Sligo,
Agustus 1988
Sore di Sligo. Walaupun saat
ini sedang musim panas, tetapi udara Sligo selalu dingin di sepanjang tahun.
Ini tidak menyurutkan keinginan seorang gadis kecil dan kelima Sinar jingga
membuat pipi Mandy ikut memerah. Sepuluh pasang mata anak laki – laki di
depannya terpaku melihatnya. Mereka berlima berusia sebaya dengan Mandy.
“Hahaha… kenapa kalian menatapku seperti itu??” Gadis
kecil itu membalas tatapan kelima sahabatnya itu satu – persatu. Matanya mulai
menyusuri wajah si pirang bertubuh besar. Lalu, beralih ke anak dengan rambut
berponi. Berlanjut ke anak dengan rambut coklat dan pipi merah. Tepat disebelah
anak itu, seorang anak berambut pirang memegang bola di tangannya. Dan yang
terakhir, anak berambut coklat dengan tubuh paling kecil dan satu – satunya
yang memiliki mata berwarna hazel.
***
Sligo,
Agustus 2008
Sepasang mata hazel
memandangi langit pinggiran kota Sligo yang indah. Tubuhnya terbaring diatas
hamparan rumput yang luas. Dia menikmati angin yang berhembus dan menghasilkan
suara lembut di telinganya. Sudah dua puluh tahun berlalu sejak dia berkenalan
dengan Mandy. Waktu b,erjalan sangat cepat hingga dia tidak menyadari Mandy,
dan keempat temannya yang lain sudah dewasa sekarang.
“Shane!!” Suara yang sangat dikenal Shane itu membuat
semua lamunannya buyar.
“Kian?!” Shane langsung duduk dan melihat kearah Kian.
“Kau masih mengenalku??”
“Tentu saja, poni – mu sama sekali tidak berubah.” Jawab
Shane datar.
Wajah Kian memang tidak
banyak mengalami perubahan. Masih tetap dengan mata biru dan bekas luka di
pipinya yang tidak pernah hilang. Begitu juga dengan potongan poni khas Kian.
“Kau pasti sedang memikirkan Mandy??” Tanya Kian.
“Hm… dimana Mark, Brian, dan Nicky??” Shane menjawab
pertanyaan dengan pertanyaan.
“Itu meraka…” Kian menunjuk kearah dua orang berambut
pirang yang sedang bermain sepak bola.
“Hahaha… Hi, Brian!! Tubuhmu masih saja besar!” Teriak
Shane.
“Dan kamu masih saja kecil! Hahaha…” Balas Brian dari
kejauhan.
“Hei, dimana Mark??” Tanya Kian.
“Huh… kau sudah lupa kebiasaan Mark??” Jawab Nicky sambil
menunjuk kesebuah pohon.
Shane dan Kian berjalan
kearah pohon itu. Nicky dan Brian juga mengikuti langkah kedua sahabatnya. Perlahan
mereka melihat kebalik pohon besar itu. Dan ternyata Mark sedang terlelap
disana.
“1… 2… 3…” Nicky
berbisik memberikan aba – aba.
“Mark… ada ayam di kepalamu!!” teriak mereka berempat
serempak.
“Hah, mana?? Mana??” Mark langsung terkejut. Dia panik. Dia
berlari – lari mengelilingi pohon itu untuk menghindari ‘ayam’.
“hahahaha…” Kian, Shane, Nicky, dan Brian tertawa
terbahak – bahak melihat Mark yang panik.
“Heh!!” Mark menghentikan putarannya begitu menyadari
kalau keempat karibnya sedang tertawa terbahak – bahak. “Kita ini sudah dewasa
sekarang. Bertingkahlah seperti orang dewasa.”
“Sudahlah, seharusnya pertemuan kita ini tidak diwarnai
dengan keributan kecil seperti ini.”
“Ki, jangan sok bijak! Kau juga iktu serta tadi.” Mark
sepertinya masih kesal karena kesenangannya di alam mimpi terganggu oleh teman
– temannya.
“Ini seperti dulu. Saat kita bermain petak umpet bersama
Mandy.” Kenang Brian.
***
Sligo,
Agustus 1988
“1... 2… 3…” Mandy menutup matanya.
Mark, Brian, Shane, Kian dan
Nicky berlarian mencari tempat persembunyian masing – masing.
“9… 10… siap atau tidak aku datang!” Mandy mulai mencari
kelima anak itu satu – persatu. “Brian, semak – semak itu terlalu kecil untuk
menyembunyikanmu!” Mandy berteriak begitu menemukan Brian. “Nicky, aku bisa
melihat bola milikmu. Kamu pasti dibalik pohon itu.” Kemudian Nicky. Dan
berikutnya Kian dan Shane juga ditemukan. Namun, setelah beberapa lama, mereka
belum berhasil menemukan Mark. “Mark… dimana dirimu??”
