun. Tapi, sejak Mark pindah ke New York dan Mom meninggal dunia beberapa bulan setelah itu, dia menjadi kehilangan keceriaan.
“Hahaha… aku yakin suatu hari nanti kamu akan memiliki seragam itu sendiri.” Kata Dad sambil mengucak kepalaku.
“Hm… tapi sepertinya kalau sudah besar nanti, aku ingin menjadi penyanyi atau musisi!” Aku memang suka musik. Lebih dari apapun.
“Aku ingin jadi detektif seperti Sherlock Holmes!!” Hanya pembicaraan tentang Sherlock Holmes yang bisa membuat semangat Irene menjadi membara. Karena itu membuatnya merasa dekat dengan Mark. Huh, kenapa adikku sudah jatuh cinta di usia sekecil itu?? meskipun dia tidak pernah bercerita, tapi aku tahu kalau Irene menyimpan perasaan untuk Mark dan begitu sebaliknya.
Dad memeluk kami berdua “Apapun cita – cita kalian berdua, aku akan selalu bangga pada kalian. Karena kalian adalah anakku.”

***
Aku tergelitik mengingat kenangan masa kecilku itu. Dalam hitungan jam, aku akan resmi menjadi anggota kepolisian kota London. Dulu aku selalu memakai seragam Dad. Kini, aku punya seragam sendiri. Aku pasti akan tampak gagah dengan seragam itu.

“Shane, sampai kapan kau akan berdiri didepan cermin?? Dad sudah menunggu di mobil.” Kata – kata Irene dan ketukan pintu menyadarkanku dari lamunan.
“Baiklah, aku akan segera turun.”

Aku bergegas merapikan dasiku. Kemudian aku mengambil jas yang tergantung di pojok kamar. Lalu, aku langsung turun menuju mobil. Aku tidak mau terlambat menghadiri upacara kelulusanku di akademi kepolisian London.

***

“Cheers!!”

Suara itu disusul dengan suara denting gelas bir. Aku merayakan kelulusanku di sebuah café bersama dengan Kian, Nicky, dan Phillip. Mereka bertiga adalah sahabatku. Irene juga ikut bersama kami. Namun, dia seperti memiliki dunia sendiri dengan jus jeruknya.

“Irene, kenapa kamu tidak bergabung dengan kami??” Phillip mencoba mengajak adikku.
“Kamu mau bir??” aku mencoba menawarkan gelas bir-ku pada Irene.
“Kau gila?! Aku ini masih dibawah umur. Bisa – bisanya kau menawarkan minuman beralkohol padaku?!” Eh, aku lupa! Usia Irene lebih muda tiga tahun dariku. “Sudahlah, aku mau ke toilet.” Irene pun akhirnya meninggalkan kami.
“Shane, aku baru menyadari kalau adikmu itu cantik.” Kian tiba – tiba membuka suara. “Dengan mata hazel, rambut coklat sebahu yang sedikit bergelombang. Sedikit sentuhan pada penampilannya, dia bisa sangat sexy!”
“Jangan berpikir macam – macam tentang adikku! Lagipula kamu sudah punya Lucy! Aku lebih merestui adikku bersama seorang pencuri lukisan daripada bersama playboy seperti dirimu!” aku kemudian menenggak kembali bir – ku.
“Benar katamu Shane! Ki, lebih baik Irene bersama Nicky. Sepertinya dia menyukai Irene. Benarkan Nix??” kata Phillip sambil menepuk pundak Nicky.
“Uhuk…” Nicky yang sedang minum bir tersedak. “Apa maksudmu??”
“Ayolah, aku tahu dari caramu menatapnya. Kamu menyukai Irene kan??”

Wajah Nicky langsung memerah. Aku juga sudah tahu sejak awal. Nicky menyukai Irene. Namun, adikku itu menutup hatinya rapat – rapat. Hatinya itu hanya untuk cinta masa kecilnya. Aku akan menghajar Mark jika dia kembali. Berani – beraninya dia membuat Irene menunggunya bertahun – tahun.