Kelima anak itu berutar –
putar mencari Mark. Mereka sudah mulai kelelahan.
“Sttt… aku mendengar sesuatu!” Mandy lalu mengikuti arah
suara aneh yang berasal dari balik pohon itu. Dan ternyata benar dugaannya,
Mark sedang tertidur dibalik pohon. “1… 2… 3… Mark!! Ada ayam dikepala-mu!!”
***
Sligo,
Agustus 2008
“Aku merindukan Mandy…” Kata Nicky.
“Aku juga…” Mark dan Kian kompak mengangguk.
“Bagaimana denganmu, Shane??” Tanya Brian.
“Sangat…”
Kelima pria dewasa itu
menghembuskan nafas bersama. Mereka
sangat meindukan Mandy. Seorang gadis kecil yang selalu ceria. Sahabat mereka.
“Hei, bagaimana kalau kita mencari kotak rahasia Mandy
yang terkubur itu??” Perkataan Kian mengagetkan mereka semua.
“Maksudmu, kotak harta karun itu??” Mark terlihat bingung
dengan apa yang Kian Maksud.
Kian menjawab pertanyaan
Mark dengan anggukan pasti.
“Kalian masih ingat tempat Mandy menguburnya??”
Pertanyaan Nicky itu dijwaban dengan empat kepala yang mengangguk serempak.
“Baik, ayo kita mulai mencari!” Kian langsung membuat
komando.
***
Sligo,
Agustus 1988
Mandy, Mark, Brian, Nicky,
Shane dan Kian berbaring diatas hamparan rumput. Angin berhembus dengan lembut.
“Hah… aku tidak mau melupakan saat – saat ini…” gumam
Mandy. “hei, aku punya ide! Aku akan membuat sebuah kotak harta karun. Lalu,
aku akan menguburnya. Dan saat aku dewasa nanti, aku akan membukanya. Dengan
begitu, aku tidak akan pernah melupakan kalian.” Mandy terus berbicara
sementara kelima anak laki – laki itu hanya diam menyaksikanya berbicara.
***
Sligo,
Agustus 2008
Kelima pria itu berjalan
memasuki lingkungan hutan. Dari kejauhan, mereka melihat seorang wanita
berambut coklat sebahu. Dia sedang memangku sebuah kotak kayu. Didepannya,
tanah membentuk sebuah lubang bekas penggalian. Mereka merasa sangat mengenal
wanita itu.
“Itu Mandy!!” Teriak mereka serempak.
***
Sligo,
Agustus 1988
Mandy telah berhasil menutup
lubang bekas galiannya. Sedangkan Mark, Kian, Brian, Shane, dan Kian hanya
melihat sahabat mereka itu menggali. Gadis kecil itu lalu menepuk – nepukan
kedua tangannya untuk membersihkan sisa debu yang menempel.
“Nah, sudah selesai! Dengan begini, aku tidak akan
melupakan kalian walaupun aku tumbuh dewasa kelak. Karena kalian adalah sahabat
terbaikku. Teman yang selalu menemaniku saat aku sedang sendiri.”
***
Sligo,
Agustus 2008
Mandy terpaku melihat kotak
yang saat ini ada ditangannya. Kotak yang sudah dua puluh tahun terpendam.
Menyimpan kenangan masa kecilnya. Dia membukanya perlahan. Didalamnya, terdapat
secarik kertas dengan goresan krayon
diatasnya membentuk gambar lima orang anak laki – laki. Yang satu berambut
pirang dengan tubuh besar. Disebelahnya adalah anak dengan rambut berponi.
Lalu, ada anak dengan rambut coklat dan pipi merah. Tepat disebelah anak itu,
seorang anak berambut pirang memegang bola di tangannya. Dan yang terakhir,
anak berambut coklat dengan tubuh paling kecil dan satu – satunya yang memiliki
mata berwarna hazel. Seutas senyum bahagia terlukis dibibir Mandy.
“Aku masih mengingat kalian. Brian si besar. Mark, si
pipi merah tukang tidur. Kian, dengan poni-mu itu. Nicky, si pemain bola. Dan
Shane, pemilik mata hazel yang menawan. Aku menepati janjiku. Aku tidak akan
melupakan kalian. Sama seperti kalian yang selalu ada bersamaku saat aku sedang
kesepian. Teman yang selalu menemaniku saat aku sedang sendiri. Karena kalian
adalah sahabatku. Kalian adalah sahabat imajinasiku…”
THE
END…