***
Ini adalah hari pertamaku dengan panggilan baru . yaitu, Opsir Filan. Aku berjalan menyusuri lorong kantor polisi menuju ruangan Dad. Em… maksudku, Komisaris Filan. Sebelum aku masuk kedalam ruangannya, aku mengetuk pintu dulu.

“Komisaris Filan, apa anda memanggil saya tadi??” Rasanya aneh memanggil orangtuaku sendiri dengan nama belakangnya.
“Duduklah, Shane. Aku memanggilmu sebagai ayahmu.” Aku mengikuti perintah Dad. “Selamat anakku, akhirnya kau menjadi seorang polisi. Aku pikir kamu tidak akan pernah lulus.” Eh, kenapa dia berbicara seperti itu?! “maafkan aku, Shane.”
“Maaf untuk apa, Dad??” aku bingung kenapa Dad tiba – tiba meminta maaf.
“Maaf karena aku sudah memaksamu masuk akademi kepolisian. Aku tahu sebenarnya kamu sangat ingin menjadi musisi.” Dad memainkan ballpoint yang ada di mejanya.
“Tidak apa – apa, Dad! Aku tahu semua ini demi masa depanku. Lagipula, aku mendapatkan sahabat terbaik dan mungkin seorang istri sebagai akibat dari akademi kepolisian.” Aku sedikit menambahkan lelucuan agar Dad tidak terlalu memikirkan masalah cita – citaku dulu.
“Kau sudah punya kekasih, Shane?? Siapa gadis yang telah merebut hati anak tertampan ku??”
“Namanya Gillian Walsh. Dia sepupu Kian, dan tolong jangan ceritakan ini pada siapa – siapa. Terutama Kian!” aku memang menyembunyikan hubunganku ini dari semuanya.
“Baiklah, aku berjanji sebagai ayahmu.” Dad langsung tertawa. Mungkin dia berpikir akhirnya ada seorang gadis yang mau aku dekati. “Oke, Shane. Kita kembali serius.” Dad langsung serius kembali. “Aku memanggilmu kesini karena ingin membicarakan sesuatu denganmu. Sebagai ayah dan anak.”

Aku mengangguk walaupun aku sama sekali belum mengatahui arah pembicaraan ini.

“Jadilah polisi yang selalu patuh terhadap peraturan.” Aku mengangguk. “dan sekarang  yang terpenting. Adikmu membutuhkan seseorang untuk menjaganya. Karena, aku tidak mungkin bisa selalu menjaganya. Jadi, sebagai ayah dan atasanmu, aku menugaskanmu untuk selalu menjaga Irene. Paling tidak sampai dia menemukan seorang pria yang bisa melindunginya. Dan jangan biarkan dia bersama orang yang salah.”
“Baik, aku terima tugas ini, Komisaris Filan. Dengan segenap jiwa dan ragaku.” Aku menjawab dengan gaya polisi. Kami berdua lalu tertawa. “Apa aku boleh kembali ketempat??”

Dad mengangguk. Aku lalu berjalan keluar ruangannya.

“Shane…” Dad memanggilku. Aku menghentikan langkahku. “Apa kau ingat dengan Mark Feehily?? Aku pikir dia mungkin cocok dengan adikmu. Mereka berdua terlihat dekat.” Mereka memang dekat. Tetapi, Dad tidak tahu. Mark itu sewaktu kecil saja sudah sering membuatku kesal. Apalagi sekarang?!
“Aku ingat dia, Dad. Aku tidak tahu apakah mereka berdua cocok atau tidak. Aku bukanlah biro jodoh ataupun Cupid.”
“Hahaha… ya sudah. Kembalilah ketempatmu. Bye Shane…”
“Bye, Daddy…”
“Hei… opsir Filan. Sudah lama kau tidak memanggilku Daddy!”

***
Aku tidak pernah menyangka kalau itu adalah percakapan terakhirku dengan Dad. Siang itu, Dad mendatangi bank yang sedang dirampok. Para perampok itu juga menyandra beberapa pegawai dan nasabah bank itu. terjadi baku tembak antara polisi dan perampok. Dad terkena tembakan tepat di jantungnya hingga nyawanya tidak dapat tertolong. Dad tidak menggunakan rompi anti peluru karena memang dia seharusnya sudah tidak turun ke lapangan lagi.

***
Hujan turun dengan derasnya di hari pemakaman Dad. Sepulangnya dari pemakaman,  beberapa pelayat sudah mulai pulang. Kini, yang tersisa tinggal aku bersama ketiga sahabatku.

“Shane… aaa…” Kian tidak bisa melanjutkan kata – katanya.
“Shane, kau harus kuat untuk Irene.”
“Itu dia maksudku, Phill!”

Aku hanya bisa menghela nafas.

“Hei, Nix. Apa yang sedang kau cari??” Phillip memanggil Nicky. Daritadi Nicky memang terlihat kebingungan mencari sesuatu.
“Bicara tentang Irene, aku sama sekali belum melihatnya sejak pulang dari pemakaman.” Kata – kata Nicky menyadarkanku. Irene menghilang sejak tadi.

Aku langsung berlari mencari Irene keseluruh ruangan dirumahku. Tapi, dia tidak ada dimanapun. Gawat! Dia pasti ke tempat itu!! aku berlari menuju pintu keluar.

“Shane, mau kemana kau??” Tanya Phill, Kian, dan Nicky.
“Aku mau mencari Irene! Dia tidak ada didalam rumah!”
“Di luar hujan deras. Pakai mobilku saja!” kata Kian sambil melemparkan kunci mobilnya.

***
Aku memacu mobil Kian. Irene pasti ketempat itu. Tempat favoritnya untuk menenangkan diri. Saat Mark pergi dan Mom meninggal dia juga pergi kesitu. Tapi, hari ini hujan deras. Dia bisa sakit. Ternyata benar tebakanku. Irene berada di taman tempat pertama kali dia bertemu dengan Mark. Dia sedang duduk di ayunan saat aku datang. Kepalanya tertunduk lesu. Dia sama sekali tidak peduli dengan hujan yang turun. Tanpa memankai payung aku berjalan mendekati Irene. Aku lalu berdiri dihadapannya. Mengusap air mata yang mengalir di pipinya.

“Aku tahu kamu pasti ada disini.”
“Aku tidak menangis. Itu air hujan. Untuk apa kamu menghapusnya??” Irene berbohong. Aku tahu pasti itu air matanya. “Aku ini kuat. Aku tidak akan menangis.”
“Aku ini kakakmu. Aku tahu kamu sedang menangis. Menangis tidak membuatmu lemah. Menangis berguna untuk mengurangi kesedihanmu.”

Irene lalu berdiri dan langsung memelukku.

“Pertama Mark, Mom, dan sekarang Dad. Kenapa semua orang yang aku sayangi meninggalkanku?!” dia menangis dalam pelukanku.
“Ada dua poin kesalahan dalam ucapanmu tadi. Pertama, memang Mom dan Dad tidak akan kembali lagi. Tapi, aku yakin. Mark pasti akan kembali dari New York untukmu. Atau paling tidak untuk menggangguku.” Tangisan Irene sedikit mereda. “Yang kedua, aku akan selalu ada untukmu. Karena aku adalah kakakmu. Aku juga sudah berjanji pada Dad untuk menjagamu. Baik janji sebagai seorang kakak maupun sebagai seorang polisi.”

Irene memelukku dengan erat. Aku tahu tidak ada seorangpun yang bisa menggantikan posisi Dad untuk Irene. Namun, setidaknya aku bisa menjaganya. Aku tidak peduli hujan membasahi tubuh kami. Yang paling penting, aku akan selalu menepati janjiku pada Dad. Oh, Daddy I miss you… It’s too hard to say goodbye to best father that I ever had.